Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

PIDI-DIGDAYA x Hackathon 2026, Flip: Ubah Mindset Jadi Nyata

PIDI-DIGDAYA x Hackathon 2026, Flip: Ubah Mindset Jadi Nyata
Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026 pada Kamis (30/04). (Dok Flip)
Intinya Sih
  • Inisiatif PIDI–DIGDAYA x Hackathon 2026 menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam transformasi digital, dengan dukungan Bank Indonesia dan mitra strategis untuk memperkuat talenta inovasi nasional.
  • Prof. Stella Christie menyoroti bahwa kesiapan menghadapi era AI harus berfokus pada keterampilan manusia seperti berpikir kreatif, analitis, kepemimpinan, dan adaptabilitas agar tidak tergantikan teknologi.
  • Rafi Putra Arriyan dari Flip menegaskan inovasi sejati lahir dari pemahaman kebutuhan nyata pengguna, bukan sekadar ide besar, serta pentingnya kolaborasi dan kesabaran dalam menciptakan solusi relevan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times — Transformasi digital Indonesia tidak cukup hanya ditopang oleh teknologi, tetapi harus dimulai dari perubahan cara berpikir. Hal ini menjadi fokus dalam kegiatan Studium Generale Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026 yang mengusung tema Berinovasi untuk Masa Depan, Memberdayakan Talenta Digital.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa melalui inisiatif ini, BI membekali talenta digital muda dengan kompetensi teknis di bidang inovasi digital dan kewirausahaan.

“Ini adalah momentum bagi kita semua untuk berubah, belajar, dan untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk berbagai kepentingan yang bermanfaat,” ujar Perry dalam peluncuran PIDI di Jakarta Kamis (30/4/2026).

PIDI – DIGDAYA x Hackathon 2026 merupakan inisiatif nasional yang diinisiasi oleh Bank Indonesia bersama OJK, industri, dan berbagai mitra strategis untuk mendukung transformasi ekonomi dan keuangan digital di Indonesia.

1. Transformasi digital dimulai dari cara berpikir, bukan teknologinya

Foto Flip 1 - Studium Generale PIDI.jpg
Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026 pada Kamis (30/04). (Dok Flip)

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Stella Christie menekankan, di tengah pesatnya perkembangan AI, penting untuk menyiapkan talenta digital yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga dapat mengevaluasi dan mengarahkannya secara kritis.

Mengacu pada berbagai proyeksi global, termasuk World Economic Forum, diperkirakan hingga 2030 akan tercipta sekitar 170 juta pekerjaan baru. Namun, sekitar 92 juta pekerjaan juga akan terdampak atau hilang. Bahkan, sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja diproyeksikan akan berubah.

“Transformasi digital dimulai dari cara berpikir, bukan teknologinya. Di tengah perubahan yang begitu cepat, kita tidak boleh terjebak pada hype," ujar Prof Stella dalam sesi Studium Generale PIDI bertema Shaping Indonesia’s Digital Minds: Building Talent for an Innovation-Driven Economy.

"Yang perlu dikembangkan adalah keterampilan yang berpusat pada manusia, seperti creative dan analytical thinking, talent management, kepemimpinan, hingga kemampuan beradaptasi. Jika tidak ingin tergantikan dalam jangka pendek, kita harus melatih keterampilan yang tidak mudah direplikasi oleh AI," paparnya.

2. Perjalanan Flip dengan membangun solusi berbasis kebutuhan nyata

Foto Flip 3 - Studium Generale PIDI.jpg
Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026 pada Kamis (30/04). (Dok Flip)

Perspektif tersebut kemudian tercermin dalam praktik di lapangan, salah satunya melalui pengalaman perusahaan teknologi finansial Flip dalam membangun solusi berbasis kebutuhan nyata pengguna.

Rafi Putra Arriyan, Co-Founder Flip membagikan perjalanan Flip dalam sesi “Turning Mindset into Real-World Innovation”. Ia menekankan bahwa inovasi tidak selalu dimulai dari ide besar, tetapi dari pemahaman mendalam terhadap masalah yang benar-benar dirasakan pengguna.

“Flip dimulai dengan memberikan solusi inovatif dari satu masalah finansial yang paling riil, yaitu mengirim uang. Namun seiring kami semakin memahami kebutuhan pengguna, inovasi yang sesungguhnya terjadi ketika kita tetap dekat dengan mereka dan memahami kebutuhan mereka. Dengan begitu, kita bisa menemukan berbagai masalah lain yang berkaitan dengan cara mereka berbelanja hingga menabung.”

Berawal dari solusi sederhana untuk menghilangkan biaya transfer antarbank, Flip terus berkembang dengan mengikuti kebutuhan pengguna yang semakin kompleks, mulai dari pembayaran berbagai kebutuhan, transfer ke luar negeri, hingga fitur yang terintegrasi dengan ekosistem digital di Indonesia.

Saat ini, Flip telah melayani lebih dari 16 juta pengguna di Indonesia. Pertumbuhan ini mencerminkan semakin luasnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan yang praktis dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Banyak inovasi gagal karena hanya menarik secara konsep

Foto Flip 5 - Studium Generale PIDI.jpg
Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026 pada Kamis (30/04). (Dok Flip)

Rafi juga menyoroti bahwa banyak inovasi gagal karena hanya menarik secara konsep, tetapi tidak relevan dengan kebutuhan nyata pasar. Pengalaman awal Flip menunjukkan bahwa memahami “pain point” pengguna jauh lebih penting dibanding sekadar membangun solusi yang terlihat canggih.

“Start small mindset. Dulu kami pikir inovasi berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Ternyata, inovasi yang paling sulit adalah memberikan solusi yang tetap relevan terhadap masalah yang terus berubah. Bagi kami inovasi membutuhkan keberanian, kerendahan hati, kolaborasi, dan kesabaran,” tutup Rafi.

Kombinasi antara pola pikir yang tepat dan eksekusi berbasis kebutuhan nyata menjadi kunci dalam membangun inovasi berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara regulator, pelaku industri, akademisi, dan generasi muda, PIDI – DIGDAYA x Hackathon 2026 diharapkan dapat melahirkan talenta digital unggul serta solusi inovatif yang siap diimplementasikan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More