Menurut analis pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, penguatan dolar AS terhadap rupiah sore ini didorong oleh serangan AS ke Pulau Qeshm, Iran. Pulau tersebut terletak di dekat Selat Hormuz, jalur air vital yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Padahal, pekan lalu Iran dan AS menyatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan kerangka kerja sementara untuk menghentikan konflik. Meski begitu, kesepakatan tersebut belum disetujui secara resmi.
"Media Iran melaporkan, Teheran belum berkomunikasi dengan Washington selama beberapa hari, yang memicu spekulasi negosiasi telah terhenti. Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan terus berlanjut dan menyatakan keyakinan kesepakatan masih dapat dicapai," ucap Ibrahim dalam keterangan resmi.
Di sisi lain, sentimen terhadap rupiah memburuk setelah inflasi Mei 2026 mencapai 0,28 persen secara bulanan (MtM), naik dari posisi April 2026 yang sebesar 0,13 persen.
"Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Secara tahunan Indonesia mencatatkan inflasi 3,08 persen secara tahun kalender," tutur Ibrahim.