Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Benarkah Mendekati Krisis 1998?

Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Benarkah Mendekati Krisis 1998?
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah melemah hingga sekitar Rp17.885 per dolar AS, namun depresiasi sekitar 9 persen ini masih jauh dari level krisis 1998 yang mencapai pelemahan lebih dari 70 persen.
  • Sektor perbankan kini jauh lebih kuat dengan rasio kecukupan modal sekitar 25,87 persen dan pengawasan keuangan diperkuat oleh OJK, LPS, serta KSSK.
  • Utang luar negeri swasta lebih sehat dan terlindung nilai, tetapi tantangan fiskal meningkat karena rasio utang pemerintah terhadap PDB mencapai 41 persen dengan ruang restrukturisasi terbatas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times – Nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir terus mengalami pelemahan, bahkan sempat menyentuh level terendah sekitar Rp17.885 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Berdasarkan data Bloomberg pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah berada di level Rp17.839 per dolar AS, melemah 34 poin dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.

Lalu, apakah pelemahan rupiah saat ini memiliki kemiripan dengan krisis nilai tukar rupiah pada periode 1997–1998?

1. Rupiah tertekan, tapi jauh dari kondisi krisis 1998

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Berdasarkan bahan paparan berjudul “Depresiasi Rupiah dengan Implikasi Moneter, Fiskal, dan Kesejahteraan Masyarakat” yang ditulis oleh Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, disebutkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibandingkan periode krisis hampir tiga dekade lalu.

Meskipun rupiah terus berada di bawah tekanan, skala pelemahan yang terjadi saat ini masih jauh dari kondisi krisis 1998. Pada awal 1997, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp2.400 per dolar AS, kemudian melemah menjadi Rp10.000 per dolar AS pada Mei 1998, dan mencapai Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998. Kondisi tersebut membuat rupiah kehilangan sekitar 76 persen nilainya.

Sebaliknya, rupiah saat ini melemah dari sekitar Rp16.100 per dolar AS pada awal 2025 menjadi sekitar Rp17.700 per dolar AS pada Mei 2026, atau terdepresiasi sekitar 9 persen. Jika kurs Rp10.000 per dolar AS pada Mei 1998 disesuaikan dengan selisih inflasi Indonesia dan Amerika Serikat hingga 2026, nilainya setara sekitar Rp33.000 per dolar AS. Dengan demikian, posisi rupiah saat ini masih jauh dari level krisis.

2. Dari sisi perbankan, rasio kecukupan modal saat ini memadai

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Lebih lanjut, ada perbedaan terbesar terletak pada kekuatan sektor perbankan. Saat krisis 1997/1998, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) industri perbankan rata-rata hanya sekitar 4 persen, jauh di bawah standar Basel I sebesar 8 persen. Selain itu, terjadi ketidaksesuaian mata uang (currency mismatch) yang lebar antara sumber pendanaan dan penyaluran kredit.

Kini, kondisi perbankan jauh lebih sehat. CAR industri perbankan nasional mencapai sekitar 25,87 persen, jauh di atas ketentuan Basel III. Risiko currency mismatch juga jauh lebih terkendali dibandingkan masa krisis.

Dari sisi kelembagaan, Indonesia juga memiliki sistem pengawasan yang lebih kuat. Jika pada 1998 Bank Indonesia menjadi satu-satunya institusi yang mengawasi stabilitas moneter dan sektor keuangan, kini terdapat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang memperkuat koordinasi penanganan risiko.

3. Utang swasta lebih Sehat, tapi fiskal jadi tantangan di tengah pelemahan rupiah

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Lebih lanjut, dalam bahan paparan tersebut juga dijelaskan secara struktur utang luar negeri swasta yang kini lebih sehat. Pada 1997/1998, utang luar negeri swasta mencapai sekitar 68 miliar dolar AS atau setara 32 persen produk domestik bruto (PDB), mayoritas tidak dilindungi nilai (unhedged) dan berjangka pendek.

Sementara itu, pada 2026 utang luar negeri swasta mencapai sekitar 191 miliar dolar AS atau 44 persen dari total utang luar negeri. Namun, porsinya terhadap PDB hanya sekitar 13 persen dan sekitar 85 persen merupakan utang jangka panjang yang telah dilengkapi instrumen lindung nilai (hedging).

Namun ada beberapa tantangan yang perlu dicermati. Salah satunya adalah kondisi fiskal pemerintah yang berbeda dibandingkan periode krisis 1998. Rasio utang pemerintah terhadap PDB saat ini mencapai sekitar 41 persen dengan debt service ratio (DSR) sekitar 49 persen.

Selain itu, porsi utang luar negeri dalam total utang pemerintah saat ini sekitar 25 persen. Berbeda dengan 1998 ketika sebagian besar utang luar negeri merupakan pinjaman program yang dapat direstrukturisasi, saat ini sekitar 87 persen utang pemerintah berbentuk surat berharga negara (SBN), sehingga ruang restrukturisasi lebih terbatas.

Menurut Wijayanto, tekanan yang dihadapi Indonesia saat ini juga berasal dari kondisi global yang berbeda. Jika krisis 1998 lebih banyak dipicu persoalan regional di Asia, tekanan saat ini terjadi hampir di seluruh dunia akibat ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga internasional, dan tensi geopolitik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini belum mencerminkan kondisi krisis seperti 1997/1998.

Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More