Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Pecah Rekor Terendah Rp17.613,5, Daya Beli dan Industri Tertekan
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Prof Telisa Aulia Falianty .(Dok pribadi Prof Telisa)
  • Rupiah mencetak rekor terendah Rp17.613,5 per dolar AS, melemah 4,52 persen dalam enam bulan terakhir dan menekan daya beli masyarakat serta aktivitas industri nasional.
  • Setiap pelemahan rupiah satu persen menurunkan daya beli hingga 1,15 persen, menekan indeks manufaktur 1,19 persen, mengurangi penjualan ritel 0,71 persen, serta memperlebar defisit APBN sekitar Rp0,8 triliun.
  • Telisa Aulia Falianty menilai pelemahan rupiah dipicu faktor non fundamental sebesar 69,8 persen dan mendorong penguatan kebijakan ekonomi, cadangan devisa, serta gerakan Cinta Rupiah untuk menjaga stabilitas kurs.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Nilai tukar rupiah mencapai rekor terendah sepanjang sejarah di level Rp17.613,5 per dolar AS, menimbulkan tekanan terhadap daya beli masyarakat dan aktivitas industri domestik.
  • Who?
    Guru Besar FEB Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, melalui kajian “Kupas Tuntas Rupiah”, menjelaskan penyebab dan dampak pelemahan rupiah terhadap ekonomi nasional.
  • Where?
    Kondisi ini dilaporkan dari Jakarta dengan fokus pada perekonomian nasional Indonesia yang terdampak oleh pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat.
  • When?
    Pelemahan tercatat pada Kamis, 15 Mei 2026, setelah dalam enam bulan terakhir rupiah mengalami depresiasi kumulatif sebesar 4,52 persen.
  • Why?
    Penyebab utama berasal dari faktor non fundamental sebesar 69,8 persen serta faktor fundamental seperti terms of trade, cadangan devisa, indeks dolar AS, dan selisih suku bunga.
  • How?
    Pelemahan rupiah menurunkan daya beli hingga 1,15 persen per satu persen depresiasi, menekan manufaktur dan penjualan ritel, serta memperlebar defisit APBN sekitar Rp0,8 triliun per Rp100 pelemahan kurs.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hari Kamis uang rupiah jadi lemah sekali, satu dolar jadi tujuh belas ribu enam ratus tiga belas rupiah. Kata Bu Telisa dari universitas, ini bikin orang susah beli barang dan pabrik juga kena susah. Pemerintah disuruh hati-hati dan kerja sama supaya uang kita kuat lagi. Sekarang semua diminta tetap tenang dan cinta rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah tekanan akibat pelemahan rupiah, kajian Telisa Aulia Falianty menunjukkan adanya ruang optimisme melalui pendekatan kebijakan yang hati-hati dan terkoordinasi. Penekanan pada penguatan cadangan devisa, peningkatan daya saing ekspor, serta gerakan Cinta Rupiah mencerminkan keyakinan bahwa stabilitas ekonomi tetap dapat dijaga tanpa kepanikan berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesRupiah kembali mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah, menembus angka Rp17.613,5 per dolar AS pada Kamis (15/5/2026). Pelemahan ini menimbulkan tekanan signifikan terhadap daya beli masyarakat dan aktivitas industri domestik, jika tidak segera dilakukan mitigasi.

Hal ini terungkap dari dokumen riset dengan tema Kupas Tuntas Rupiah yang diterima IDN Times, yang dilakukan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Telisa Aulia Falianty.

Dalam kajiannya, Telisa menekankan pentingnya memperkuat mata uang nasional melalui pemahaman perilakunya, perbaikan internal, serta peningkatan koordinasi kebijakan antara pemerintah dan sektor terkait.

Menurut riset tersebut, rupiah telah terdepresiasi sebesar 4,52 persen dalam enam bulan terakhir. Dampak dari setiap satu persen pelemahan rupiah antara lain menurunkan daya beli masyarakat, menekan indeks manufaktur, mengurangi penjualan ritel, dan memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Setiap pelemahan rupiah sebesar satu persen dapat menurunkan daya beli masyarakat hingga 1,15 persen, menekan indeks manufaktur sebesar 1,19 persen, dan mengurangi penjualan ritel sekitar 0,71 persen," tegas Telisa.

Sementara itu, untuk dampak terhadap keuangan negara, setiap depresiasi rupiah sebesar Rp100 terhadap dolar AS diperkirakan dapat menambah defisit APBN sekitar Rp0,8 triliun. Adapun target defisit APBN tahun ini sebesar Rp689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan tambahan defisit akibat pelemahan rupiah, total defisit diperkirakan akan melebar hingga sekitar Rp689,9 triliun.

Lebih lanjut, Telisa menyebut bahwa pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan imported inflation, menurunkan daya beli masyarakat, memperlambat produksi manufaktur, menekan penjualan ritel, hingga meningkatkan risk premium di pasar keuangan.

Meski demikian, Telisa menilai kondisi tersebut masih dapat direspons secara hati-hati tanpa kepanikan berlebihan. Ia menekankan pentingnya penguatan kebijakan ekonomi, menjaga stabilitas cadangan devisa, serta mendorong penggunaan rupiah dalam aktivitas domestik.

“Kita harus waspada, namun tidak boleh panik, dan tetap harus berjuang dengan kekuatan dan kekompakan, cinta rupiah, pahlawan devisa, dan kebijakan ekonomi yang tepat,” tulis kajian tersebut.

Berdasarkan kajian, pergerakan rupiah memang sejalan dengan penguatan indeks dolar AS. Namun, pelemahan rupiah tidak semata-mata dipicu faktor global. Melalui analisis variance decomposition, Telisa menemukan bahwa faktor terbesar penyebab pelemahan rupiah berasal dari depresiasi rupiah itu sendiri dan faktor lain di luar variabel utama yang cerminan faktor non fundamental, dengan kontribusi mencapai 69,8 persen.

Sementara itu, faktor fundamental yang meliputi terms of trade (TOT) atau rasio harga ekspor terhadap impor menyumbang pengaruh sebesar 15,1 persen, cadangan devisa 6,3 persen, indeks dolar AS (DXY) 5,1 persen, serta interest rate differential (IRD) atau selisih suku bunga domestik dan global sebesar 3,7 persen.

“Urutan faktor yang menjelaskan pelemahan rupiah adalah faktor non fundamental, fundamental terms of trade, faktor indeks dolar, fundamental cadangan devisa, dan fundamental interest rate differential,” tulis kajian tersebut.

Telisa menilai sejumlah faktor ini masih dapat dikelola pemerintah dan otoritas, terutama melalui penguatan cadangan devisa, menjaga daya saing ekspor, serta memperbaiki selisih suku bunga domestik terhadap luar negeri. Kajian tersebut juga menekankan pentingnya gerakan Cinta Rupiah dan peningkatan devisa nasional sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kurs.

Dari sisi dampak, Telisa memperkirakan depresiasi rupiah mulai memberikan tekanan terhadap konsumsi rumah tangga, sektor manufaktur, hingga fiskal pemerintah. Secara kumulatif, rupiah disebut telah terdepresiasi sebesar 4,52 persen dalam enam bulan terakhir.

Editorial Team