Indonesia Butuh Talenta Digital, Telkom Perkuat Kolaborasi dengan NUS

Telkom University dan NUS menandatangani MoU untuk memperkuat pengembangan talenta digital Indonesia melalui kolaborasi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat yang didukung PT Telkom Indonesia.
Kerja sama difokuskan pada program winter dan summer school, jalur graduate certificate, serta riset bersama di bidang logistik yang melibatkan industri dan pemerintah guna memperluas ekosistem pembelajaran global.
Telkom University menargetkan menjadi National Excellence Entrepreneurial University berbasis Safe AI pada 2028 dengan fokus pada pengembangan Safe AI, cybersecurity, serta peningkatan kualitas lulusan berdaya saing internasional.
Jakarta, IDN Times - Telkom University (TelU) dan National University of Singapore (NUS) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Telkom University Jakarta, Senin (6/7). Kolaborasi yang didukung PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk ini menjadi langkah untuk memperkuat pengembangan talenta digital Indonesia melalui kerja sama pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
Kemitraan tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan mitra global dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan transformasi digital sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
1. Indonesia butuh 12 juta talenta digital hingga 2030

Direktur Strategic Business & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, mengatakan pengembangan talenta digital menjadi salah satu kunci agar Indonesia mampu mengoptimalkan potensi ekonomi digital dalam beberapa tahun mendatang.
Menurutnya, pemerintah menargetkan ekonomi digital dapat berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Namun saat ini kontribusinya masih berada di kisaran 7–8 persen.
"Kalau kita melihat bagaimana kita menuju Indonesia Emas 2045, salah satu paradoks yang terjadi itu adalah kita mengharapkan digital economy berkontribusi kurang lebih sampai dengan 20–25 persen terhadap seluruh pertumbuhan ekonomi. Namun saat ini kita ada di angka baru 7–8 persen. Walaupun angka ini sudah membaik, namun hal ini harus kita percepat," kata Seno.
Ia mengungkapkan, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital hingga 2030, sementara pasokan yang tersedia diproyeksikan baru mencapai sekitar 8 juta orang.
"Kebutuhan talenta kita yang kita prediksi sampai 2030 itu ada 12 juta talenta digital. Pada saat ini kita prediksi baru hanya akan memenuhi sampai dengan 8 juta. Artinya tantangan untuk mencapai pertumbuhan menuju Indonesia Emas itu salah satu kuncinya adalah talenta," ujarnya.
Karena itu, Telkom memandang kolaborasi internasional menjadi penting agar mahasiswa Indonesia terbiasa berinteraksi dengan ekosistem global sejak masa kuliah.
2. TelU dan NUS fokus mengembangkan AI, riset, hingga program internasional

Senior Vice Provost NUS, Prof. Bernard C. Y. Tan, mengatakan penandatanganan MoU merupakan hasil dari serangkaian pembahasan intensif yang berlangsung dalam waktu singkat. Menurutnya, kerja sama akan dibangun melalui dua program utama di bidang pendidikan. Pertama, penyelenggaraan winter school dan summer school berbasis immersive learning yang akan digelar bersama Telkom University dan NUS. Kedua, pembukaan jalur graduate certificate, sehingga mahasiswa TelU memiliki kesempatan melanjutkan studi ke program sertifikat pascasarjana NUS.
Selain pendidikan, kedua institusi juga akan mengembangkan riset bersama di bidang logistik sebagai proyek awal sebelum diperluas ke sektor lain, serta memperkuat kolaborasi melalui seminar, lokakarya, dan keterlibatan pemerintah maupun industri.
"Program-program ini akan memberikan perspektif lokal sekaligus internasional kepada mahasiswa, serta menjadi pintu masuk bagi pembelajaran berbasis pengalaman dan keterlibatan langsung dengan industri," ujar Bernard.
"Kami berharap kemitraan ini dapat menjadi jembatan antara Indonesia dan Singapura, untuk menjawab berbagai tantangan di masa depan. Setiap kolaborasi besar selalu dimulai dari satu langkah kecil, dan saya yakin ini adalah awal yang baik," tambahnya.
3. TelU bidik pengembangan Safe AI dan cybersecurity

Rektor Telkom University, Prof. Dr. Suyanto, mengatakan pengembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu fokus utama dalam kerja sama dengan NUS. TelU bahkan menargetkan menjadi National Excellence Entrepreneurial University berbasis Safe AI pada 2028.
"Safe AI adalah teknologi AI yang memiliki keselamatan tinggi. Safe AI adalah singkatan dari Secure, Sustainable, Accurate, Accountable, Fair, Fast, and Explainable Ethical Artificial Intelligence," ujar Suyanto.
Ia berharap kolaborasi tersebut mampu memperkuat kualitas lulusan sekaligus mempercepat pengembangan riset AI yang aman dan bertanggung jawab.
"TelU sebagai lembaga pendidikan tentunya sangat ingin menghasilkan lulusan-lulusan yang sangat menguasai artificial intelligence yang memiliki keselamatan tinggi tersebut," katanya.
Dalam waktu dekat, implementasi kerja sama akan dimulai melalui program Global Weeks yang menghadirkan profesor internasional, termasuk dari NUS, sebagai pengajar di TelU. Selain itu, kolaborasi juga mencakup riset AI, cybersecurity, serta program pengabdian masyarakat. (WEB)


















