Sulitnya Anak Muda Dapat Kerja Layak Jadi Ancaman Ekonomi Indonesia

- Banyak anak muda Indonesia kesulitan mendapat pekerjaan layak meski berpendidikan tinggi, sehingga banyak yang terjebak di pekerjaan bergaji pas-pasan dan tidak sesuai bidangnya.
- Tingkat pengangguran usia 15–24 tahun mencapai 19,4 persen pada Agustus 2023, jauh di atas rata-rata nasional dan menunjukkan terbatasnya lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda.
- Arah investasi lebih condong ke sektor padat modal daripada padat karya, membuat penciptaan lapangan kerja baru minim dan menghambat potensi bonus demografi Indonesia untuk mendorong ekonomi maju.
Kamu mungkin sering mendengar bahwa Indonesia punya bonus demografi yang besar. Jumlah anak muda produktif terus meningkat dan dianggap bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi negara. Akan tetapi, kenyataannya gak semudah itu.
Banyak anak muda justru kesulitan mendapatkan pekerjaan layak meski sudah sekolah tinggi atau punya keterampilan tertentu. Persaingan kerja makin ketat, sementara lapangan pekerjaan berkualitas belum tumbuh secepat jumlah pencari kerja.
Jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya gak hanya dirasakan individu, melainkan juga ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Situasi itulah yang sekarang mulai jadi perhatian banyak ekonom dan pengamat kebijakan.
1. Banyak anak muda terjebak pekerjaan seadanya

Banyak anak muda Indonesia akhirnya bekerja di sektor yang sebenarnya gak sesuai dengan pendidikan atau impian mereka. Kamu bisa melihat sendiri bagaimana lulusan sekolah vokasi bahkan sarjana tetap harus menerima pekerjaan dengan gaji pas-pasan karena sulitnya mencari peluang lebih baik. Kondisi ini membuat banyak orang memilih bertahan daripada mengambil risiko pindah kerja.
Dilansir The Straits Times, cerita seperti yang dialami Sari Sartika Dewi jadi gambaran nyata. Setelah berhasil kuliah sambil bekerja di pabrik hingga lulus sarjana hukum, ia tetap merasa sulit mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Gaji sekitar Rp5,2 juta per bulan memang sudah termasuk kategori pekerjaan kelas menengah menurut Dr Maria Monica Wihardja dari ISEAS – Yusof Ishak Institute, tapi peluang untuk naik level tetap terasa sempit. Kondisi seperti ini akhirnya membuat banyak anak muda memilih bertahan di pekerjaan sekarang meski sebenarnya ingin mencari masa depan yang lebih baik.
2. Tingkat pengangguran muda masih sangat tinggi

Masalah terbesar terlihat dari tingginya angka pengangguran usia muda di Indonesia. Data Statistik Indonesia menunjukkan tingkat pengangguran usia 15 sampai 24 tahun mencapai 19,4 persen pada Agustus 2023. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding tingkat pengangguran nasional sebesar 5,3 persen.
Bahkan jika dibandingkan negara tetangga, posisi Indonesia masih tertinggal. Tingkat pengangguran muda Indonesia lebih tinggi daripada Filipina, Vietnam, maupun Thailand. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia belum mampu menyediakan cukup pekerjaan berkualitas untuk generasi muda yang terus bertambah setiap tahun.
3. Investasi belum banyak menciptakan lapangan kerja besar

Masalah lainnya ada pada arah investasi di Indonesia. Menurut penjelasan Dr Maria Monica Wihardja, investasi asing dan domestik lebih banyak masuk ke sektor padat modal seperti smelter dan industri berbasis teknologi tinggi. Dampaknya, lapangan kerja yang tercipta gak sebanyak sektor manufaktur padat karya.
Padahal sektor manufaktur selama ini dikenal mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Jika investasi lebih banyak mengarah ke industri yang membutuhkan mesin dan teknologi dibanding pekerja manusia, kesempatan kerja bagi anak muda otomatis jadi lebih terbatas. Situasi ini akhirnya membuat banyak pencari kerja harus berebut posisi yang jumlahnya gak sebanding dengan kebutuhan.
4. Pendidikan tinggi belum tentu menjamin masa depan

Dulu banyak orang percaya gelar kuliah otomatis membuka jalan menuju hidup lebih baik. Akan tetapi sekarang situasinya mulai berubah. Banyak lulusan universitas justru kesulitan mencari pekerjaan sesuai bidang mereka karena kebutuhan industri berubah sangat cepat.
Dr Maria juga menilai keterampilan praktis kini lebih penting dibanding sekadar ijazah. Dunia kerja mulai mencari tenaga yang benar-benar siap pakai dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Karena itu, anak muda yang hanya mengandalkan gelar tanpa meningkatkan skill tambahan berisiko kalah bersaing di pasar kerja.
5. Indonesia terancam sulit jadi negara maju

Sulitnya menciptakan pekerjaan layak ternyata punya dampak besar bagi masa depan ekonomi Indonesia. Para ekonom seperti Bhima Yudhistira dari Centre of Economic and Law Studies dan Dr Mohammad Faisal dari Core Indonesia menilai industrialisasi menjadi kunci agar Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Tanpa perluasan industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi Indonesia dikhawatirkan bakal berjalan lebih lambat dalam jangka panjang.
Mereka menekankan bahwa Indonesia harus memperkuat sektor industri sekaligus menciptakan pekerjaan dengan gaji layak dan kualitas baik. Menurut Bhima, Indonesia bahkan perlu tumbuh sekitar 7 sampai 8 persen per tahun supaya bisa menjadi negara maju pada 2045. Jika anak muda terus kesulitan mendapatkan pekerjaan berkualitas, bonus demografi yang seharusnya menguntungkan justru bisa berubah menjadi beban ekonomi besar di masa depan.
Indonesia sebenarnya punya peluang besar untuk menjadi negara maju karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar. Akan tetapi, peluang itu bisa hilang jika anak muda terus kesulitan mendapatkan pekerjaan layak. Lapangan kerja berkualitas, peningkatan keterampilan, serta industrialisasi yang tepat jadi faktor penting untuk menentukan masa depan ekonomi negara.
Bukan cuma pemerintah yang perlu bergerak, dunia pendidikan dan industri juga harus saling menyesuaikan kebutuhan zaman. Jika masalah ini berhasil diatasi, generasi muda Indonesia bisa benar-benar menjadi kekuatan utama yang membawa ekonomi negara naik kelas.



















