Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Serangan DDoS di Indonesia Melonjak 62 Persen, Mayoritas Bermotif Uang

Serangan DDoS di Indonesia Melonjak 62 Persen, Mayoritas Bermotif Uang
ilustrasi hacker (pexels.com/Ron Lach)
Intinya Sih
  • StormWall mencatat lonjakan 62 persen serangan DDoS di Indonesia pada kuartal I-2026, dengan lebih dari 280 ribu insiden dan mayoritas bermotif finansial.

  • Sektor telekomunikasi, hiburan, dan keuangan menjadi target utama, sementara durasi serta kompleksitas serangan meningkat melalui metode multi-vector dan taktik carpet bombing.

  • Tren baru low-and-slow probing muncul sebagai ancaman serius karena pelaku menyerang perlahan untuk memetakan kelemahan sistem sebelum melancarkan serangan besar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perusahaan keamanan siber StormWall melaporkan adanya kenaikan serangan DDoS sebesar 62 persen terhadap organisasi di Indonesia pada kuartal I-2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, StormWall telah menangani lebih dari 280 ribu serangan yang menyasar organisasi di tanah air, atau setara dengan kisaran 3.100 serangan setiap harinya.

Sebagian besar serangan di Indonesia, yaitu sekitar 70 persen, didasari oleh motif finansial, dan 41 persen di antaranya memuat tuntutan uang tebusan. Persentase tersebut melampaui rata-rata global yang hanya berada di angka sekitar 30 persen.

“Di Indonesia, serangan DDoS lebih berkaitan dengan uang daripada politik,” kata pendiri dan CEO StormWall Ramil Khantimirov dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6/2026).

Data tersebut menjadi sorotan sebab pada tingkat global, aksi peretasan yang didorong oleh isu politik atau hacktivisme justru lebih mendominasi dibandingkan serangan komersial pada kuartal I-2026 akibat imbas konflik di Timur Tengah.

1. Sektor telekomunikasi hingga keuangan jadi target utama

ilustrasi seseorang menghitung angka-angka keuangan menggunakan kalkulator
ilustrasi keuangan. (pexels.com/olia danilevich)

Mengenai sektor yang paling banyak dibidik, industri telekomunikasi berada di urutan teratas dengan porsi mencapai 26 persen dari total arus serangan. Posisi berikutnya ditempati oleh sektor hiburan dengan raihan 22 persen, lalu diikuti oleh sektor keuangan sebesar 17 persen.

Sektor hiburan di Indonesia terpantau menjadi sasaran yang jauh lebih besar ketimbang tren global, mengingat data global dari StormWall menunjukkan industri hiburan di seluruh dunia hanya mencakup 9 persen dari total sasaran serangan DDoS.

2. Durasi serangan lebih lama dan teknik kian kompleks

ilustrasi serangan siber
ilustrasi serangan siber (freepik.com/rawpixel.com)

Aksi serangan DDoS yang mengarah ke Indonesia tercatat berjalan dalam durasi yang lebih panjang ketimbang rata-rata di dunia. Hanya 62 persen serangan yang bisa rampung dalam waktu kurang dari lima menit, padahal secara global persentasenya mampu menyentuh 78 persen.

Jika ditinjau dari aspek teknis, serangan yang menggunakan metode multi-vector naik 47 persen dari tahun lalu. Saat ini, 62 persen dari keseluruhan serangan telah mengombinasikan dua vektor serangan atau lebih, dan 26 persen di antaranya melibatkan tiga vektor atau lebih. Sementara itu, aktivitas serangan berupa probing melonjak sebesar 81 persen, dan taktik carpet bombing naik sebanyak 76 persen.

3. Tren strategi low-and-slow probing jadi ancaman

Seorang peretas sedang bermain komputer.
ilustrasi serangan siber (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Ramil mengungkapkan adanya perkembangan tren berupa peningkatan aktivitas low-and-slow probing. Metode tersebut merupakan bentuk serangan dengan intensitas rendah yang dijalankan bertahap, di mana penyerang sengaja membatasi volume lalu lintas.

"Pelaku serangan sengaja menjaga volume lalu lintas tetap berada di bawah ambang deteksi untuk mengidentifikasi titik-titik lemah sebelum melancarkan serangan utama. Hal ini menciptakan risiko yang serius bagi organisasi yang tidak memiliki perlindungan DDoS yang andal," kata dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More