Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Utang Luar Negeri Indonesia Capai 454,8 Miliar Dolar AS per Juli 2026
Ilustrasi dolar AS (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
  • ULN Indonesia tercatat 454,8 miliar dolar AS pada Juli 2026, naik tipis dari posisi Juni dan tumbuh 4,9 persen secara tahunan.
  • ULN pemerintah meningkat, sedangkan ULN swasta menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
  • Rasio ULN terhadap PDB tercatat 30,7 persen, dengan utang jangka panjang masih mendominasi posisi ULN Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Juli 2025

ULN swasta pada Juli 2026 tercatat turun 1,2 persen dibandingkan Juli 2025.

Juni 2026

Posisi ULN Indonesia tercatat sebesar 454,5 miliar dolar AS.

Juli 2026

ULN Indonesia tercatat 454,8 miliar dolar AS dan tumbuh 4,9 persen secara tahunan. ULN pemerintah mencapai 218,4 miliar dolar AS, sedangkan ULN swasta 194,5 miliar dolar AS. Rasio ULN terhadap PDB tercatat 30,7 persen.

Selasa (15/9/2026)

Ramdan Denny Prakoso menyampaikan keterangan resmi mengenai posisi ULN Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Utang luar negeri Indonesia pada Juli 2026 tercatat 454,8 miliar dolar AS dan tumbuh 4,9 persen secara tahunan.
  • Who?
    Bank Indonesia, pemerintah, Ramdan Denny Prakoso, serta peminjam pemerintah dan swasta.
  • Where?
    Indonesia.
  • When?
    Posisi ULN dicatat pada Juli 2026. Keterangan resmi disampaikan Selasa (15/9/2026).
  • Why?
    Perkembangan ULN dipengaruhi kenaikan ULN sektor publik, sementara ULN sektor swasta mengalami penurunan.
  • How?
    Bank Indonesia dan pemerintah berkoordinasi memantau ULN serta mengarahkan pengelolaannya dengan memperhatikan risiko stabilitas perekonomian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Indonesia punya utang dari luar negeri sebesar 454,8 miliar dolar AS pada Juli 2026. Angkanya naik sedikit dari Juni. Utang pemerintah bertambah, tetapi utang perusahaan swasta berkurang. Bank Indonesia dan pemerintah bersama-sama melihat perkembangan utang ini. Utang itu banyak yang waktunya panjang, dan rasionya terhadap PDB sebesar 30,7 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Koordinasi Bank Indonesia dan pemerintah dalam memantau perkembangan ULN menunjukkan adanya perhatian pada risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian. Pengelolaan ULN juga diarahkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Dominasi utang jangka panjang pada ULN pemerintah maupun swasta menjadi bagian dari kondisi yang dicatat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 454,8 miliar dolar AS. Posisi tersebut naik tipis dari 454,5 miliar dolar AS pada Juni 2026. Secara tahunan (year on year/yoy), ULN Indonesia tumbuh 4,9 persen.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menyatakan, perkembangan ULN pada Juli 2026 dipengaruhi kenaikan ULN sektor publik, sementara ULN sektor swasta mengalami penurunan.

"Posisi ULN Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 454,8 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi pada Juni 2026 sebesar 454,5 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 4,9 persen (yoy)," katanya dalam keterangan resmi, Selasa (15/9/2026).

1. ULN pemerintah tumbuh 3,2 persen

Ilustrasi utang luar negeri bertambah. (IDN Times/Arief Rahmat)

ULN pemerintah pada Juli 2026 mencapai 218,4 miliar dolar AS, tumbuh 3,2 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional. ULN pemerintah merupakan salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah menggunakan ULN antara lain untuk membiayai sejumlah sektor ekonomi.

Berdasarkan sektor ekonomi, porsi terbesar ULN pemerintah digunakan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen. Berikutnya administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,7 persen. Kemudian, jasa pendidikan sebesar 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen.

"Posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali mengingat hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang," kata Ramdan.

2. ULN swasta turun 1,2 persen

Ilustrasi utang (IDN Times/Arief Rahmat)

ULN swasta pada Juli 2026 tercatat sebesar 194,5 miliar dolar AS. Jumlah tersebut turun 1,2 persen dibandingkan Juli 2025. Penurunan ULN swasta berasal dari kelompok perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) dan lembaga keuangan (financial corporations).

"Perkembangan tersebut didorong oleh ULN kelompok peminjam bukan lembaga keuangan dan lembaga keuangan yang masing-masing mengalami kontraksi sebesar 1,4 persen (yoy) dan 0,3 persen (yoy)," ujar Ramdan Denny.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terutama berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut mencakup 80,6 persen dari total ULN swasta. ULN swasta juga masih didominasi utang jangka panjang.

3. Rasio ULN terhadap PDB capai 30,7 persen

ilustrasi utang negara (IDN Times/Aditya Pratama)

Rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat 30,7 persen pada Juli 2026. ULN Indonesia juga masih didominasi utang jangka panjang.

Bank Indonesia dan pemerintah melakukan koordinasi untuk memantau perkembangan ULN. Pengelolaan ULN diarahkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi dengan memperhatikan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

"Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article