BPS Beberkan Alasan Bensin Masih Sumbang Inflasi meski Harga BBM Turun

- BPS menyebut bensin tetap inflasi pada Juli 2026 karena rata-rata harganya lebih tinggi daripada Juni, dipengaruhi harga Pertamax yang masih sekitar Rp12.000 per liter pada 1–9 Juni.
- Kelompok transportasi mengalami inflasi bulanan 0,52 persen dengan andil 0,06 persen; bensin menjadi pendorong terbesar sebesar 0,08 poin persentase, disusul sepeda motor dan oli mesin.
- Kelompok pendidikan mencatat inflasi 0,55 persen dengan andil 0,03 persen, terutama dari kenaikan biaya SD, TK, dan bimbingan belajar; komponen pendidikan lain berkontribusi relatif kecil.
Jakarta, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan alasan komoditas bensin masih mencatat inflasi secara bulanan pada Juli 2026, meski harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi telah diturunkan pada 1 Juli 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, inflasi bensin terjadi akibat efek basis perbandingan pada Juni 2026. Pada periode 1–9 Juni 2026, harga Pertamax masih berada di kisaran Rp12.000 per liter sebelum mengalami penyesuaian harga.
"Karena adanya efek basis tersebut, rata-rata harga bensin pada Juli 2026 masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada Juni 2026. Itu sebabnya bensin masih mengalami inflasi secara bulanan," ujarnya dalam konferensi pers BPS, Senin (3/8/2026).
1. Kelompok transportasi mengalami inflasi 0,52 persen

Ia menjelaskan kelompok transportasi mengalami inflasi 0,52 persen secara bulanan (month to month/mtm) dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,06 persen.
"Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah bensin dengan andil 0,08 poin persentase, diikuti sepeda motor serta pelumas atau oli mesin yang masing-masing menyumbang 0,01 poin persentase," jelasnya.
2. Kelompok pendidikan catat inflasi 0,55 persen

Selain bensin, kelompok pendidikan juga mencatat inflasi 0,55 persen pada Juli 2026 dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,03 poin persentase.
Inflasi pada kelompok pendidikan terutama didorong oleh kenaikan biaya sekolah dasar (SD), biaya sekolah taman kanak-kanak (TK), dan biaya bimbingan belajar. Ketiga komoditas tersebut masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 poin persentase.
3. Komponen sekolah pendidikan yang tak banyam sumbang ke inflasi

Pada awal tahun ajaran baru, sejumlah komponen pendidikan lainnya juga mengalami inflasi, meski kontribusinya terhadap inflasi nasional relatif kecil. ⁷
Komponen tersebut meliputi biaya sekolah menengah pertama (SMP), biaya kuliah akademi/perguruan tinggi, biaya sekolah menengah atas (SMA), taman pendidikan Al-Qur'an (TPQ), kelompok bermain (playgroup), pendidikan anak usia dini (PAUD), kursus bahasa asing, serta kursus matematika.



















