- Menggali kebutuhan customer. Mencari tahu masalah yang dihadapi, cara kerja saat ini, dan hasil yang ingin dicapai.
- Menilai peluang pembelian. Memahami kecocokan produk, kesiapan budget, waktu pembelian, dan siapa yang memberikan persetujuan.
- Mempresentasikan solusi. Menunjukkan bagaimana produk bisa membantu kebutuhan yang sudah dibahas.
- Menyusun penawaran. Menjelaskan layanan, harga, jadwal, dan ketentuan yang akan disepakati.
- Melakukan negosiasi. Membahas keberatan customer dan mencari titik temu yang masuk akal.
- Berkoordinasi dengan tim internal. Memastikan tim terkait bisa memenuhi penawaran yang diberikan.
Apa Itu Account Executive? Kenali Jobdesk, KPI, dan Cara Closingnya

Account Executive (AE) adalah bagian tim sales yang menggali kebutuhan calon customer, menawarkan solusi, bernegosiasi, serta mengoordinasikan tim internal hingga tercapai kesepakatan.
AE memanfaatkan CRM untuk mencatat lead, opportunity, pipeline, dan tindak lanjut. Kompetensinya mencakup pemahaman produk, analisis data, proposal, komunikasi, empati, negosiasi, serta kolaborasi.
Kinerja AE diukur lewat target penjualan, win rate, nilai transaksi, dan durasi penjualan. Closing berfokus pada keraguan customer, manfaat relevan, pengambil keputusan, tindak lanjut, dan handover pascapenjualan.
Apa itu account executive? Kalau mendengar istilah ini, kamu mungkin langsung beranggapan "halah, itu paling sales" atau orang yang sibuk menawarkan produk, meeting dengan calon customer, lalu mengejar target penjualan. Gambaran itu memang ada benarnya, tetapi bisa dibilang pekerjaannya masih lebih luas.
Sebagai contoh, kamu ingin membeli software untuk mengelola stok usaha. Sebelum membeli, pasti ada banyak pertanyaan: fiturnya cocok atau tidak, tim perlu belajar berapa lama, dan biayanya sepadan dengan manfaatnya? Account executive membantu menjawab kebutuhan tersebut sampai kamu punya cukup informasi untuk mengambil keputusan.
Nah, supaya lebih kebayang, yuk bahas peran account executive, hubungannya dengan CRM, sampai cara menilai hasil kerjanya!
Table of Content
1. Apa itu account executive? Apakah tugasnya hanya menjual?

ilustrasi negosiasi harga (freepik.com/pressfoto) Singkatnya, Account Executive atau AE adalah bagian dari tim sales yang menangani peluang penjualan, memahami kebutuhan customer, dan membantu prosesnya sampai tercapai kesepakatan. Kata account di sini merujuk pada customer atau perusahaan yang ditangani.
AE menjadi penghubung antara kebutuhan calon customer dan solusi yang ditawarkan perusahaan. Karena itu, pekerjaannya bisa mencakup presentasi, menyusun penawaran, negosiasi, hingga berkoordinasi dengan tim yang akan menjalankan layanan.
Misalnya, sebuah bisnis sedang mencari software stok barang. AE perlu memahami jumlah gudang, kendala pencatatan, dan siapa saja yang akan memakai software tersebut. Informasi ini menjadi dasar untuk menawarkan paket yang sesuai.
Jadi, tanggung jawabnya bisa lebih luas daripada aktivitas penjualan yang hanya menerima pesanan. Ada kebutuhan yang perlu digali, pertanyaan yang harus dijawab, dan proses pembelian yang perlu didampingi.
Meski begitu, AE tidak otomatis punya posisi lebih tinggi daripada semua tenaga sales. Pembagian tugasnya mengikuti perusahaan. Ada yang fokus mencari customer baru, ada juga yang ikut mengembangkan penjualan dari customer lama.
2. Apa bedanya account executive dengan sales dan business development?

