Danantara Genjot Penyerapan Hasil Tambang BUMN oleh LEN-KRAS

- Danantara Indonesia menandatangani MoU dengan MIND ID, LEN Industri, Krakatau Steel, dan Perminas untuk memperkuat hilirisasi mineral kritis serta mendorong pemanfaatannya di industri strategis nasional.
- Rosan Roeslani menegaskan pentingnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global dengan mengolah kekayaan mineral seperti nikel dan tembaga menjadi produk bernilai tambah tinggi bagi teknologi masa depan.
- Melalui forum Advanced Materials Industry Dialogue, Danantara menggandeng kementerian, BUMN, dan akademisi guna menyusun arah pengembangan industri material maju yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times – Danantara Indonesia mendorong pemanfaatan hasil tambang badan usaha milik negara (BUMN) agar tidak hanya berhenti pada proses pengolahan awal, tetapi juga diserap oleh industri dalam negeri.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan material maju (critical minerals downstreaming) antara PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, PT LEN Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), dan PT Perminas (Persero).
Kerja sama itu bertujuan mengoptimalkan supply-offtake mineral kritis dan material maju untuk kebutuhan industri strategis nasional, mengembangkan teknologi bersama, serta mendorong pertumbuhan ekonomi bernilai tambah melalui industri seperti kendaraan listrik, dirgantara, maritim, pertahanan, hingga ketenagalistrikan.
1. Hasil tambang BUMN diarahkan masuk ke industri strategis

Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit P. Santosa mengatakan, pengembangan industri middle streammaterial maju perlu menjadi bagian dari transformasi industri nasional menuju ekonomi berbasis teknologi dan manufaktur bernilai tambah tinggi. Melalui kerja sama tersebut, pasokan mineral kritis dan material maju diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan industri strategis di dalam negeri, tidak hanya berhenti pada pengolahan mineral.
"Kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan kita mengubahnya menjadi ekosistem industri material maju yang menopang baterai, energi bersih, pertahanan, transportasi, dan berbagai teknologi strategis masa depan," ujar Sigit, dikutip dari keterangan resmi, Selasa (14/7/2026).
2. Danantara ingin Indonesia naik kelas dalam rantai nilai komoditas tambang mineral

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani mengatakan, Indonesia perlu menjadi pemain yang lebih berdaulat dalam rantai pasok global. Menurutnya, selama ini nilai tambah dari kekayaan mineral Indonesia justru lebih banyak dinikmati negara lain.
"Sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju. Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth,” ucap Rosan.
Dia mengatakan, komoditas tambang mineral di atas adalah fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, dan energi bersih.
“Namun, selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat," kata Rosan.
3. Danantara gandeng kementerian, BUMN, dan akademisi bahas industri material maju

Upaya tersebut turut dibahas dalam Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing yang mempertemukan kementerian dan lembaga, BUMN, serta akademisi.
Forum tersebut bertujuan memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan dalam merumuskan arah pengembangan industri material maju yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan selaras dengan agenda pembangunan nasional. Selain dialog, kegiatan juga diisi dengan pameran mineral dan produk material maju beserta aplikasinya dari MIND ID, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan DEFEND ID.





















