Kenapa Pelanggan Lama Bisa Lebih Berharga daripada Pelanggan Baru?

Pelanggan lama lebih mudah membeli lagi karena sudah percaya pada produk dan layanan.
Pelanggan lama berpotensi melakukan pembelian berulang dan mencoba produk lainnya.
Pelanggan lama yang puas bisa merekomendasikan bisnis sekaligus memberi masukan untuk pengembangan produk.
Bagi pelaku bisnis, mendapatkan pelanggan baru tentu terasa menyenangkan. Ada transaksi baru, jumlah pembeli bertambah, dan bisnis terlihat semakin berkembang. Tidak heran jika banyak bisnis rela mengeluarkan biaya untuk iklan, membuat promo besar, sampai memberikan diskon khusus demi menarik orang yang sebelumnya belum pernah membeli.
Namun, ada satu hal yang kadang luput diperhatikan: pelanggan lama punya nilai yang tidak kalah besar. Bahkan, dalam kondisi tertentu, mempertahankan mereka bisa jauh lebih menguntungkan daripada terus-menerus mencari pembeli baru. Mari, kita bahas alasan kenapa pelanggan lama bisa lebih berharga daripada pelanggan baru untuk bisnis!
1. Pelanggan lama tidak perlu diyakinkan dari nol

ilustrasi berdiskusi dengan klien (pexels.com/Yan Krukov) Bayangkan seseorang sudah pernah membeli produk dari sebuah toko dan merasa puas. Saat membutuhkan produk serupa lagi, kemungkinan besar ia tidak perlu melewati proses pertimbangan sepanjang pembeli pertama. Dia sudah tahu kualitas produknya, pernah merasakan pelayanannya, dan tahu apakah toko tersebut bisa dipercaya. Tinggal buka aplikasi, cari produknya, lalu checkout. Situasi seperti ini membuat bisnis tidak harus mengeluarkan usaha pemasaran sebesar ketika mencari pelanggan baru.
2. Potensi belanjanya bisa terus bertambah

ilustrasi berbelanja pakaian (unsplash.com/charlesdeluvio) Nilai pelanggan lama juga tidak berhenti pada satu transaksi. Kalau pengalaman mereka tetap bagus, ada kemungkinan mereka melakukan pembelian berulang atau mencoba produk lain yang ditawarkan bisnis tersebut. Inilah yang berkaitan dengan customer lifetime value (CLV), nilai yang dihasilkan seorang pelanggan selama berhubungan dengan bisnis. Semakin lama hubungan tersebut bertahan dan semakin sering pelanggan melakukan transaksi, semakin besar pula nilai yang bisa diberikan kepada bisnis.
3. Pelanggan lama bisa membawa pembeli baru

ilustrasi berbelanja bersama (pexels.com/Arina Krasnikova) Menariknya, mempertahankan pelanggan lama bukan berarti bisnis berhenti mencari pelanggan baru. Justru pelanggan yang puas bisa membantu mendatangkan pembeli baru lewat rekomendasi. Seseorang yang punya pengalaman positif dengan sebuah produk mungkin akan menceritakannya kepada teman, keluarga, atau orang lain di media sosial.
Rekomendasi seperti ini biasanya terasa lebih meyakinkan karena berasal dari pengalaman nyata, bukan sekadar pesan promosi. Ketika pelanggan merasa puas, mereka bisa dengan sukarela menceritakan pengalaman tersebut kepada orang lain. Dengan begitu, pelanggan lama bukan hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga bisa membantu bisnis mendapatkan pelanggan baru.
4. Mereka juga bisa membantu bisnis berkembang

ilustrasi bisnis thrifting (pexels.com/Liza Summer) Ada keuntungan lain yang mungkin tidak langsung terlihat dalam laporan penjualan. Pelanggan lama sudah punya pengalaman menggunakan produk sehingga mereka bisa memberikan masukan yang lebih relevan. Mereka bisa memberi tahu apa yang kurang, bagian mana yang disukai, atau apa yang sebenarnya mereka harapkan dari produk berikutnya. Masukan seperti ini dapat membantu bisnis memperbaiki produk sekaligus memahami kebutuhan pasar dengan lebih baik.
Namun, bukan berarti bisnis harus memilih antara pelanggan lama atau pelanggan baru. Keduanya tetap penting. Pelanggan baru dibutuhkan untuk memperluas pasar, sedangkan pelanggan lama membantu menciptakan pendapatan berulang dan hubungan yang lebih panjang. Karena itu, bisnis sebaiknya tidak hanya sibuk mengejar angka pelanggan baru.
Pada akhirnya, keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pelanggan yang datang, tetapi juga seberapa banyak dari mereka yang mau kembali. Pelanggan lama yang merasa puas bisa menjadi aset yang terus memberi nilai, bahkan tanpa harus selalu dikejar dengan promosi. Karena itu, menjaga hubungan dengan pelanggan setelah transaksi selesai sama pentingnya dengan membuat mereka tertarik membeli untuk pertama kalinya.





