ilustrasi negosiasi penjualan software (freepik.com/tirachard) Perlu kamu ketahui, sales adalah fungsi penjualan secara luas, AE merupakan salah satu peran di dalamnya, sedangkan business development berfokus pada pengembangan peluang bisnis. Jadi, ketiganya saling berkaitan.
Biar tidak terasa seperti tiga istilah untuk pekerjaan yang sama, coba lihat perbandingan berikut.
Tabel perbedaan AE, Sales, dan Bisdev
Aspek
Account Executive
Sales
Business Development
Fokus utama
Menghasilkan penjualan
Menangani peluang sampai tercapai kesepakatan
Membuka dan mengembangkan peluang pertumbuhan
Aktivitas
Mencari calon customer, menawarkan produk, dan menjalankan proses penjualan sesuai peran
Menggali kebutuhan, pitching, menyusun penawaran, dan negosiasi
Menjajaki pasar, kemitraan, atau peluang bisnis baru
Hasil yang dituju
Target penjualan tercapai
Customer menyepakati pembelian yang sesuai
Terbentuk peluang bisnis yang layak dikembangkan
Contoh (pada bisnis software)
Menjual software kepada perusahaan
Mendampingi calon customer dari pembahasan kebutuhan sampai kesepakatan
Menjajaki kerja sama dengan asosiasi usaha untuk menjangkau pasar baru
Ada juga istilah business development representative, yang dikenal juga sebagai BDR atau Bisdev. Dalam sebagian tim sales, BDR lebih khusus mencari dan menilai calon customer sebelum peluangnya diteruskan ke AE. Sementara itu, business development secara luas bisa mencakup ekspansi pasar dan kemitraan.
Kalau di sebuah bisnis tugas-tugas ini masih dipegang orang yang sama, itu bisa terjadi. Yang perlu diperjelas adalah siapa yang membuka peluang, siapa yang melanjutkan pembicaraan, dan siapa yang bertanggung jawab setelah transaksi.
3. Apa saja jobdesk account executive dalam menangani customer?

ilustrasi negosiasi AE dengan customer (freepik.com/freepik) Jobdesk account executive adalah mengelola peluang penjualan agar kebutuhan customer bisa mencapai penawaran yang tepat. Supaya prosesnya berjalan, ada beberapa tanggung jawab yang biasanya ditangani AE.
Kembali ke contoh software stok, customer mungkin hanya mengatakan, “Stok kami sering tidak cocok.”
Maka dari itu, AE perlu menggali lebih jauh: apakah barang keluar belum tercatat, data antargudang berbeda, atau proses input terlalu lambat? Dari situ, AE bisa menyiapkan pembahasan yang relevan. Customer pun lebih mudah memahami manfaat produk karena contoh yang diberikan dekat dengan masalah sehari-harinya.
4. Bagaimana account executive menggunakan CRM untuk mengelola peluang?

ilustrasi AE menggunakan CRM (pexels.com/Thành Đỗ) AE tentunya membutuhkan software CRM untuk menyimpan informasi customer, memantau perkembangan penjualan, dan mengatur follow-up. CRM sendiri merupakan singkatan dari customer relationship management.
Bayangkan seorang AE sedang menangani beberapa calon customer sekaligus. Ada yang baru bertanya, ada yang sudah mengikuti demo produk, menunggu proposal, atau sedang meminta persetujuan atasan. Mengandalkan ingatan saja tentu membuat detail penting mudah terlewat.
Di sinilah CRM membantu. Riwayat komunikasi dan perkembangan setiap peluang bisa dicatat agar AE maupun tim terkait memahami apa yang perlu dilakukan berikutnya.
Ada tiga istilah yang sering muncul dalam proses ini:
- Lead: kontak atau calon customer yang berpotensi tertarik.
- Opportunity: peluang penjualan yang sudah dinilai layak untuk ditindaklanjuti.
- Pipeline: kumpulan peluang yang dikelompokkan berdasarkan tahap penjualannya.
Contoh catatan dalam CRM bisa sesederhana berikut.
Informasi
Contoh catatan
Kebutuhan customer
Menyatukan pencatatan stok dua gudang
Stakeholder yang terlibat
Kepala operasional dan pemilik usaha
Tahap penjualan
Demo produk selesai, proposal sedang dipelajari
Hal yang masih dipertimbangkan
Cara migrasi/ memindahkan data dari sistem lama
Tindak lanjut
Menjadwalkan pembahasan dengan tim teknis
Dengan catatan tersebut, AE punya alasan yang jelas saat menghubungi customer. Pembicaraannya bisa langsung membahas pemindahan data, bukan terus-menerus bertanya, “Jadi bagaimana Bapak, apakah bisa dilanjut?”
Ingat, data di CRM harus selalu up-to-date. Sistem ini akan memberikan nilai terbaik jika isinya jujur mencerminkan kondisi nyata, termasuk saat customer menunda pembelian atau memutuskan bahwa produk kita belum pas untuk mereka."
5. Skill apa yang dibutuhkan account executive?

