Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trump Pamer Kesepakatan Kilang Minyak Rp5 Kuadriliun dengan India

Trump Pamer Kesepakatan Kilang Minyak Rp5 Kuadriliun dengan India
Presiden AS, Donald Trump (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Donald Trump umumkan proyek kilang minyak senilai Rp5 kuadriliun di Texas bersama Reliance India, menjadi kilang pertama di AS dalam hampir 50 tahun.
  • America First Refining akan membangun fasilitas pengolahan minyak serpih ringan dengan kapasitas besar, didukung investasi global bernilai miliaran dolar dan kontrak jangka panjang 20 tahun.
  • Proyek diumumkan di tengah krisis energi akibat konflik Teluk yang mengganggu pasokan minyak dunia, mendorong kerja sama erat antara AS dan India untuk menjaga stabilitas pasar energi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (10/3/2026) mengungkap rencana pembangunan kilang minyak besar di Pelabuhan Brownsville, Texas. Proyek ini disebut sebagai kilang pertama yang dibangun di AS dalam hampir 50 tahun.

Dalam postingan di Truth Social, Trump menyampaikan apresiasi kepada India dan perusahaan energi swasta terbesar negara itu, Reliance Industries, atas investasi yang disebutnya sangat besar dalam proyek tersebut.

“INI ADALAH KESEPAKATAN BERSEJARAH SENILAI 300 MILIAR DOLLAR (setara Rp5,06 kuadriliun) — YANG TERBESAR DALAM SEJARAH AS,” tulisnya, dikutip dari CNA.

1. America First Refining siapkan pembangunan kilang baru

ilustrasi kilang minyak
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)

Pembangunan fasilitas ini akan ditangani oleh America First Refining. Perusahaan tersebut merupakan kelanjutan dari Element Fuels yang sejak 2024 telah mengumumkan rencana proyek kilang dengan estimasi biaya 3-4 miliar dolar AS (setara Rp50,5-67,4 triliun).

Kilang ini dirancang menjadi fasilitas pertama yang dibangun di kawasan Teluk Meksiko sejak dekade 1970-an. Infrastruktur tersebut juga dirancang khusus untuk memproses minyak serpih ringan yang diproduksi di Amerika.

Trump menyebut proyek tersebut akan memperkuat keamanan nasional AS, meningkatkan produksi energi domestik, dan membawa dampak ekonomi bernilai miliaran dolar. Ia juga mengatakan fasilitas ini dirancang menjadi kilang paling bersih di dunia.

Menurut penjelasan America First Refining, fasilitas tersebut akan mengolah 1,2 miliar barel minyak serpih ringan AS yang bernilai 125 miliar dolar AS (setara Rp2,1 kuadriliun). Dari proses itu akan dihasilkan 50 miliar galon produk olahan dengan nilai 175 miliar dolar AS (sekitar Rp2,9 kuadriliun).

Pernyataan mengenai kebutuhan penyulingan minyak serpih disampaikan oleh Presiden America First Refining Trey Griggs.

“AS memiliki surplus minyak serpih ringan tetapi kekurangan kapasitas penyulingan yang dirancang untuk memprosesnya,” katanya, dikutip dari CNBC.

Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan kilang baru tersebut akan memperkuat rantai pasok energi di dalam negeri.

2. America First Refining ungkap investasi global dalam proyek

ilustrasi portofolio investasi (pexels.com/Artem Podrez)
ilustrasi portofolio investasi (pexels.com/Artem Podrez)

America First Refining menyatakan perusahaan telah memperoleh pendanaan bernilai sembilan digit dari sebuah perusahaan energi global besar yang identitasnya belum diumumkan. Investasi tersebut memiliki valuasi sepuluh digit dan disuntikkan pada awal tahun.

Perusahaan yang sama juga telah menandatangani kontrak jangka panjang selama 20 tahun untuk membeli, memproses, dan mendistribusikan minyak serpih produksi AS.

3. Konflik Teluk picu krisis energi global

Penampakan Selat Hormuz dari satelit
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pengumuman proyek ini muncul saat dunia menghadapi krisis pasokan energi akibat konflik bersenjata di kawasan Teluk. Ketegangan bermula ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap negara-negara Arab tetangga yang menjadi lokasi basis militer AS. Situasi itu menyebabkan gangguan besar pada lalu lintas kapal di Selat Hormuz sehingga harga minyak mentah dan gas melonjak serta pasokan energi menjadi terbatas di berbagai negara.

India yang sangat bergantung pada impor minyak dari Asia Barat kemudian menerapkan langkah darurat melalui Undang-Undang Komoditas Esensial. Pemerintah memerintahkan seluruh kilang minyak meningkatkan produksi Gas Petroleum Cair (LPG) dan memprioritaskan pasokan untuk rumah tangga serta sektor penting lainnya.

Dilansir dari The Wire, sebelumnya pemerintah AS pernah memberlakukan tarif impor hingga 50 persen terhadap barang-barang India untuk menekan New Delhi mengurangi pembelian minyak Rusia. Tarif tersebut kemudian dipangkas menjadi 18 persen pada Februari 2026 setelah India menyatakan akan secara bertahap menghentikan impor minyak Rusia serta berjanji membeli produk energi dan teknologi AS senilai 500 miliar dolar AS (sekitar Rp8,4 kuadriliun).

Kebijakan tersebut membuat kilang-kilang di India, termasuk Reliance, beralih ke pasokan minyak dari Teluk yang lebih mahal sejak akhir 2025. Kondisi itu membuat negara tersebut semakin rentan terhadap lonjakan harga ketika konflik dengan Iran pecah.

Pada awal bulan ini, AS juga memberikan pengecualian khusus selama 30 hari kepada India agar dapat mengimpor sekitar 20 juta barel minyak Rusia yang sempat tertahan akibat gangguan di Selat Hormuz.

Duta Besar AS untuk India Sergio Gor menulis di platform X bahwa India telah menjadi mitra penting dalam menjaga stabilitas harga minyak global. Ia juga menyebut Washington memahami bahwa pembelian minyak Rusia yang masih berlangsung merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas tersebut. Ia menyatakan kerja sama antara AS dan India diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar energi bagi warga kedua negara.

Selain itu, Menteri Luar Negeri India S Jaishankar menggelar pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi. Dalam percakapan itu, pihak Iran menyatakan masyarakat internasional perlu meminta pertanggungjawaban AS atas pembatasan pengiriman yang terjadi di Selat Hormuz.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More