Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Purbaya Ungkap Sinyal Harga Pertamax Bakal Turun, Ini Alasannya

Purbaya Ungkap Sinyal Harga Pertamax Bakal Turun, Ini Alasannya
Petugas SPBU melayani pengisian Pertamax. (dok. Pertamina)
Intinya Sih
  • Purbaya menyebut harga Pertamax berpotensi turun karena peluang penurunan harga minyak dunia, dipicu sentimen positif dari kemungkinan perdamaian AS dan Iran.
  • Lonjakan harga minyak sempat menekan ekonomi Indonesia hingga pemerintah menaikkan BBM nonsubsidi, namun kini kondisi mulai stabil berkat langkah mitigasi yang efektif.
  • Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berhasil memulihkan kepercayaan pasar, terlihat dari penguatan rupiah, rebound IHSG, serta meningkatnya arus modal asing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax berpotensi turun seiring dengan adanya peluang penurunan harga minyak dunia.

Sinyal penurunan harga minyak itu dipicu oleh sentimen positif dari terbukanya peluang perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dapat meredakan ketegangan geopolitik global. Kondisi tersebut diharapkan mampu memperkuat kembali pondasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

"Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga pondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat,"katanya dalam rapat kerja (raker) bersama Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026).

1. Kenaikan harga minyak telah memberi tekanan buat Indonesia

Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Purbaya menjelaskan lonjakan harga minyak dunia sempat menjadi tekanan berat bagi perekonomian Indonesia. Situasi tersebut memaksa pemerintah untuk mengambil keputusan penyesuaian dengan menaikkan harga BBM nonsubsidi.

Meskipun pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi demi menjaga daya beli, kebijakan menaikkan harga BBM nonsubsidi tersebut diakui sempat memicu respons yang cukup bergejolak di tengah masyarakat.

"Ketika harga minyak dia naik, kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak bersubsidi, walaupun yang bersubsidi kita pertahankan, tapi itu kan sudah menimbulkan kegaduhan," ujar dia.

2. Purbaya klaim RI mulai lewati masa sulit akibat gejolak global

ilustrasi geopolitik Iran dengan global (pixabay.com/Just-a-blonde)
ilustrasi geopolitik Iran dengan global (pixabay.com/Just-a-blonde)

Ketidakpastian global yang melambungkan harga minyak dunia diakui menjadi masa ujian yang sangat berat bagi Indonesia. Namun, Purbaya menilai kondisi saat ini menunjukkan Indonesia sudah mulai melewati fase kritis tersebut.

Langkah mitigasi yang diambil pemerintah dinilai berhasil membuat ekonomi bertahan dan tetap tumbuh dengan baik, meskipun situasinya belum bisa dikatakan ideal. Fokus pemerintah ke depan adalah membenahi pondasi ekonomi yang ada agar pertumbuhan dapat berjalan lebih optimal.

"Jadi keadaan memang bukan ideal, tapi yang jelas, kita terpaksa mengambil tindakan untuk memitigasi dampak global supaya kita masih bisa bertahan, dan Alhamdulillah sampai dengan sekarang masih bisa tumbuh baik kan," paparnya.

3. Kerja sama fiskal dan moneter kembalikan kepercayaan pasar

Ilustrasi penguatan IHSG. (IDN Times/Muhammad Surya)
Ilustrasi penguatan IHSG. (IDN Times/Muhammad Surya)

Dalam beberapa bulan ke belakang, pasar keuangan dalam negeri sempat tertekan. Purbaya menyebutkan pemulihan saat ini terjadi berkat koordinasi dan kolaborasi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.

Indikator perbaikan terlihat dari nilai tukar rupiah yang mulai menguat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali bangkit (rebound), imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang menurun, serta masuknya kembali arus modal asing.

Kondisi itu menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan pasar. Redanya konflik antara AS dan Iran diharapkan bisa terus menjaga stabilitas nilai tukar, membuat biaya modal (cost of funds) menjadi lebih kompetitif, meningkatkan investasi, dan memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi.

"Saya berharap ke depan dengan prospek membaiknya kondisi di perang Iran, dan harga minyak yang lebih rendah, harusnya kita akan lebih baik di paruh kedua tahun ini. Mudah-mudahan hal ini terjadi terus," kata Purbaya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More