ilustrasi seorang AE mencapai deals dengan klien (vecteezy.com/coco.ratta) AE membutuhkan hard skill untuk menguasai produk dan proses penjualan, serta soft skill untuk memahami dan berkomunikasi dengan customer. Soalnya, dua kemampuan ini dipakai bersamaan dalam pekerjaan sehari-hari.
Hard skill account executive
Hard skill adalah kemampuan teknis yang membantu AE bekerja dengan tepat, seperti:
- Memahami produk: tahu fungsi, batas kemampuan, biaya, dan proses penggunaannya.
- Menggunakan CRM: mampu mencatat informasi, memperbarui peluang, dan membaca laporan.
- Membaca data penjualan: memahami peluang mana yang berkembang dan mana yang tertahan.
- Menyusun proposal: bisa menjelaskan penawaran secara rapi dan mudah dipahami.
- Melakukan perhitungan bisnis dasar: membantu customer membandingkan biaya dan manfaat dengan asumsi yang jelas.
Misalnya, customer bertanya apakah software bisa terhubung dengan sistem kasirnya. AE perlu paham product knowledge atau mengajak tim teknis memeriksa kebutuhan tersebut sebelum memberikan jawaban.
AE juga perlu memahami proses bisnis customer. Untuk software stok, misalnya, pemahaman tentang penerimaan barang, perpindahan antargudang, dan pencatatan penjualan membantu AE memberikan contoh penggunaan yang lebih tepat.
Soft skill account executive
Soft skill membantu AE menghadapi orang dengan kebutuhan dan gaya komunikasi yang berbeda. Beberapa yang penting adalah:
- Mendengarkan aktif: memberi ruang customer menjelaskan masalah sebelum menawarkan solusi.
- Komunikasi: menyampaikan informasi dengan bahasa yang sesuai dengan lawan bicara.
- Empati: memahami alasan keraguan customer atau belum siap membeli.
- Negosiasi: mencari kesepakatan sambil menjaga batas yang ditetapkan perusahaan.
- Kolaborasi dan pengelolaan prioritas: bekerja bersama tim serta mengatur tindak lanjut dengan baik.
Satu hal yang tidak kalah penting adalah kemampuan menghadapi penolakan. Tidak semua calon customer akan membeli produk yang ditawarkan. Ada yang merasa harganya belum sesuai, ada yang menunda proyek, bahkan ada yang akhirnya memilih kompetitor.
Daripada langsung menganggapnya sebagai kegagalan, AE bisa mencari tahu alasan di balik keputusan tersebut. Dari sana, AE dapat mengevaluasi pendekatan penjualan sekaligus menentukan apakah peluang tersebut masih relevan untuk ditindaklanjuti di kemudian hari. Jadi, AE yang baik bukan selalu orang yang paling banyak bicara, tetapi orang yang tahu kapan harus bertanya, mendengarkan, dan memberikan solusi.
6. Apa saja KPI account executive dan bagaimana mengukurnya?

