Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Rupiah Tak Mampu Bangkit, Tembus Rp16.925 per Dolar AS

Rupiah Tak Mampu Bangkit, Tembus Rp16.925 per Dolar AS
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan)
Intinya Sih
  • Rupiah ditutup melemah ke level Rp16.925 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat, turun 20 poin atau 0,12 persen dibandingkan hari sebelumnya.
  • Pelemahan rupiah dipicu memburuknya sentimen global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, dan penurunan cadangan devisa.
  • Keputusan Fitch Ratings menurunkan outlook kredit Indonesia turut menekan pasar, sementara pelaku pasar menantikan data pekerjaan AS untuk arah pergerakan selanjutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup makin melemah pada akhir perdagangan Jumat (6/3/2026) sore. Mata uang Garuda parkir di level Rp16.925 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi 20 poin atau 0,12 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Apa saja sentimen yang menyebabkan rupiah terus melemah?

1. Rupiah melemah paling dalam sore ini

Mayoritas mata uang di Asia bergerak variatif. Namun, rupiah melemah paling dalam dibandingkan yang lain.

  • Rupee India melemah 0,08 persen
  • Pesso Filipina melemah 0,39 persen

2. Sentimen negatif dari ketegangan geopolitik global

Pengamat pasar uang Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah memburuknya sentimen global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas serta kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan mata uang Garuda.

"Harga minyak yang kembali naik tinggi dan cadangan devisa yg menurun ikut membebani rupiah," tegasnya.

3. Sentimen dari lembaga pemeringkat ikut pengaruhi pasar

Sentimen dari lembaga pemeringkat global juga turut mempengaruhi pasar. Keputusan Fitch Ratings yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia memang memberi tekanan tambahan.

Namun, langkah tersebut sebenarnya sudah cukup diperkirakan pelaku pasar. Hal ini mengingat sebelumnya Moody’s Investors Service telah lebih dulu memberikan sinyal serupa terkait prospek ekonomi dan fiskal Indonesia.

"Sentimen rupiah pekan depan akan tergantung pada sentimen global pada umumnya, selain itu tentunya data pekerjaan AS malam ini yang mungkin akan lebih kuat mengikuti data-data ekonomi AS yg telah dirilis sebelumnya di pekan ini," tegasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More