Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Presiden Venezuela Ditangkap AS, Strategi China di Amerika Latin Terancam

Presiden Venezuela Nicolás Maduro (Instagram.com/nicolasmaduro)
Presiden Venezuela Nicolás Maduro (Instagram.com/nicolasmaduro)
Intinya sih...
  • AS menangkap Maduro, memaksa China menghadapi perhitungan ulang strategi globalnya di Amerika Selatan.
  • China dihadapkan pada tantangan geopolitik baru akibat kebijakan luar negeri agresif dan sulit diprediksi dari AS.
  • Tekanan AS dapat membuat negara-negara Amerika Selatan ragu menerima investasi China, mengancam hubungan perdagangan yang penting bagi Beijing.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Hubungan yang dibangun China dengan Venezuela selama puluhan tahun runtuh hanya dalam hitungan jam, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melancarkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Langkah Washington itu bukan hanya mengguncang Caracas, tetapi juga memaksa Beijing melakukan perhitungan ulang terhadap strategi globalnya, di tengah rivalitas kekuatan besar dengan Amerika Serikat.

Beberapa jam sebelum ditangkap dalam operasi malam hari, Maduro masih memuji Presiden China Xi Jinping sebagai ‘kakak’ dan menyebutnya sebagai pemimpin dengan ‘pesan kuat bagi dunia’ saat bertemu diplomat senior China di Caracas. Media pemerintah China bahkan menayangkan pertemuan tersebut, menampilkan kedua pihak membahas sekitar 600 perjanjian bilateral yang masih aktif.

Namun tak lama kemudian, citra Maduro berubah drastis, ia terlihat diborgol dan ditutup matanya di atas kapal perang AS.

China termasuk negara yang secara terbuka mengecam langkah Washington. Beijing menuduh AS bertindak sebagai ‘hakim dunia’. Ia menegaskan, kedaulatan dan keamanan semua negara harus dilindungi sepenuhnya berdasarkan hukum internasional.

Meski demikian, di balik kecaman resmi itu, para pengambil kebijakan di Beijing kini dihadapkan pada dilema besar: bagaimana mempertahankan kepentingan strategis di Amerika Selatan tanpa memperburuk hubungan dengan Trump.

1. Tantangan baru bagi Beijing

Bendera China
Bendera China (unsplash.com/d_ks11)

China dikenal sebagai kekuatan yang bermain dalam jangka panjang dan menghindari ketidakpastian. Namun, kebijakan luar negeri Trump yang agresif dan sulit diprediksi membuat perhitungan Beijing menjadi semakin rumit.

Setelah berhasil melewati perang dagang yang naik-turun di periode sebelumnya, China kini menghadapi tantangan baru yang lebih bersifat geopolitik. Ambisi Washington terhadap minyak Venezuela memperkuat kecurigaan lama Beijing soal sejauh mana AS bersedia melangkah untuk membendung pengaruh China.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka menyatakan, “ini adalah belahan bumi Barat. Kami tidak akan membiarkan wilayah ini menjadi basis operasi bagi pesaing dan rival Amerika Serikat.”

Pernyataan tersebut dipahami luas sebagai pesan langsung kepada China agar menjauh dari ‘halaman belakang’ AS.

China menolak sinyal tersebut, namun memilih bersikap menunggu. Pada Rabu, Beijing kembali mengecam laporan AS yang menyebut Washington akan memerintahkan pemerintahan sementara Venezuela untuk memutus hubungan ekonomi dengan China dan Rusia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyebut, langkah itu sebagai tindakan perundungan yang khas, pelanggaran serius hukum internasional, dan pelanggaran berat terhadap kedaulatan Venezuela.

2. Kekhawatiran soal preseden global

Bendera Venezuela (Rhonal27, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
Bendera Venezuela (Rhonal27, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Di kalangan pengamat, muncul pertanyaan apakah tindakan AS di Venezuela bisa menjadi preseden bagi konflik lain, termasuk Taiwan. Di media sosial China, sejumlah nasionalis bahkan mempertanyakan mengapa Beijing tidak bisa bertindak serupa jika AS mampu menangkap kepala negara berdaulat.

Namun para analis menilai paralel tersebut tidak sepenuhnya relevan. China memandang Taiwan sebagai urusan internal, bukan isu tatanan internasional. Selain itu, menurut David Sacks dari Council on Foreign Relations, Beijing belum memiliki keyakinan bahwa invasi ke Taiwan bisa dilakukan dengan biaya yang dapat diterima.

Selama kondisi itu belum berubah, strategi China tetap mengandalkan tekanan non-militer untuk melemahkan perlawanan Taiwan.

Sebaliknya, dilansir BBC, Rabu (7/1/2026), krisis Venezuela justru berisiko merusak strategi jangka panjang China dalam membangun pengaruh di Global South. Sejak awal 2000-an hingga 2023, Beijing telah mengucurkan lebih dari 100 miliar dolar AS ke Venezuela untuk proyek infrastruktur seperti pembangkit listrik dan transportasi.

Sebagai imbalannya, China menjadi tujuan utama ekspor minyak Venezuela. Sekitar 80 persen minyak Venezuela dikirim ke China pada tahun lalu, meski hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total impor minyak China.

Meski begitu, aset perusahaan China seperti CNPC dan Sinopec di Venezuela berpotensi terdampak, jika terjadi nasionalisasi atau intervensi lebih lanjut. Venezuela juga masih memiliki utang sekitar 10 miliar dolar AS kepada kreditur China.

3. Taruhan di halaman belakang AS

ilustrasi bendera China dan AS
ilustrasi bendera China dan AS (pexels.com/Karola G)

Para analis memperingatkan, intervensi AS dapat membuat negara-negara Amerika Selatan lain ragu menerima investasi China karena khawatir menarik perhatian Washington. Padahal kawasan ini merupakan sumber penting pangan, energi, dan sumber daya alam bagi China, dengan nilai perdagangan dua arah mencapai lebih dari 500 miliar dolar AS.

Tekanan AS juga terlihat di Panama, di mana Washington mendorong pembatalan investasi dan kepemilikan pelabuhan China di sekitar Terusan Panama. Situasi ini dinilai sangat mengkhawatirkan bagi Beijing, yang selama ini mengandalkan diplomasi ekonomi untuk memperluas pengaruhnya.

China kemungkinan akan terus memanfaatkan citranya sebagai mitra yang stabil dan menentang perundungan sepihak, pesan yang resonan di banyak negara Global South. Selama dua dekade terakhir, sejumlah negara Amerika Latin telah mengalihkan pengakuan diplomatik dari Taiwan ke China, tertarik pada janji kemitraan strategis dan konsistensi kebijakan Beijing.

Sebaliknya, langkah Trump di Venezuela mempertegas kesan bahwa hubungan dengan Washington bisa berubah secara drastis. Bagi China, hal itu bisa menjadi peluang sekaligus risiko besar. Seperti dinilai para pengamat, seluruh situasi ini adalah sebuah pertaruhan besar, dan China dengan reputasinya sebagai pemain yang berhati-hati, sangat membenci perjudian geopolitik.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More

Berbagai Respons Publik di Medsos Terhadap Mens Rea Pandji Pragiwaksono

08 Jan 2026, 21:07 WIBNews