ilustrasi target AE (pixabay.com/Photo Mix) KPI account executive adalah indikator untuk melihat apakah sasaran kerjanya tercapai dan proses penjualannya berjalan efektif.
Lewat KPI, bisnis bisa melihat hasil kerja dengan lebih jelas. Beberapa metrik yang dapat digunakan adalah pencapaian target, win rate, rata-rata nilai transaksi, dan durasi proses penjualan.
Contoh KPI account executive
KPI
Cara menghitung
Apa yang bisa dilhat?
Pencapaian target
Realisasi penjualan ÷ target × 100%
Seberapa jauh target sudah tercapai
Win Rate
Peluang menang ÷ total peluang menang dan kalah × 100%
Berapa banyak peluang yang berhasil menjadi kesepakatan
Rata-rata nilai transaksi
Total nilai deal menang ÷ jumlah deal menang
Besarnya transaksi rata-rata
Rata-rata sales
Total durasi proses deal menang ÷ jumlah deal menang
Waktu rata-rata yang dibutuhkan sampai closing
Supaya kebayang, ada seorang AE memiliki target penjualan sebesar Rp100 juta dalam satu bulan. Setelah periode tersebut berakhir, ia berhasil menghasilkan nilai kesepakatan Rp80 juta dari delapan transaksi.
Berarti, pencapaian targetnya adalah:
Rp80 juta ÷ Rp100 juta × 100% = 80%
Sementara itu, rata-rata nilai transaksinya mencapai Rp10 juta.
Sekarang, anggap AE tersebut menangani 20 peluang yang sudah memiliki hasil akhir. Delapan berhasil menjadi kesepakatan, sedangkan 12 lainnya tidak berlanjut.
Maka, win rate-nya adalah:
8 ÷ 20 × 100% = 40%
Angka tersebut menunjukkan bahwa 40% peluang yang sudah selesai berhasil menjadi transaksi. Namun, jangan buru-buru menilai performa AE hanya dari satu angka.
Misalnya, seorang AE memiliki win rate tinggi tetapi nilai transaksinya relatif kecil. Sementara itu, AE lainnya menangani proyek bernilai besar yang membutuhkan negosiasi lebih panjang. Keduanya tentu perlu dinilai berdasarkan karakteristik pekerjaan dan target masing-masing.
Ada juga kondisi ketika AE sudah melakukan banyak meeting tetapi hanya sedikit peluang yang berlanjut ke tahap penawaran. Nah, daripada langsung meminta AE memperbanyak meeting, perusahaan perlu mencari tahu penyebabnya. Apakah calon customer memang sesuai target pasar? Apakah kebutuhannya sudah dipahami? Atau justru penawaran produknya kurang relevan?
Begitu pula jika proposal sudah banyak dikirim tetapi hanya sedikit yang berhasil closing. Masalahnya bisa terletak pada harga, kecocokan solusi, persaingan, atau proses persetujuan customer. Perlu diperhatikan juga, dasar penghitungan target harus jelas. Nilai kontrak yang ditandatangani, pendapatan yang diakui, dan uang yang sudah diterima perusahaan merupakan hal berbeda.
Jadi, KPI bukan sekadar angka untuk menilai siapa yang paling banyak closing, tetapi juga membantu perusahaan mengetahui bagian mana dari proses penjualan yang perlu diperbaiki.
7. Bagaimana strategi closing account executive agar customer yakin?

Ilustrasi kesepakatan (freepik.com/rawpixel.com) Sudah melakukan meeting, memberikan demo, dan mengirim proposal, tetapi customer masih belum memberikan keputusan? Situasi seperti ini cukup sering terjadi dalam proses penjualan, terutama ketika produk atau layanan membutuhkan biaya besar dan melibatkan banyak pihak.
Nah, strategi closing membantu AE menyelesaikan hal-hal yang masih menjadi pertimbangan customer sebelum mencapai kesepakatan. Namun, closing bukan berarti harus terus mendesak customer agar segera membeli.
Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan.
1. Cari tahu apa yang membuat customer masih ragu
Ketika customer mengatakan, "Harganya mahal," jangan langsung menawarkan diskon. Bisa jadi masalahnya bukan semata-mata harga. Mungkin budget perusahaan mereka belum tersedia, ada penawaran kompetitor yang sedang dibandingkan, atau customer belum memahami manfaat produknya.
Daripada menebak-nebak, coba tanyakan:
"Kalau boleh tahu, yang paling jadi pertimbangan sekarang biaya awalnya atau manfaat yang akan didapat?"
Dari jawaban tersebut, AE bisa menentukan pembahasan yang lebih sesuai.
2. Tunjukkan manfaat yang benar-benar dibutuhkan
Customer biasanya lebih tertarik mengetahui bagaimana produk membantu menyelesaikan masalahnya daripada mendengarkan daftar fitur yang terlalu panjang. Misalnya, sebuah perusahaan kesulitan mengelola stok dua gudang.
Daripada hanya menyebutkan bahwa software memiliki fitur manajemen inventaris, AE bisa menunjukkan demo bagaimana perpindahan barang antargudang dicatat dan dipantau. Kalau manfaatnya bisa dihitung, jelaskan juga asumsi perhitungannya. Jangan membuat janji penghematan yang belum memiliki dasar.
3. Pahami siapa yang mengambil keputusan
Orang yang mengikuti meeting belum tentu memiliki kewenangan untuk menyetujui pembelian. Bisa jadi mereka masih harus berdiskusi dengan bagian keuangan, kepala operasional, atau pemilik perusahaan.
Karena itu, AE dapat bertanya:
"Kalau dari tim internal, biasanya siapa saja yang perlu ikut meninjau proposal ini?"
Dengan begitu, AE bisa membantu menyiapkan informasi yang dibutuhkan setiap pihak. Misalnya, kepala operasional ingin memastikan software mudah digunakan, sedangkan bagian keuangan lebih tertarik mengetahui total biaya berlangganan dan implementasinya.
4. Buat kesepakatan tentang langkah berikutnya
Meeting yang berjalan lancar belum tentu menghasilkan transaksi jika tidak ada tindak lanjut yang jelas. Sebelum pertemuan selesai, AE sebaiknya memastikan apa yang akan dilakukan berikutnya.
Contohnya, customer mengirimkan contoh data gudang, tim teknis melakukan pemeriksaan, lalu hasilnya dibahas bersama pada pertemuan selanjutnya. Cara ini membuat kedua pihak tahu apa yang sedang dikerjakan dan kapan pembicaraan akan dilanjutkan.
5. Sesuaikan penawaran jika memang diperlukan
Bagaimana kalau customer merasa paket yang ditawarkan terlalu besar untuk kebutuhannya? AE bisa membahas pilihan paket lain, jumlah pengguna, atau penerapan layanan secara bertahap jika memang tersedia dan sesuai kebijakan perusahaan.
Namun, setiap perubahan perlu dijelaskan dengan transparan, termasuk dampaknya terhadap fitur, harga, dan layanan yang diterima. Ketika seluruh pembahasan sudah selesai, pastikan kembali ruang lingkup pekerjaan, biaya, jadwal, serta proses persetujuannya.
Ingat, customer yang mengatakan "Kayaknya cocok" belum tentu sudah resmi menyetujui pembelian. Jadi, closing yang baik bukan tentang membuat customer terpaksa mengatakan iya, tetapi membantu mereka mengambil keputusan dengan informasi yang jelas.
8. Setelah closing, sampai mana tanggung jawab account executive?

