Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Ditutup Menguat Tipis, Masih Betah di Rp17 Ribuan per Dolar
ilustrasi uang rupiah (pexels.com/Robert Lens)
  • Rupiah ditutup menguat tipis 0,54 persen ke Rp17.012 per dolar AS, meski masih bertahan di level 17.000-an pada akhir perdagangan Rabu (8/4/2026).
  • Penguatan rupiah dipicu penundaan rencana serangan militer Amerika Serikat ke Iran oleh Donald Trump yang menurunkan harga minyak dan meningkatkan minat pada aset pasar berkembang.
  • Analis menilai rupiah belum mencapai keseimbangan baru karena ketidakpastian geopolitik global masih tinggi, membuat arah pergerakan mata uang ini tetap bergantung pada sentimen eksternal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan Rabu (8/4/2026), meski masih berada di level 17.000-an. Rupiah menguat ke Rp17.012 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat menguat 93 poin atau 0,54 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di posisi Rp17.103 per dolar AS.

1. Mayoritas mata uang bertahan menguat hingga akhir perdagangan

Mata uang di Asia masih bertahan menguat, rinciannya:

  • Bath Thailand menguat 1,51 persen

  • Ringgit Malaysia menguat 1,25 persen

  • Yuan China menguat 0,53 persen

  • Rupee India menguat 0,40 persen

  • Pesso Filipina menguat 1,45 persen

  • Won Korea menguat 1,52 persen

  • Dolar Taiwan menguat 0,66 persen

  • Dolar Singapura menguat 0,62 persen

  • Dolar Hongkong menguat 0,05 persen

  • Yen Jepang menguat 0,85 persen

2. Trump tunda rencana serangan militer ke Iran selama 2 pekan

Pengamat pasar uang, Lukman Leong menjelaskan penguatan rupiah terhadap dolar AS karena Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penundaan rencana serangan militer terhadap Iran selama dua minggu.

Langkah ini memicu penurunan tajam harga minyak dunia dan membuka ruang bagi risk‑on sentiment yang kembali pada aset‑aset pasar berkembang, termasuk rupiah.

3. Rupiah belum membentuk equibilium baru

Namun, Lukman menekankan bahwa rupiah belum akan membentuk keseimbangan baru atau (equilibrium). Karena faktor utama muncul dari ketidakpastian geopolitik masih tinggi, sehingga rupiah masih bisa melemah lebih jauh atau kembali menguat, tergantung arah risiko global dan sentimen investor.

"Belum ada equbilirium ditengah ketidakpastian geopolitik saat ini, rupiah masih bisa melemah lebih jauh atau kembali menguat, saat ini faktor eksternal masih mendominasi," tegasnya.

Editorial Team