Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Pilih Tekanan Ekonomi untuk Paksa Iran Capai Kesepakatan
Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
  • Trump mengandalkan sanksi ekonomi dan blokade angkatan laut sejak April 2026 untuk menekan Iran mencapai kesepakatan, sambil membatasi diplomasi dan menghindari serangan militer baru.
  • Iran dan AS, melalui mediasi Oman, hampir menyepakati rute pelayaran baru di Selat Hormuz; Teheran menuntut blokade dicabut, aksi militer dihentikan, serta ganti rugi perang.
  • Gencatan senjata Juni 2026 runtuh akibat sengketa kendali selat, memicu serangan Iran ke pangkalan AS dan blokade Houthi terhadap Arab Saudi; hubungan Washington-Tel Aviv turut menegang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memilih tekanan ekonomi sebagai jalan untuk mendorong Iran menuju kesepakatan, alih-alih melancarkan serangan militer baru. Trump menyebut pendekatan pemerintahannya ini sengaja dilakukan secara tak mencolok.

“Kami melakukannya dengan santai,” kata Trump pada Minggu (9/8/2026), dikutip dari Al Jazeera.

Pemerintah AS kini memilih membatasi diplomasi dan hanya "setengah bernegosiasi" dengan Teheran sembari terus memantau kondisi finansial Iran yang makin memburuk. Trump mengungkapkan bahwa lonjakan inflasi membuat Iran keteteran membayar pasukannya sendiri. Sementara, blokade angkatan laut AS yang berlangsung sejak April 2026 kian memperberat tekanan ekonomi negara tersebut. Di sisi lain, harga minyak dunia yang melandai ke tingkat sedikit di atas 75 dolar AS (setara Rp1,33 juta) per barel dinilai ikut meringankan beban ekonomi konsumen di AS.

1. Trump padukan sanksi ekonomi dengan blokade angkatan laut

ilustrasi operasi keamanan di area laut (pexels.com/germannavyphotograph)

Dalam wawancaranya bersama Axios, Trump menegaskan bahwa sanksi ekonomi dan blokade laut menjadi tumpuan utama strategi Washington saat ini. Langkah tersebut diambil sebagai opsi utama ketimbang menggelar aksi militer baru dalam waktu dekat.

“Strategi ini bakal berhasil. Ini selalu berhasil. Ini seperti permainan catur,” ujarnya, dikutip dari TRT World.

Langkah ini diambil mengingat kondisi keuangan Iran yang dinilai sudah berada di titik sangat kritis. Pemerintah AS optimistis bahwa tekanan finansial yang konsisten secara bertahap mampu memaksa pihak lawan untuk tunduk pada arah kebijakan yang diinginkan.

2. Iran negosiasikan pembukaan Selat Hormuz lewat Oman

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Sikap tegas AS lewat jalur ekonomi ini berlangsung di tengah proses negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz yang dimediasi oleh Oman. Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa pembahasan telah memasuki tahap akhir, di mana kedua belah pihak hampir menyepakati koordinat rute pelayaran baru di jalur strategis tersebut.

Meski begitu, Teheran menegaskan tidak akan membuka penuh Selat Hormuz sebelum Washington "memperbaiki sikapnya". Iran melayangkan sejumlah syarat mutlak, mulai dari pencabutan blokade laut, penghentian total aksi militer, hingga pembayaran ganti rugi atas kerusakan akibat perang.

3. Iran gempur pangkalan AS usai gencatan senjata gugur

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim)

Situasi di kawasan kembali memanas setelah kesepakatan gencatan senjata pada Juni 2026 mendadak runtuh akibat perselisihan soal hak kendali atas selat. Iran meresponsnya dengan melancarkan serbuan berkala ke sejumlah pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania, sementara kelompok Houthi di Yaman ikut memberlakukan blokade laut terpisah terhadap Arab Saudi.

Di saat yang sama, keretakan hubungan juga muncul antara Washington dan Tel Aviv terkait ritme upaya AS dalam meredakan pertempuran di beberapa titik, termasuk Gaza dan Lebanon. Gesekan internal ini kian memperrumit peta diplomasi AS yang sedang berupaya menstabilkan kawasan Timur Tengah secara menyeluruh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article