ilustrasi seorang AE menanggapi klien after sales (pexels.com/Pavel Danilyuk) Kalau pada akhirnya customer setuju membeli dan kontrak berhasil ditandatangani. Apakah pekerjaan AE langsung selesai?
Belum tentu!
Setelah closing, ada proses penting yang disebut handover, yaitu penyerahan informasi dari tim penjualan kepada tim yang akan menangani customer berikutnya. Tujuannya agar janji dan kesepakatan selama proses penjualan benar-benar dipahami oleh tim pelaksana.
Kembali ke contoh pembelian software stok barang, informasi yang perlu diteruskan bisa meliputi:
- Masalah dan kebutuhan utama customer.
- Paket serta fitur yang sudah disepakati.
- Jadwal implementasi dan kebutuhan pemindahan data.
- Kontak penanggung jawab dari kedua pihak.
- Ketentuan khusus yang tercantum dalam perjanjian.
Bayangkan kalau selama meeting AE sudah menjanjikan bantuan pemindahan data, tetapi tim implementasi tidak pernah menerima informasi tersebut. Tentu customer bisa kecewa kan, karena layanan yang diterima tidak sesuai harapan.
Karena itu, handover yang rapi membantu proses kerja sama berjalan lebih lancar tanpa membuat customer harus mengulang seluruh kebutuhannya dari awal. AE juga sebaiknya memperkenalkan tim yang akan mengambil alih dan menjelaskan siapa yang bisa dihubungi jika ada pertanyaan berikutnya.
Lalu, apakah AE masih perlu menangani customer setelah proses tersebut? Jawabannya tergantung struktur perusahaan.
Di beberapa bisnis, AE masih terlibat dalam penambahan layanan atau perpanjangan kontrak. Sementara itu, perusahaan lain menyerahkan hubungan berikutnya kepada account manager atau tim customer success. Ada pula istilah key account management, yaitu pengelolaan customer yang dianggap strategis bagi perusahaan.
Customer strategis tidak selalu berarti customer dengan nilai pembelian terbesar. Potensi kerja sama jangka panjang, kebutuhan layanan, dan kontribusinya terhadap perkembangan bisnis juga bisa menjadi pertimbangan. AE dapat membantu mengenali peluang pengembangan tersebut, tetapi prosesnya tetap membutuhkan koordinasi dengan tim yang bertanggung jawab.
Jadi, pekerjaan account executive sebenarnya tidak hanya soal berhasil menjual produk. Ada kebutuhan customer yang harus dipahami, penawaran yang perlu dijelaskan, hingga kesepakatan yang harus dipastikan bisa dijalankan.
Sekarang, coba bayangkan kalau kamu menjadi customer. Tentu lebih nyaman berhadapan dengan AE yang benar-benar memahami masalahmu daripada seseorang yang terus mengejar keputusan pembelian, bukan?
Nah, di situlah nilai seorang account executive: bukan cuma membantu perusahaan mencapai target sales, tetapi juga memastikan customer merasa yakin dengan solusi yang mereka pilih.





















