Wali Kota Solo Minta UMKM Berani Jual Produk Mahal, Biar Naik Kelas!

Wali Kota Solo Respati Ardianto mendorong UMKM meningkatkan kualitas, layanan eksklusif, dan pemasaran konten agar produk bernilai tambah serta bisa dijual ke konsumen menengah atas.
UMKM menyumbang 57 persen PDRB Solo dan menyerap 36 persen tenaga kerja; Pemkot menargetkan ekonomi 80 persen massal dan 20 persen premium melalui upselling.
Respati menilai daya beli produk premium masih kuat, merujuk kenaikan penjualan tanah di atas Rp5 miliar, serta meminta seller membidik konsumen Jakarta, Semarang, Bandung, dan Surabaya.
Surakarta, IDN Times - Wali Kota Surakarta (Solo), Respati Achmad Ardianto mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk berani menjual produk dengan harga mahal.
Dalam acara spesial perayaan kolaborasi #BeliLokal dan peluncuran koleksi Pilihan BuSan di Swiss-Belhotel Solo, Jawa Tengah, Respati mengajak UMKM meningkatkan kualitas produk, dan memasarkan produk untuk konsumen kelas menengah ke atas.
“Mulai berani-lah berjualan mahal. Dengan menaikkan sedikit kualitas, meningkatkan kualitas, kuantitas kita tekan, Konsep 80-20 ini menjadi nyata,” kata Respati.
1. Kejar penciptaan nilai tambah dari setiap produk

Spesial Perayaan Kolaborasi #BeliLokal Tokopedia & TikTok Shop di Swiss-Belhotel Solo, Jawa Tengah, Senin (21/9/2026). (IDN Times/Vadhia Lidyana) Respati mengatakan, produk mahal yang dimaksud adalah produk yang dibalut dengan layanan eksklusif, optimalisasi pemasaran melalui konten berkualitas, sehingga produk yang dijual punya nilai tambah.
Dia menyontohkan, harga produk makanan jenis salad wrap bisa lebih mahal dibandingkan sate kambing. Padahal, harga bahan-bahan untuk sate kambing lebih tinggi. Harga salad wrap bisa lebih mahal menurutnya karena dibalut dengan kualitas pelayanan dan pemasaran yang baik, menyesuaikan kebutuhan konsumen kelas menengah ke atas.
“Suatu hal yang biasa, ketika dinarasikan, dibuat konten yang menarik, punya nilai jual lebih, harganya bisa jadi mahal,” tutur Respati.
2. Bisa dongkrak PDRB Kota Solo

ilustrasi PDB (pexels.com/Leeloo The First) Saat ini, UMKM di Kota Solo berkontribusi terhadap 57 persen produk domestik regional bruto (PDRB), dan menyerap 36 persen tenaga kerja lokal. Respati mengatakan, upaya mewujudkan nilai tambah pada produk UMKM bisa berdampak signifikan pada perekonomian kota.
Dia mengatakan, ke depannya Pemerintah Kota Solo ingin mewujudkan fundamental ekonomi kota yang 80 persen datang dari kelas ekonomi (masal), dan 20 persen dari kelas premium dengan melakukan upselling terhadap top spenders.
“Kita ada program 2030 wellness city. Kita harus paham bahwa sekarang ada pergeseran,” ucap Respati.
3. Bukan persoalan daya beli

Pasar Klewer (IDN Times/Fatma Roisatin N.) Respati optimistis konsep upselling bisa mendorong pengembangan bisnis UMKM. Menurutnya, masyarakat masih memiliki daya beli yang kuat untuk mengonsumsi produk premium.
Salah satu hal yang membuktikan pernyataannya ialah penjualan tanah dengan nilai di atas Rp5 miliar di Kota Solo yang meningkat, berbanding terbalik dengan tanah dengan harga di bawah Rp5 miliar yang justru menurun.
“Buying power-nya ada, cuma kita harus jual quality,” ucap Respati.
Selain itu, kepada para 200 seller Tokopedia & TikTok Shop yang hadir di acara tersebut, dia mendorong agar para seller mengubah target konsumen, dari warga lokal menjadi warga kota lain, terutama Jakarta, Semarang, Bandung, dan Surabaya.
“Saya ingatkan untuk rekan-rekan pelaku usaha di Solo, set target konsumen Anda Bukan warga Solo. Tapi set target konsumen Anda adalah Warga Jakarta, Warga Semarang, Warga Bandung, Warga Surabaya. Insyaallah kita akan kaya raya,” kata Respati.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















