Rupiah Masih Loyo di Tengah Kehadiran Menkeu Baru

- Rupiah ditutup melemah 25 poin ke level Rp17.694 per dolar AS pada Selasa.
- Ibrahim Assuaibi menilai pengelolaan APBN menjadi tantangan bagi Suahasil Nazara di tengah target pertumbuhan dan kebutuhan pembiayaan.
- Ketegangan Timur Tengah serta risiko gangguan pasokan minyak menambah tekanan global terhadap rupiah.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (15/9/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.694 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 25 poin atau 0,14 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.669 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga 40 poin.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.662 per dolar AS. Sementara itu, pergerakannya sepanjang hari berada di rentang Rp17.658-Rp17.712 per dolar AS.
1. Menkeu baru hadapi tantangan kelola APBN
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pemerintah membutuhkan sosok yang bisa menjaga kredibilitas fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dia menilai Suahasil Nazara cocok menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan. Pengalaman Suahasil di Kementerian Keuangan dinilai dapat menjaga kepercayaan pasar terhadap disiplin fiskal pemerintah.
"Akan tetapi, tantangan yang menunggu Suahasil sejatinya jauh lebih besar daripada sekadar menjaga angka defisit," kata Ibrahim.
Menurutnya, Suahasil harus mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ketika pemerintah ingin mempercepat pertumbuhan, membiayai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, dan tetap menjaga kesehatan fiskal.
Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen dengan belanja negara Rp4.097,2 triliun. Sementara itu, pendapatan negara diproyeksikan Rp3.426 triliun sehingga kebutuhan pembiayaan mencapai Rp571,2 triliun. Defisit anggaran ditargetkan sebesar 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Suahasil bukan nama baru di Kementerian Keuangan. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan sebelumnya bekerja bersama Sri Mulyani Indrawati.
2. Serangan Houthi bikin risiko pasokan minyak meningkat
Dari sisi global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Ibrahim mengatakan kelompok Houthi di Yaman kembali menyerang sejumlah target di Arab Saudi pada Senin.
Kelompok yang beraliansi dengan Iran itu juga memperkuat posisi di sejumlah titik strategis di sepanjang Laut Merah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandeb dan dapat mengganggu pasokan minyak.
Risiko terhadap ekspor minyak Arab Saudi juga meningkat setelah serangan pada pekan sebelumnya mengganggu operasional pipa minyak timur-barat milik negara tersebut.
"Serangan ofensif Houthi ini membuka front baru dalam konflik Timur Tengah. Para analis memperkirakan bahwa perkembangan ini dapat mengganggu tambahan 4 persen hingga 5 persen dari pasokan global," ujar Ibrahim.
Di saat yang sama, pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz ditunda. Iran menyatakan belum akan berdialog dengan AS sebelum sejumlah tuntutannya dipenuhi.
3. Rupiah diprediksi masih akan tertekan pada Rabu
Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berpotensi berlanjut seiring perkembangan geopolitik dan kondisi pasar global.
Dia memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.690-Rp17.750 per dolar AS pada perdagangan besok dan berpotensi ditutup melemah.


















