Rupiah Keok Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS di Awal Pekan

- Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.995 per dolar AS di awal pekan, tertekan sejak pembukaan pasar dan sempat menyentuh titik terendah sebelum sedikit membaik di akhir sesi.
- Ketegangan geopolitik global, termasuk serangan Rusia ke Kyiv dan ketidakpastian di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran pasar yang menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
- Laporan Fitch Ratings menyoroti rapuhnya ekonomi Indonesia serta risiko penurunan peringkat utang, membuat investor waswas dan memperbesar tekanan pada rupiah yang diproyeksikan masih melemah esok hari.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan awal pekan, Senin (6/7/2026). Rupiah mengalami tekanan sejak pembukaan pasar.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah akhirnya parkir di level Rp17.995 per dolar AS, melemah 32 poin atau sekitar 0,18 persen dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.963 per dolar AS.
Sepanjang hari, mata uang Garuda bahkan sempat tertekan lebih dalam hingga melemah 45 poin sebelum akhirnya sedikit membaik di akhir sesi.
1. Ketegangan geopolitik global picu kekhawatiran pasar
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan situasi politik dunia saat ini semakin memanas setelah ibu kota Ukraina, Kyiv, dihujani rentetan rudal dan pesawat tanpa awak atau drone Rusia pagi ini.
"Tensi geopolitik terus memanas, setelah rentetan rudal dan drone Rusia telah menghujani Ibu kota Ukraina, Kyiv pagi ini," kata Ibrahim.
Menurutnya, serangan terbaru dari Moskow tersebut terjadi tepat sebelum dimulainya konferensi tingkat tinggi atau KTT NATO di Turki yang dijadwalkan bakal dihadiri oleh Presiden AS Donald Trump. Di sisi lain, Ibrahim menyebutkan perhatian pelaku pasar juga tertuju pada risiko keamanan di Selat Hormuz, meskipun pasokan minyak secara fisik mulai membaik.
Pelaku pasar mencermati pernyataan yang saling bertolak belakang antara Washington dan Teheran mengenai masa depan jalur pelayaran strategis tersebut. Hal itu terjadi setelah Trump mengklaim pihak Iran telah menyetujui hampir seluruh poin yang dibutuhkan oleh AS.
Sebaliknya, dia mengatakan pemerintah Iran tetap bersikeras tidak akan melepas kendali mereka atas jalur perdagangan itu maupun menerima syarat khusus terkait hak akses pelayaran.
"Pesan yang beragam ini telah menjaga ketidakpastian tetap tinggi, membatasi penurunan harga minyak mentah bahkan ketika Arab Saudi, UEA, dan produsen Teluk lainnya terus memulihkan ekspor melalui Hormuz," tuturnya.
2. Rapor merah ekonomi RI bikin investor waswas
Ibrahim mengungkapkan sentimen negatif juga datang dari dalam negeri setelah lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, merilis laporan terbaru yang menyoroti rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia.
Kerentanan tersebut dicerminkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah, merosotnya cadangan devisa, serta maraknya fenomena capital outflow atau aliran modal asing yang keluar dari pasar domestik dalam jumlah besar.
"Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi," papar Ibrahim.
Dampaknya, Fitch Ratings memberikan peringatan keras bahwa tekanan yang terjadi terus-menerus ini berisiko menaikkan jumlah utang serta biaya pinjaman yang harus ditanggung pemerintah.
Selain itu, kondisi tersebut juga memperbesar peluang penurunan sovereign rating atau peringkat utang negara Indonesia, yang pada Maret 2026 lalu posisinya masih berada di level BBB, tetapi dengan prospek atau outlook yang sudah diubah menjadi negatif.
3. Rupiah diproyeksikan masih loyo pada perdagangan Selasa
Melihat berbagai sentimen yang berkembang saat ini, pergerakan nilai tukar rupiah dinilai masih akan menghadapi tantangan berat.
Untuk perdagangan Selasa (7/7/2026), Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif atau naik-turun secara tidak menentu. Meski demikian, rupiah diperkirakan kembali melemah pada rentang Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS.


















