Ilustrasi AI (pexels.com/Tara Winstead)
Sektor semikonduktor menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor mencapai 56,4 miliar dolar AS (setara Rp1.020,84 triliun), meningkat 259,4 persen. Capaian tersebut merupakan rekor tertinggi kedua setelah September yang mencatatkan nilai 60,3 miliar dolar AS (setara Rp1.091,43 triliun), seiring meningkatnya investasi berkelanjutan perusahaan teknologi global yang bersaing memimpin industri kecerdasan buatan (AI).
Kenaikan harga produk memori turut memberikan dorongan terhadap nilai ekspor. Memori DDR5 16Gb naik 25 persen dalam empat bulan, dari 40 dolar AS (setara Rp724 ribu) pada Juni menjadi 50 dolar AS (setara Rp905 ribu) pada Oktober, sedangkan harga memori kilat NAND 128Gb meningkat dari 28,8 dolar AS (setara Rp521.280) menjadi 30,6 dolar AS (setara Rp553.860).
Pertumbuhan ekspor juga menjangkau berbagai sektor lainnya. Dari 20 kategori komoditas utama, sebanyak 18 di antaranya mengalami peningkatan, sementara ekspor kapal dan barang rumah tangga mengalami penurunan, dengan pertumbuhan ekspor nonsemikonduktor secara keseluruhan mencapai 34 persen. Pengiriman komputer mencatatkan lonjakan 496,6 persen menjadi 5,85 miliar dolar AS (setara Rp105,89 triliun), didorong perluasan infrastruktur pusat data dan meningkatnya kebutuhan peladen penyimpanan untuk kecerdasan buatan.
Industri otomotif membukukan rekor ekspor Oktober setelah pengiriman mobil meningkat 18,1 persen menjadi 6,55 miliar dolar AS (setara Rp118,56 triliun), terutama berkat tingginya permintaan kendaraan hibrida. Ekspor perangkat komunikasi nirkabel turut bertambah 6,7 persen menjadi 1,95 miliar dolar AS (setara Rp35,30 triliun) seiring peluncuran produk baru Apple, sedangkan minyak olahan meningkat 80 persen menjadi 6,92 miliar dolar AS (setara Rp125,25 triliun) dan petrokimia tumbuh 27,5 persen menjadi 4 miliar dolar AS (setara Rp72,4 triliun) akibat kenaikan harga minyak yang dipicu perang di Timur Tengah.
Ekspor baja mengalami peningkatan 22,3 persen menjadi 2,29 miliar dolar AS (setara Rp41,45 triliun), sementara peralatan listrik tumbuh 74 persen menjadi 1,99 miliar dolar AS (setara Rp36,02 triliun). Sebaliknya, pengiriman kapal turun 43,6 persen menjadi 2,64 miliar dolar AS (setara Rp47,78 triliun) akibat efek basis dari pengiriman anjungan lepas pantai senilai 2,47 miliar dolar AS (setara Rp44,71 triliun) ke Brasil pada tahun sebelumnya.