Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
30 Tahun Mengamati Orang Kaya, Dave Ramsey Temukan 2 Aturan Ini
Dave Ramsey (commons.wikimedia.org)
  • Dave Ramsey menemukan kekayaan jarang berasal dari warisan besar; peluang menerimanya terbatas karena aset generasi tua dipakai untuk pensiun, perawatan, dan dibagi kepada keluarga.
  • Fokus membangun kekayaan diarahkan pada pengeluaran di bawah pendapatan serta investasi rutin jangka panjang pada aset yang dipahami, bukan mengandalkan keuntungan mendadak atau strategi spekulatif.
  • Ahli berbeda pandangan soal tingkat risiko, tetapi menekankan portofolio sesuai tujuan dan kemampuan; kekayaan umumnya terbentuk dari keputusan kecil, disiplin menabung, dan investasi selama bertahun-tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bahkan orang yang menghabiskan puluhan tahun mempelajari keuangan masih bisa mendapatkan pelajaran baru dari orang lain. Dave Ramsey, pakar keuangan dan pendiri Ramsey Solutions, mengatakan bahwa selama sekitar 30 tahun bekerja dengan orang-orang kaya, ia menemukan beberapa pola yang menarik tentang bagaimana seseorang membangun kekayaan.

Menurut Ramsey, menjadi jutawan bukan semata-mata soal mendapatkan warisan besar atau mengambil investasi yang spektakuler. Justru, kebiasaan yang relatif sederhana dan dilakukan secara konsisten dapat memainkan peran yang jauh lebih penting.

Dikutip dari Yahoo Finance, berikut dua aturan yang menurut Ramsey banyak terlihat di kalangan orang kaya, beserta pandangan ahli keuangan lainnya.

1. Kekayaan jarang berasal dari warisan

Ilustrasi warisan (freepik.com)

Ramsey mengatakan bahwa menunggu mendapatkan warisan dalam jumlah besar bukanlah strategi yang bisa diandalkan untuk menjadi jutawan.

Mike Rytelewski, akuntan publik bersertifikat sekaligus penasihat kekayaan di Oujo Wealth Strategies, sependapat. Menurutnya, kemungkinan seseorang menerima warisan mendekati 1 juta dolar AS atau sekitar Rp16,5 miliar sebenarnya cukup kecil.

Generasi yang lebih tua kini hidup lebih lama dan dapat menggunakan sebagian besar aset mereka untuk kebutuhan pensiun maupun perawatan jangka panjang. Selain itu, warisan biasanya dibagi kepada beberapa anggota keluarga, bukan diberikan kepada satu orang saja.

Karena itu, Rytelewski menyarankan agar seseorang lebih fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan setiap hari, terutama menjaga pengeluaran tetap di bawah pendapatan. Menurutnya, seseorang bisa saja memiliki penghasilan jutaan dolar setiap tahun tetapi tetap mengalami tekanan finansial jika gaya hidupnya terus meningkat. Pendapatan tinggi tidak otomatis menghasilkan kekayaan jika seluruh uang habis untuk mempertahankan gaya hidup.

2. Kekayaan dibangun dari investasi yang konsisten

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Alih-alih menunggu mendapatkan uang besar secara tiba-tiba, Ramsey menyarankan masyarakat mulai berinvestasi secara rutin pada aset yang dipahami dan memiliki risiko yang sesuai.

Ia menilai banyak jutawan justru tidak mengambil strategi investasi yang rumit atau sangat spekulatif. Mereka cenderung memilih instrumen yang mereka pahami dan mempertahankannya dalam jangka panjang. Ramsey sendiri merekomendasikan reksa dana saham pertumbuhan dan real estat yang dapat dibeli tanpa utang.

Rytelewski juga menilai kepemilikan aset dapat menjadi salah satu cara membangun kekayaan karena nilainya berpotensi tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji. Ia menyarankan memaksimalkan kontribusi untuk dana pensiun dan menginvestasikan pendapatan berlebih melalui akun investasi. Namun, tidak semua ahli sepakat bahwa risiko rendah adalah kunci utama menjadi kaya.

Robert R. Johnson, CFA sekaligus profesor keuangan di Creighton University, justru berpendapat bahwa mengambil risiko yang terlalu sedikit dapat menjadi kesalahan finansial. Dalam jangka panjang, menurutnya, salah satu cara yang lebih efektif untuk membangun kekayaan adalah memiliki portofolio saham yang terdiversifikasi.

Itu artinya, investor tidak harus menghindari risiko sepenuhnya. Yang lebih penting adalah mengambil risiko yang sesuai dengan jangka waktu investasi dan kemampuan menanggung kerugian.

3. Pelajaran utamanya: Konsistensi lebih penting daripada keberuntungan

Ilustrasi pengelolaan finansial (freepik.com)

Dua aturan Ramsey tersebut pada dasarnya memiliki pesan yang sama: jangan menggantungkan masa depan finansial pada keberuntungan. Menunggu warisan besar mungkin terdengar mudah, tetapi berada di luar kendali seseorang. Sebaliknya, hidup sesuai kemampuan, menyisihkan uang secara rutin, dan berinvestasi secara disiplin merupakan kebiasaan yang bisa mulai dilakukan sejak sekarang.

Perbedaan pandangan para ahli mengenai tingkat risiko investasi juga menunjukkan bahwa tidak ada satu strategi yang cocok untuk semua orang. Investor perlu mempertimbangkan tujuan, usia, kondisi keuangan, dan jangka waktu investasi sebelum menentukan aset yang dipilih.

Pada akhirnya, membangun kekayaan biasanya bukan hasil dari satu keputusan besar. Kekayaan lebih sering terbentuk dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berulang kali selama bertahun-tahun. Menghasilkan lebih banyak uang memang membantu, tetapi kemampuan mempertahankan dan mengembangkan uang tersebutlah yang pada akhirnya menentukan seberapa besar kekayaan yang bisa dibangun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

BTN Rombak 5 Direksi!04 Sep 2026, 17:43 WIB