Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Purbaya: Ekonomi Tak Bisa Hanya Dilihat dari Rupiah
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Purbaya menegaskan ekonomi Indonesia tak bisa diukur hanya dari kurs rupiah, karena indikator lain seperti arus modal asing dan konsumsi domestik menunjukkan prospek yang tetap positif.
  • Arus modal asing mencapai Rp32,8 triliun hingga awal Juni 2026, mencerminkan kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
  • Inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen masih dalam target pemerintah, sementara sektor manufaktur kembali ekspansi dengan PMI naik ke level 50,0 sebagai tanda penguatan aktivitas produksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tidak bisa hanya diukur dari pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, sejumlah indikator lain justru menunjukkan prospek ekonomi domestik masih terjaga.

"Kalau kita lihat di sini, optimisme terhadap Indonesia masih ada. Jadi jangan terlalu melihat hanya satu indikator saja, yakni nilai tukar rupiah," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat menguat tipis pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). Mata uang Garuda menguat 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp18.036 per dolar AS. Sebelumnya pada pagi hari, rupiah juga menguat 22 poin atau 0,12 persen ke Rp18.027 per dolar AS.

1. Aliran modal asing per 3 Juni capai Rp32,8 triliun

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Salah satu indikator utama yang menunjukkan optimisme pasar adalah derasnya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Hingga 3 Juni 2026, Indonesia mencatat net inflow sebesar Rp32,8 triliun.

Sepanjang kuartal II-2026 hingga awal Juni, total inflow bahkan mencapai Rp60,9 triliun.

Purbaya menjelaskan, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu tujuan utama investor asing dengan inflow mencapai Rp99,9 triliun.

"Arus dana tersebut turut mengimbangi tekanan di pasar saham yang masih mencatat aliran modal keluar (outflow) sebesar Rp56,4 triliun.Terlihat bahwa inflow ke SRBI masih cukup signifikan," katanya.

2. Kepercayaan investor dan konsumen masih terjaga

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Menurut Purbaya, derasnya arus modal asing mencerminkan tingkat kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia masih kuat. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia dinilai tetap menarik sebagai tujuan investasi.

Selain itu, aktivitas ekonomi domestik juga tetap solid. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 123,2 atau masih berada di zona optimistis.

3. Inflasi masih dalam rentang sasaran

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Dari sisi harga, inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) mencapai 6,24 persen, pemerintah menilai kondisi masih terkendali.

Kenaikan harga sejumlah komoditas seperti cabai merah dan bawang merah disebut dipengaruhi faktor cuaca yang mengganggu pasokan, sehingga bersifat sementara.

Purbaya menegaskan inflasi nasional masih berada dalam target pemerintah dan Bank Indonesia sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen.

"Inflasi nol itu tidak baik. Tetapi inflasi yang terlalu tinggi juga tidak baik," ujar Purbaya.

Kombinasi inflasi yang terkendali, arus modal asing yang masuk, serta konsumsi domestik yang tetap kuat dinilai menjadi sinyal fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi stabil di tengah tekanan global.

4. Manufaktur kembali ekspansi, tanda ekonomi menguat

Ilustrasi Kondisi Pabrik Sektor Manufaktur Otomotif. (Unsplash/Appliances)

Purbaya juga menyoroti perbaikan aktivitas manufaktur nasional yang kembali berada di zona ekspansi. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa sektor industri pengolahan masih menjadi penopang penting ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Aktivitas manufaktur tercatat kembali masuk zona ekspansi pada Mei 2026. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 dari 49,1 pada bulan sebelumnya.

Kenaikan ini menandai kembalinya aktivitas produksi ke fase ekspansi, setelah sebelumnya sempat berada di zona kontraksi.

Di kawasan ASEAN, PMI Manufaktur regional berada di level 51,5. Sementara sejumlah negara lain juga mencatat ekspansi yang lebih kuat, seperti India di level 55,0, Taiwan 56,1, Amerika Serikat 55,1, Jepang 54,5, dan Korea Selatan 54,8.

Namun, masih terdapat beberapa negara yang berada di zona kontraksi, antara lain Malaysia (49,9), Myanmar (49,3), dan Prancis (49,7).

Kembalinya PMI Indonesia ke level ekspansi memberikan sinyal positif aktivitas produksi dan permintaan domestik masih terjaga. Hal ini sekaligus memperkuat gambaran bahwa ekonomi nasional memiliki ketahanan yang relatif solid di tengah tekanan global.

Editorial Team

Related Article