Bangladesh Tangkap 2 Tersangka Perdagangan Orang ke Medan Perang Rusia

- SRB Bangladesh menangkap dua tersangka jaringan yang diduga mengirim sedikitnya 30 warga ke Rusia dengan modus tawaran kerja konstruksi bergaji tinggi.
- Korban membayar sekitar 8 ribu dolar AS, lalu paspor dan ponsel disita sebelum mereka dipaksa bergabung militer Rusia setelah pelatihan 21 hari.
- Otoritas mengonfirmasi 20 korban tewas; dari 10 penyintas, dua dirawat di Moskow, enam terjebak di medan perang, dan dua berhasil pulang ke Bangladesh.
Jakarta, IDN Times - Kepolisian elite Bangladesh, Special Response Battalion (SRB), menangkap dua tersangka jaringan perdagangan manusia yang mengirim warga lokal untuk berperang bagi militer Rusia di Ukraina. Komandan Batalion SRB-10, Mohammad Asaduzzaman, mengungkapkan kasus ini dalam konferensi pers di Karwan Bazar, Dhaka, pada Rabu (14/10/2026). Kedua tersangka adalah pendiri Jabale Nur International bernama Mizanur Rahman (55) dan rekannya, Abu Taher alias Lentu (50).
Tim SRB meringkus Mizanur di wilayah Nagarkanda, Faridpur, serta menahan Abu Taher di Kaliganj pada Selasa. Penangkapan ini menindaklanjuti laporan polisi yang diajukan ayah salah satu korban selamat di Kantor Polisi Kaliganj. Aparat keamanan kini memburu anggota sindikat lainnya, yakni seorang warga Bangladesh bernama Mostafizur, seorang pria Rusia bernama Igor, dan seorang perempuan Kyrgyzstan bernama Julia.
1. Korban dijebak tawaran kerja konstruksi sebelum dikirim ke garis depan

Ilustrasi bendera Bangladesh. (pixabay.com/jorono) Jaringan ini memberangkatkan sedikitnya 30 warga Bangladesh ke Rusia pada 7 Mei 2026 melalui tiga perusahaan, yaitu Jabale Nur, RS International, dan TS Group. Para pelaku menjanjikan pekerjaan di perusahaan konstruksi dengan gaji tinggi kepada para korban yang berasal dari keluarga miskin di berbagai distrik, seperti Gopalganj, Mymensingh, dan Faridpur. Demi membiayai keberangkatan itu, tiap korban harus berutang atau menjual aset keluarga untuk membayar biaya sekitar 8 ribu dolar AS (sekitar Rp143 juta).
Setibanya di Rusia, pihak sindikat langsung menyita paspor beserta ponsel milik para pekerja migran tersebut. Bukannya ditempatkan di proyek konstruksi, para korban justru diserahkan secara paksa kepada militer Rusia. Mereka hanya menjalani pelatihan militer selama 21 hari sebelum akhirnya diterjunkan ke tiga bagian medan pertempuran, yakni garis depan, tengah, dan belakang.
"Mereka yang dibawa dari Bangladesh tidak memenuhi syarat untuk bertempur. Mereka tidak memiliki persiapan fisik, pelatihan militer, atau keterampilan taktis untuk peperangan," ujar Asaduzzaman, dilansir The Daily Star.
2. Sebanyak 20 warga Bangladesh tewas akibat dijadikan umpan drone

tentara Ukraina memegang drone Punisher (Maxim Subotin, CC0, via Wikimedia Commons) Temuan awal SRB mengungkap bahwa militer Rusia diduga menjadikan para warga Bangladesh tersebut sebagai umpan untuk memancing dan mendeteksi posisi pasukan Ukraina. Saat pasukan Ukraina meluncurkan serangan drone ke arah para korban, militer Rusia memanfaatkan momen itu untuk menentukan titik koordinat serta jarak musuh.
"Warga Bangladesh dijadikan umpan untuk melacak posisi musuh. Pasukan Rusia menentukan langkah mereka selanjutnya setelah warga Bangladesh menjadi korban serangan drone," kata Asaduzzaman, dilansir Al Jazeera.
Akibat strategi tersebut, 17 warga Bangladesh langsung tewas terkena serangan drone pada hari pertama penerjunan mereka di medan perang. Tiga korban lainnya dilaporkan meninggal dunia dalam waktu yang berbeda setelah insiden hari pertama itu. Secara keseluruhan, otoritas Bangladesh telah mengonfirmasi kematian 20 orang dari total 30 warga yang diberangkatkan pada Mei.
Hingga kini, banyak keluarga di kampung halaman belum bisa melihat atau memulangkan jenazah kerabat mereka yang gugur. Dari 10 korban yang selamat, dua orang sedang menjalani perawatan medis di rumah sakit Moskow dan enam lainnya masih terjebak di medan pertempuran. Sementara itu, dua korban terluka berhasil melarikan diri dan kembali ke Bangladesh.
3. Kesaksian korban selamat yang berhasil pulang ke Bangladesh
Salah satu korban selamat yang berhasil pulang ke Bangladesh adalah Rajon Hossain (21), pemuda asal Kaliganj yang sempat membayar 825 ribu taka (sekitar Rp120 juta) untuk bekerja di Rusia. Ia mengalami patah tulang panggul dan kelumpuhan pada tubuh bagian bawah akibat terkena serangan drone di garis depan. Dalam kondisi terluka parah, Rajon terpaksa merangkak sejauh hampir empat kilometer menuju kamp dan bertahan selama empat hari sebelum mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Rajon akhirnya tiba kembali di tanah air pada 23 Agustus 2026 dengan bantuan Kedutaan Besar Bangladesh. Saat keluarganya menuntut kompensasi atas nasib Rajon, tersangka Mizanur justru memaki, mencoba menyerang, hingga mengancam akan membunuh mereka. Menurut laporan The Sun Malaysia, perekrutan paksa ini juga menimpa warga dari berbagai negara lain, terutama dari kawasan Asia Selatan dan Afrika.
Sejak invasi dimulai pada 2022, Rusia diperkirakan telah merekrut 28 ribu warga asing dari 136 negara serta mengerahkan 14 ribu tentara Korea Utara ke wilayah Kursk. Di sisi lain, Ukraina juga mencatat sekitar 16 ribu warga asing dari lebih 70 negara saat ini bergabung dalam angkatan bersenjatanya. Pada September lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Sidang Majelis Umum PBB dan organisasi Amnesty International mengecam Rusia atas praktik penipuan serta pemaksaan dalam merekrut warga asing, meski tuduhan ini telah dibantah oleh Moskow.






















