RI Kebut EBT di Tengah Gejolak Geopolitik Lewat IndoEBTKE ConEx

- Pemerintah menegaskan percepatan pengembangan energi bersih sebagai fondasi pembangunan nasional, dengan fokus pada kolaborasi global, investasi hijau, dan inovasi teknologi melalui forum IndoEBTKE ConEx 2026.
- PLN menaikkan target porsi EBT dalam RUPTL 2025-2034 menjadi 76 persen serta mengajak sektor swasta dan investor berkolaborasi membangun ekosistem energi hijau yang inklusif dan kompetitif.
- Efisiensi energi dipandang penting untuk mencapai Net Zero Emission, dengan dorongan inisiatif inovatif seperti Energy Efficiency as a Service guna mempercepat adopsi teknologi hemat energi.
Jakarta, IDN Times - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menegaskan, percepatan pengembangan energi bersih merupakan fondasi utama dalam mewujudkan visi pembangunan jangka panjang nasional.
Dia menyebut, Indonesia memiliki ambisi besar dalam sektor energi terbarukan, namun prioritas saat ini adalah mengubah rencana tersebut menjadi aksi nyata. Menurut Eniya, langkah tersebut harus ditempuh melalui kolaborasi global, masuknya investasi hijau, serta pemanfaatan inovasi teknologi.
"Yang terpenting saat ini adalah bagaimana mengubah ambisi tersebut menjadi aksi nyata melalui kolaborasi global, investasi hijau, dan inovasi teknologi," kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Dia menilai, forum IndoEBTKE ConEx 2026 menjadi platform strategis untuk mempertemukan pemangku kepentingan guna mempercepat transisi energi di Indonesia dan kawasan ASEAN.
1. Menghadapi gejolak geopolitik global melalui transisi energi

Penyelenggaraan The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 dijadwalkan pada 2-4 Agustus 2026 di JIExpo Kemayoran. Forum ke-12 itu membawa fokus pada percepatan transisi energi bersih di Indonesia dan kawasan ASEAN melalui penguatan investasi sektor hijau serta inovasi teknologi.
Agenda pengembangan energi terbarukan itu mengemuka di tengah fluktuasi harga energi dunia dan ketidakpastian rantai pasok global. Transisi ke sistem energi berkelanjutan dinilai sebagai bagian dari strategi untuk menjaga ketahanan energi serta stabilitas ekonomi jangka panjang.
Indonesia memiliki potensi sumber daya seperti energi surya, hidro, bioenergi, panas bumi, hingga angin di kawasan Asia Tenggara. Dengan dukungan regulasi dan tren minat investasi, pemerintah berupaya mempercepat implementasi solusi energi berkelanjutan di tingkat domestik maupun regional.
Forum tersebut dirancang sebagai titik temu bagi pejabat pemerintah, pelaku industri, investor, hingga akademisi dari berbagai negara. Rangkaian acara akan membahas sejumlah topik utama, mulai dari strategi pembiayaan inovatif, pengembangan teknologi energi bersih, hingga integrasi sistem energi di kawasan negara berkembang.
2. Dorong kerja sama PLN dan sektor swasta pada energi hijau

PT PLN (Persero) turut menyatakan dukungan terhadap transisi energi melalui peningkatan target EBT dalam RUPTL 2025-2034 menjadi 76 persen. Direktur Manajemen Proyek dan EBT PLN, Suroso Isnandar mengajak pelaku industri dan investor untuk berkolaborasi dalam pencapaian target tersebut.
Perusahaan listrik milik negara itu juga mengharapkan forum IndoEBTKE ConEx dapat memfasilitasi kesepakatan investasi yang konkret.
Sejalan dengan hal itu, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Zulfan Zahar menyampaikan pentingnya pembangunan ekosistem energi bersih yang inklusif dan berdaya saing. Menurutnya, diperlukan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional untuk mendorong inovasi di sektor tersebut.
“The 12th Melalui IndoEBTKE ConEx 2026, kami mendorong sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional untuk membangun ekosistem energi bersih yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing global,” ujarnya.
3. Efisiensi energi diperlukan untuk mencapai net zero emission

Ketua Umum MASKEEI Andhika Prastawa menyebut, efisiensi energi sebagai salah satu elemen dalam upaya pencapaian Net Zero Emission (NZE). Pihaknya mendorong penguatan implementasi efisiensi tersebut melalui berbagai inisiatif.
“Kami mendorong penguatan implementasi efisiensi energi melalui berbagai inisiatif inovatif, termasuk pengembangan platform Energy Efficiency as a Service, yang diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi hemat energi di sektor industri maupun komersial,” kata dia.
Sementara itu, Pertamina New Renewable Energy (NRE) menilai pengembangan portofolio EBT memerlukan kerja sama dengan penyedia teknologi, pengembang, hingga kontraktor. Pihaknya berharap forum kali ini dapat menghimpun wawasan serta inovasi global yang dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk percepatan sektor EBT di Indonesia dan ASEAN.
Penyelenggaraan The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 yang melibatkan pemangku kebijakan, pelaku industri, hingga lembaga keuangan internasional itu diproyeksikan menjadi wadah transformasi sistem energi regional. Fokus utama pertemuan tersebut mencakup upaya peningkatan daya saing dan keberlanjutan energi di kawasan.

















