Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tips Ekspansi Bisnis ke Daerah, MoM Ingatkan Efek Copy-Paste Jakarta
Unlocking Growth in Second Tier Cities Through Market Strategy and Local Demands” pada Indonesia Summit 2026 by IDN Times di Tribrata, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026). (IDN Times/Zahita Hilman)
  • MoM menyoroti kesalahan umum organisasi yang menyalin strategi Jakarta saat ekspansi ke kota lapis kedua tanpa memahami karakter dan kebutuhan lokal.
  • Liliane Melissa menjelaskan bahwa pendekatan seragam membuat program sukses di Jakarta tidak selalu diterima baik di daerah lain karena perbedaan ritme dan ekosistem.
  • Saat ini MoM menerapkan strategi pemberdayaan daerah dengan riset, dialog masyarakat, dan kolaborasi talenta lokal untuk memperkuat potensi unik tiap kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada kakak namanya Liliane dari kelompok MoM. Dulu mereka mau bikin kegiatan di kota lain, tapi caranya sama kayak di Jakarta. Ternyata gak semua kota suka cara itu. Sekarang mereka belajar dulu tentang orang dan kebutuhan di tiap kota. Mereka mau bantu tiap tempat dengan cara yang cocok buat sana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Komunitas profesional Minutes of Manager (MoM) menilai salah satu kesalahan terbesar yang kerap dilakukan organisasi maupun perusahaan saat berekspansi ke kota lapis kedua, yaitu menyalin mentah-mentah strategi yang berhasil di Jakarta.

Head of Interregional Synergy MoM, Liliane Melissa, mengatakan setiap kota memiliki karakteristik, kebutuhan, dan ekosistem berbeda, sehingga pendekatan yang berhasil di ibu kota belum tentu relevan diterapkan di wilayah lain.

Hal itu disampaikan Liliane dalam sesi “Unlocking Growth in Second Tier Cities Through Market Strategy and Local Demands” pada acara Indonesia Summit 2026 by IDN Times di Tribrata, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).

Menurut Liliane, memahami kebutuhan lokal menjadi langkah penting sebelum mengembangkan komunitas maupun bisnis di kota-kota lapis kedua. Sebab, setiap daerah memiliki kekuatan dan tantangan yang berbeda.

“Kita pakai standar kita sendiri yang di Jakarta buat kita apply ke kota lain, tapi kita gak pernah nanya, definisi kaya bagi kalian itu apa sih?” ucap dia.

Liliane mengatakan, pendekatan tersebut pernah dilakukan MoM saat memperluas jangkauan komunitasnya ke berbagai daerah. Akibatnya, sejumlah program yang berhasil di Jakarta tidak selalu mendapat respons yang sama ketika diterapkan di kota lain.

“Yang kedua, copy-pasting Jakarta’s Playbook. Kita udah pernah mencoba ini dan kita, of course, jadi kayak turnover-nya tinggi. Apalagi kita komunitas ya, komunitas orang-orang yang kerjanya volunteer,” jelas dia.

Saat ini MoM memiliki lebih dari 20 ribu anggota dan penerima manfaat yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bali, Yogyakarta, dan Surabaya.

Liliane menilai setiap kota memiliki ritme dan kebutuhan yang berbeda, sehingga peran komunitas pun tidak bisa disamaratakan.

Dengan demikian, sebelum membuka ekspansi ke kota baru, MoM mengawali prosesnya dengan riset, membangun dialog dengan masyarakat lokal, hingga mencari talenta daerah yang dapat membantu mengembangkan komunitas di wilayah tersebut.

“Anggap saja kita gak tahu apa-apa. Dengerin aja dari mereka sebenarnya apa sih yang mereka butuhin,” ujar dia.

Liliane pun menegaskan pendekatan yang kini digunakan MoM adalah regional empowerment atau pemberdayaan daerah. Melalui pendekatan tersebut, komunitas tidak berupaya mengubah karakter suatu kota, melainkan membantu memperkuat keunggulan yang telah dimiliki masing-masing wilayah.

For

You

KDM Tegaskan Sekolah Maung Bukan Mau Ciptakan Kesenjangan Baru

17 Jun 2026, 14:34 WIB

Amir Faisol

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) dalam acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Intinya Sih

Timeline

5W1H

Gini Kak

Sisi Positif

  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan Sekolah Maung dibentuk bukan untuk menciptakan kesenjangan, melainkan wadah bagi siswa berprestasi tinggi agar bisa berkembang dan berkompetisi secara sehat.

  • Dedi menjelaskan sistem zonasi sebelumnya membuat komposisi siswa di sekolah favorit menjadi beragam, sehingga muncul berbagai persoalan yang mendorong lahirnya kembali sekolah unggulan seperti Sekolah Maung.

  • Pemerintah tetap memberi perhatian pada siswa yang masuk melalui zonasi dengan menyediakan beasiswa di sekolah swasta, memastikan akses pendidikan tetap merata bagi semua kalangan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Share Article

Jakarta, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memastikan Sekolah Manusia Unggul (Maung) di Jawa Barat melaksanakan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) bukan untuk menimbulkan kesenjangan sistem pendidikan di daerahnya, melainkan ruang bagi siswa dengan kemampuan akademik tinggi untuk berkembang dan berkompetisi.

Dedi mengatakan, sejak dahulu setiap daerah memiliki sekolah yang dikenal sebagai sekolah favorit. Di tingkat kabupaten, sekolah tersebut umumnya adalah SMA Negeri 1, sedangkan di Kota Bandung dikenal SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 5.

“Di situ berkumpulnya anak-anak yang punya IQ yang tinggi, punya nilai akademis yang tinggi. Nah, sehingga mereka bisa berkumpul pada satu sekolah untuk berkompetisi sama-sama pinter,” kata Dedi dalam program Indonesia Summit 2026 by IDN Times, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Menurut dia, penerapan sistem zonasi pada tahun-tahun sebelumnya membuat komposisi siswa di sekolah favorit menjadi lebih beragam. Dengan zonasi, siswa berprestasi, siswa dengan kemampuan akademik biasa, hingga siswa yang memiliki masalah kedisiplinan berada dalam satu lingkungan yang sama.

Dedi menilai, kondisi tersebut memunculkan berbagai persoalan di sejumlah sekolah yang sebelumnya dikenal sebagai sekolah unggulan.

Oleh karena itu, Pemprov Jawa Barat kembali memberikan ruang bagi siswa dengan prestasi akademik tinggi untuk bersekolah di sekolah unggulan yang disebut Sekolah Maung.

Dia menegaskan, siswa yang secara wilayah atau zonasi berhak masuk ke sekolah tersebut tetap akan mendapatkan perhatian dari pemerintah.

"Untuk itu saya punya kebijakan, sudah, anak-anak yang punya kepandaian yang lebih, kalau dulu NEM (nilai)-nya paling tinggi, tetap masuk di sekolah-sekolah favorit, disebutnya Sekolah Maung. Yang lain, itu masuk di sekolah yang lainnya," kata dia.

"Tetapi anak-anak yang berhak masuk ke Sekolah Maung karena zonasi, tetap dia diberikan beasiswa di sekolah swasta oleh pemerintah," lanjut dia.

IDN menggelar Indonesia Summit (IS) 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Editorial Team

Related Article