Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kilang Saudi Aramco Kena Serang, RI Cari Alternatif Impor LPG

Kilang Saudi Aramco Kena Serang, RI Cari Alternatif Impor LPG
Limbah minyak terbakar di semenanjung Ras Tanura, Kerajaan Arab Saudi pada 1959. (Tequask, Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Pemerintah Indonesia berencana mengalihkan sebagian impor LPG dari Timur Tengah ke negara lain akibat serangan terhadap kilang Saudi Aramco dan meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
  • Serangan drone terhadap fasilitas Ras Tanura milik Saudi Aramco menyebabkan penghentian sementara operasional, meski api berhasil dipadamkan dan tidak menimbulkan kerusakan besar.
  • Kilang Ras Tanura memiliki peran vital dalam pasokan energi global karena kapasitas olah tinggi serta keterkaitannya dengan terminal ekspor minyak terbesar dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan akan mengalihkan sumber impor liquefied petroleum gas (LPG) menyusul serangan terhadap kilang Saudi Aramco serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

​Bahlil menegaskan pemerintah memilih untuk mengalihkan sebagian belanja LPG ke negara-negara yang tidak memiliki keterkaitan dengan konflik di Selat Hormuz.

"Dinamika ketegangan di Timur Tengah juga terkait dengan Saudi Aramco itu juga kena kemarin dinamika di sana. Maka alternatifnya adalah kita switch lagi supaya kita tidak mau ambil risiko. Sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz," katanya dalam keterangan pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

1. RI selama ini pasok 30 persen LPG dari Timur Tengah termasuk Aramco

Pasokan gas subsidi LPG 3 kilogram di Jawa Tengah. (Dok. Pertamina)
Pasokan gas subsidi LPG 3 kilogram di Jawa Tengah. (Dok. Pertamina)

​Bahlil memaparkan kuota impor LPG naik menjadi 7,8 juta ton pada 2026. Dari total kebutuhan tersebut, Indonesia tercatat masih menggantungkan 30 persen pasokannya dari wilayah Timur Tengah, termasuk melalui perusahaan migas Saudi Aramco.

"LPG kita impor 7,3 juta ton per tahun dan tahun ini dinaikkan menjadi 7,8 juta ton, 70 persennya sekarang kita ambil dari Amerika, 30 persennya dari Middle East, dari Saudi Aramco," tuturnya.

​Meski porsi terbesar atau sekitar 70 persen saat ini sudah dialihkan ke Amerika Serikat (AS), Bahlil menilai ketergantungan pada wilayah yang bersinggungan dengan Selat Hormuz tetap memiliki risiko tinggi. Oleh karena itu, dilakukan diversifikasi sumber pasokan.

2. Kilang Saudi Aramco terkena serangan drone

potret sisa-sisa drone dan rudal Rusia yang ditembak jatuh rudal Patriot Ukraina, salah satunya disebut sebagai sisa-sisa rudal hipersonik Rusia Kinzhal
potret sisa-sisa drone dan rudal Rusia yang ditembak jatuh rudal Patriot Ukraina, salah satunya disebut sebagai sisa-sisa rudal hipersonik Rusia Kinzhal (commons.wikimedia.org/Kyiv City State Administration)

Saudi Aramco terpaksa menghentikan operasional kilang Ras Tanura untuk sementara waktu setelah adanya serangan drone pada Senin (2/3/2026) waktu setempat.

Mengutip laporan Saudi Press Agency via Bloomberg, puing-puing dari dua pesawat tak berawak milik Iran yang berhasil dicegat memicu kebakaran kecil di lokasi. Namun otoritas setempat memastikan api sudah dapat dipadamkan.

Sebagaimana diberitakan NDTV, insiden itu memperparah ketegangan di kawasan. Serangan itu merupakan aksi balasan Teheran atas operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.

3. Peran krusial Ras Tanura bagi pasokan energi dunia

Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)
Ilustrasi hulu migas (Dok. SKK Migas)

Fasilitas di pesisir Teluk itu bukan sekadar kilang tertua milik Aramco, melainkan salah satu yang paling canggih di Timur Tengah. Berdasarkan data Reuters, kilang ini mampu mengolah hingga 550 ribu barel minyak mentah dan kondensat setiap harinya.

Selain menjadi pusat produksi solar untuk pasar Eropa dan bensin, kompleks tersebut terintegrasi langsung dengan terminal ekspor minyak mentah terbesar di dunia.

Keberadaan tangki penyimpanan raksasa dan dermaga pemuatan di sana menjadikan Ras Tanura sebagai titik nadi pengiriman energi utama menuju Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat (AS).

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta
Follow Us

Latest in Business

See More