Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Vietnam Selidiki Produksi Kopi Palsu, Diduga dari Kedelai!
ilustrasi bubuk kopi di dalam toples (pexels.com/Mantas Sinkevičius)

  • Polisi Vietnam menyelidiki gudang kopi palsu berbahan kedelai di Provinsi Lam Dong.

  • Kopi palsu dicampur kedelai dan perisa untuk pasar domestik, menimbulkan kekhawatiran akan keamanan pangan.

  • Kasus pemalsuan kopi di Dataran Tinggi Tengah dinilai sensitif bagi petani dan konsumen, mengingat Vietnam sebagai produsen kopi terbesar di dunia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kepolisian Vietnam memulai penyidikan pidana terhadap sebuah gudang yang diduga memproduksi kopi palsu berbahan kedelai, menyusul penggerebekan di wilayah Dataran Tinggi Tengah pada Kamis (29/1/2026).

Dalam operasi tersebut, aparat menyita beberapa ton produk kopi palsu dan bahan bakunya. Kasus ini memantik perhatian karena terjadi di kawasan penghasil kopi utama Vietnam.

1. Polisi telah membuka penyelidikan kriminal pada gudang kopi yang dicurigai

Bubuk kopi (pexels.com/ Karola G)

Kementerian Keamanan Publik Vietnam menyatakan bahwa polisi telah membuka penyelidikan kriminal terhadap gudang yang dituding memproduksi kopi palsu berbahan kedelai.

“Polisi menyita 4,1 ton produk kopi palsu dan 3 ton bahan baku,” menurut pernyataan Kementerian Keamanan Publik Vietnam.

Penggerebekan itu berlangsung di Provinsi Lam Dong, kawasan Dataran Tinggi Tengah yang dikenal sebagai sentra perkebunan kopi. Otoritas menyebut temuan tersebut merupakan bagian dari penindakan terhadap dugaan pemalsuan pangan yang menyasar pasar lokal.

Polisi juga mengaitkan penggerebekan gudang dengan temuan sebelumnya di lapangan. Menurut keterangan aparat, pengungkapan bermula dari pemeriksaan sebuah truk yang mengangkut ribuan kantong kopi bubuk tanpa dokumen pendukung.

“Sebuah truk mengangkut 1.056 karung kopi bubuk seberat 528 kilogram, namun tidak disertai dokumen pendukung,” ujar pihak kepolisian, dilansir The Star.

2. Kopi bubuk dicampur kedelai dan perisa untuk pasar domestik

ilustrasi bubuk kopi (freepik.com/freepik)

Pemilik gudang bernama Luong Viet Kiem mengakui kepada polisi bahwa usahanya mencampurkan kedelai serta perisa dengan biji kopi untuk menghasilkan kopi bubuk yang dipasarkan di dalam negeri.

Seorang pedagang kopi Vietnam, Nguyen Quang Tho, menilai praktik pemalsuan semacam ini bukan hal baru.

“Produk kopi palsu bukan hal yang jarang, dan bisa dibuat dari kedelai atau jagung, bahkan keduanya,” ujarnya, dilansir Free Malaysia Today.

Harga biji kopi dari petani di Dataran Tinggi Tengah dilaporkan berada di kisaran sekitar tiga kali lipat harga kedelai, sehingga memberi insentif bagi oknum untuk mengganti sebagian bahan baku dengan komoditas yang lebih murah.

3. Kasus kopi palsu dinilai sensitif bagi petani dan kepercayaan konsumen

Bendera Vietnam (unsplash.com/Sam Williams)

Vietnam merupakan produsen Robusta terbesar di dunia, sementara Dataran Tinggi Tengah adalah kawasan budidaya kopi yang sangat penting bagi pasokan nasional. Karena itu, kasus pemalsuan di wilayah ini dipandang sensitif, baik bagi petani maupun kepercayaan konsumen.

Nguyen Quang Tho juga menyinggung aspek keamanan pangan. Ia mengingatkan bahwa meski kedelai dan jagung dapat dikonsumsi, risiko kesehatan tetap menjadi tanda tanya bila produk dibuat dan diedarkan sebagai kopi tanpa standar yang jelas.

Vietnam pada 2025 mengekspor 1,6 juta ton kopi dengan nilai sekitar 8,9 miliar dolar AS (Rp149,2 triliun), meningkat dalam volume dan nilai dibanding tahun sebelumnya menurut data bea cukai pemerintah. Otoritas juga mengingatkan bahwa praktik kecurangan pangan pernah terjadi di kawasan tersebut. Pada 2018, polisi di Dataran Tinggi Tengah menangkap lima orang yang diduga memakai bahan kimia baterai untuk mewarnai limbah biji kopi dan menjualnya sebagai lada hitam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team