Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Klaim Venezuela Serahkan 50 Juta Barel Minyak ke AS

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Minyak senilai Rp46 triliun akan diserahkan ke AS.
  • Pemerintah Venezuela menolak campur tangan AS.
  • Rencana investasi raksasa migas AS di Venezuela.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintah sementara Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak ke negaranya. Pengumuman tersebut disampaikan pada Selasa (6/1/2026) malam waktu setempat, menyusul operasi militer AS yang menggulingkan Nicolas Maduro dari kekuasaannya. Minyak yang terkena sanksi ini rencananya akan dijual sesuai harga pasar global untuk menghasilkan pendapatan bagi kedua negara.

Trump menyatakan, hasil penjualan minyak akan berada di bawah kendali langsung presiden AS demi keuntungan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat. Ia telah menginstruksikan Menteri Energi AS Chris Wright untuk segera mengeksekusi rencana pemindahan kargo tersebut menggunakan kapal penyimpanan menuju dermaga AS.

1. Minyak yang diambil alih bernilai hingga Rp46 triliun

ilustrasi pengeboran minyak
ilustrasi pengeboran minyak (unsplash.com/Zbynek Burival)

Minyak yang akan ditransfer diperkirakan bernilai antara 1,65 miliar hingga 2,75 miliar dolar AS (sekitar Rp27-46 triliun) berdasarkan harga pasar saat ini. Cadangan minyak tersebut berasal dari penyimpanan darat dan kapal tanker yang sebelumnya tertahan akibat blokade AS. Trump menyebut minyak yang disita itu memiliki kualitas tinggi dan siap untuk diproses lebih lanjut di fasilitas penyulingan Teluk AS.

Kesepakatan ini akan mengalihkan pasokan minyak mentah yang sebelumnya ditujukan untuk China sebagai pembeli utama Venezuela dalam satu dekade terakhir. Pengalihan kargo memaksa Venezuela memutus rantai pasok ke Asia demi memenuhi tuntutan Washington untuk membuka akses bagi perusahaan AS.

Meskipun jumlah 50 juta barel terdengar besar, angka tersebut hanya setara dengan konsumsi minyak AS selama 2,5 hari. Analis pasar menilai masuknya pasokan baru mungkin menurunkan harga minyak dunia sesaat, tapi tidak akan berdampak drastis pada harga bensin di tingkat konsumen AS. Harga minyak mentah AS tercatat turun sekitar 1,3 persen menjadi 56,39 dolar AS (sekitar Rp946 ribu)per barel segera setelah pengumuman tersebut.

"Minyak ini akan dijual pada harga pasarnya, dan uang itu akan dikendalikan oleh saya, sebagai presiden Amerika Serikat, untuk memastikan uang itu digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat," tulis Trump di media sosialnya, dilansir CNBC.

2. Pemerintah Venezuela tolak campur tangan AS

bendera Venezuela
bendera Venezuela (unsplash.com/aboodi vesakaran)

Trump mengklaim penyerahan aset minyak telah disetujui oleh otoritas sementara Venezuela pasca penangkapan Maduro. Klaim itu muncul di tengah ketidakpastian politik, di mana AS sebelumnya menyatakan akan menjalankan pemerintahan Venezuela dengan dukungan pejabat tinggi AS.

Namun, Delcy Rodriguez yang dilantik sebagai presiden sementara Venezuela membantah adanya campur tangan asing dalam pemerintahan. Dalam pidato televisi, ia menegaskan kedaulatan Venezuela tetap berada di tangan pemerintah konstitusional dan rakyatnya, bukan agen asing.

Hubungan antara Rodriguez dan Washington tetap tegang meskipun sempat ada sinyal perdamaian awal. Rodriguez menetapkan tujuh hari masa berkabung bagi tentara yang tewas dalam serangan AS dan menyebut operasi tersebut sebagai penculikan ilegal terhadap kepala negara.

"Pemerintah Venezuela yang berkuasa di negara kami, dan bukan orang lain. Tidak ada agen asing yang memerintah Venezuela," tegas Rodriguez, dilansir Deutsche Welle.

3. Rencana investasi raksasa migas AS di Venezuela

ilustrasi pengeboran minyak
ilustrasi pengeboran minyak (unsplash.com/Sheng Hu)

Gedung Putih dijadwalkan menggelar pertemuan dengan eksekutif perusahaan minyak terbesar AS, termasuk Exxon Mobil, Chevron, dan ConocoPhillips. Pertemuan bertujuan membahas potensi investasi miliaran dolar AS untuk merevitalisasi sektor energi Venezuela yang terbengkalai.

Saat ini, Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi aktif di Venezuela berkat lisensi khusus. Sementara itu, aset milik Exxon dan ConocoPhillips telah dinasionalisasi pada masa pemerintahan Hugo Chavez di pertengahan tahun 2000-an.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia mencapai 300 miliar barel, tapi produksinya anjlok lebih dari 70 persen sejak akhir 1990-an. Pengamat memperingatkan, pemulihan produksi minyak Venezuela ke level optimal membutuhkan waktu bertahun-tahun dan modal sangat besar. Minyak mentah Venezuela yang berjenis berat juga memerlukan proses penyulingan yang kompleks dan mahal.

Selain masalah teknis, perusahaan minyak AS juga menuntut kepastian hukum dan kebijakan yang stabil sebelum menanamkan modal kembali. Sejarah sengketa kompensasi yang belum tuntas, seperti klaim ConocoPhillips senilai 8,7 miliar dolar AS (sekitar Rp145 triliun), menjadi salah satu hambatan utama dalam normalisasi hubungan bisnis tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Gaji Pramugari di 6 Maskapai Penerbangan Indonesia

08 Jan 2026, 22:18 WIBBusiness