Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Purbaya Ajak Investor Beli Saham Usai S&P Pertahankan Rating RI

Purbaya Ajak Investor Beli Saham Usai S&P Pertahankan Rating RI
Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor LPS, Jakarta, Rabu (8/10/2025). (IDN Times/Trio Hamdani)
Intinya Sih
  • S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia, yang menurut Menkeu Purbaya menunjukkan kebijakan fiskal pemerintah berjalan hati-hati dan mampu menghapus sentimen negatif di pasar keuangan.
  • Purbaya menegaskan pemerintah rutin mengevaluasi arah kebijakan fiskal bersama Presiden Prabowo untuk memastikan stabilitas ekonomi dan memperbaiki inefisiensi agar fondasi ekonomi semakin kuat.
  • Ia menilai keputusan S&P lebih mencerminkan kondisi ekonomi terkini dibanding lembaga rating lain yang dinilai terburu-buru menilai sebelum data triwulan pertama dirilis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi bukti pemerintah menjalankan kebijakan ekonomi di arah yang tepat.

Menurutnya, penilaian tersebut menunjukkan kebijakan fiskal Indonesia tetap dijalankan secara hati-hati. Dia meyakini keputusan S&P dapat menghapus sentimen negatif yang sebelumnya membayangi pasar keuangan Indonesia.

"Harusnya ke depan sentimen negatif di pasar modal, di pasar obligasi, maupun di nilai tukar rupiah akan hilang dengan cepat. Jadi ke depan, nah kalau begitu siap-siap beli saham. Kalau punya dolar, jual dolarnya," kata dia di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

1. Kekhawatiran investor soal ekonomi RI dinilai tak terbukti

ilustrasi investor
ilustrasi investor (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Purbaya mengatakan sebelumnya muncul keraguan mengenai kemampuan pemerintah menjaga fondasi ekonomi dan menjalankan kebijakan fiskal. Keraguan itu meningkat setelah muncul kekhawatiran Indonesia bisa mengalami penurunan peringkat kredit.

Namun, menurut dia, keputusan S&P menunjukkan kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Pemerintah juga akan terus menjaga konsistensi kebijakan serta memperbaiki berbagai inefisiensi agar ekonomi Indonesia semakin kuat.

"Dan ke depan kita akan lebih bagus lagi karena kita akan jalankan kebijakan dengan lebih konsisten. Hal-hal yang kalau ada inefisiensi, kita perbaiki terus ke depan. Jadi ekonomi kita akan kuat," tuturnya.

Dia menilai kondisi tersebut dapat mendorong kepercayaan investor kembali meningkat. Menurutnya, investor tidak perlu lagi khawatir terhadap prospek ekonomi Indonesia.

2. Purbaya klaim kebijakan fiskal selalu dievaluasi pemerintah

20251008_190515(2).jpg
Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor LPS, Jakarta, Rabu (8/10/2025). (IDN Times/Trio Hamdani)

Purbaya menegaskan pemerintah selama ini terus mengevaluasi arah kebijakan fiskal secara berkala. Menurutnya, Kementerian Keuangan rutin melihat berbagai kelemahan dalam kebijakan yang berjalan untuk kemudian dilakukan perbaikan.

Dia juga menyebut pembahasan mengenai kondisi ekonomi dan fiskal dilakukan secara rutin bersama Presiden Prabowo Subianto. Dalam pembahasan tersebut, pemerintah memantau perkembangan fiskal dan ekonomi secara berkala.

"Orang kan kesannya seolah-olah kebijakannya liar. Enggak ada itu. Kita diskusikan terus secara reguler. Bapak Presiden memonitor terus kondisi fiskal dan ekonomi secara berkala dan cukup detail," kata Purbaya.

3. Purbaya singgung penilaian lembaga rating lain terburu-buru

Ilustrasi pemberian rating. (Pixabay.com/geralt)
Ilustrasi pemberian rating. (Pixabay.com/geralt)

Purbaya memperkirakan respons pasar terhadap keputusan S&P dapat terjadi dalam waktu cepat. Menurutnya, kekhawatiran utama investor selama ini hanya berkaitan dengan kemampuan pemerintah mengelola fiskal.

Dia juga menyinggung penilaian sejumlah lembaga pemeringkat lain yang sebelumnya lebih berhati-hati terhadap Indonesia. Menurut Purbaya, asesmen tersebut dilakukan sebelum data ekonomi triwulan pertama keluar sehingga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi terbaru.

Oleh karena itu, dia menilai keputusan S&P menjadi penilaian yang lebih sesuai terhadap kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

"Lembaga yang sebelumnya, yang lain, ada kemungkinan mereka offside. Karena mereka melakukan asesmen sebelum data triwulan pertama keluar. Ingat kan itu ya? Saya bilang ya terlalu cepat, bukan mereka salah, ya terlalu cepat. Jadi, ini yang lebih fair saya pikir," ujar dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More