Juda menambahkan, sumber krisis kedua biasanya berasal dari tekanan terhadap neraca pembayaran, seperti yang terjadi saat krisis Asia 1997-1998. Ketika itu, pelemahan rupiah membuat banyak perusahaan gagal membayar utang luar negeri.
Wamenkeu: Belum Ada Tanda-Tanda Krisis Ekonomi di Indonesia

- Wamenkeu Juda Agung menegaskan ekonomi Indonesia masih stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda krisis seperti 1997-1998, berdasarkan tiga indikator utama: fiskal, neraca pembayaran, dan sistem keuangan.
- Dari sisi fiskal, defisit APBN hingga April 2026 tercatat Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap PDB dengan pendapatan negara tumbuh 13,3 persen secara tahunan.
- Kepercayaan investor tetap terjaga terlihat dari yield SBN yang stabil di kisaran 6,5–6,7 persen serta kondisi neraca pembayaran dan sistem keuangan yang dinilai masih sehat.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih stabil dan belum menunjukkan indikasi menuju krisis ekonomi seperti 1997-1998.
Menurut Juda, terdapat tiga sumber utama yang biasanya memicu krisis ekonomi di berbagai negara, yakni krisis fiskal, krisis neraca pembayaran, dan krisis sistem keuangan. Namun, hingga saat ini ketiga indikator tersebut belum terlihat dalam perekonomian domestik.
“Banyak kalangan, termasuk di media sosial, mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti tahun 1997-1998. Namun kalau melihat angka-angka tadi, kita masih jauh dari situasi krisis,” ujar Juda dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah 2026 di Balai Kartini, Senin (25/5/2026).
1. Defisit APBN masih dalam kondisi terkendali

Dari sisi fiskal, Juda mengatakan pemerintah masih mampu menjaga defisit anggaran di level aman. Hingga April 2026, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat Rp 164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Rincian defisit terdiri dari pendapatan negara mencapai Rp918,4 triliun atau tumbuh 13,3 persen secara tahunan. Adapun realisasi belanja negara mencapai Rp1.082,8 triliun atau meningkat 34,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
2. Kepercayaan investor terhadap sisi fiskal masih terjaga

Menurut Juda, kepercayaan investor terhadap fiskal Indonesia juga masih terjaga. Hal tersebut tercermin dari pergerakan yield Surat Berharga Negara (SBN) yang masih relatif stabil.
“Kalau investor tidak percaya terhadap fiskal kita, yield akan melonjak. Sekarang masih di kisaran 6,5 persen-6,7 persen. Memang ada kenaikan, tetapi tidak signifikan,” katanya.
3. Belum ada tanda-tanda krisis

Berdasarkan data Bank Indonesia, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit 9,1 miliar dolar AS pada triwulan I-2026. Defisit tersebut dipengaruhi transaksi berjalan dan transaksi modal-finansial yang tertekan akibat perlambatan ekonomi serta tingginya ketidakpastian pasar global. Meski begitu, Juda menilai kondisi neraca pembayaran Indonesia masih relatif sehat dan seimbang.
Adapun sumber ketiga krisis berasal dari sistem keuangan, seperti yang terjadi dalam krisis global 2008 di Amerika Serikat akibat pecahnya gelembung aset di sektor keuangan dan properti.
Menurut Juda, hingga saat ini belum terlihat indikasi tekanan serupa di sistem keuangan Indonesia. Dengan demikian, melalui tiga indikator yang dijabarkannya tersebut, Juda menegaskan bahwa belum terlihat tanda-tanda Indonesia masuk krisis.
“Jadi tiga sumber krisis tersebut belum terlihat dalam data-data yang kita amati sampai hari ini,” tegasnya.

















