Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Orang Tetap Beli Barang Mewah meski Ekonomi sedang Sulit
ilustrasi parfum Dior, barang branded (unsplash.com/Marisa Garrido)
  • Saat ekonomi sulit, konsumen tetap membeli kemewahan dalam bentuk kecil seperti kosmetik, parfum mini, makanan gourmet, dan aksesori karena lebih terjangkau dibanding barang desainer bernilai tinggi.
  • Pembelian kemewahan kecil atau small treat economy memberi rasa senang dan penghargaan diri di tengah tekanan finansial, sekaligus menjadi cara relatif murah untuk menjaga kepercayaan diri.
  • Generasi Z dan milenial mengubah definisi kemewahan akibat biaya hidup meningkat, dengan mengalihkan anggaran dari barang mahal ke produk premium kecil yang bisa langsung dinikmati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat kondisi ekonomi sedang sulit, banyak orang mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Pembelian barang bernilai besar biasanya ditunda karena kebutuhan pokok menjadi prioritas utama. Namun menariknya, keinginan untuk menikmati barang mewah ternyata gak serta-merta hilang, lho.

Alih-alih berhenti berbelanja, banyak orang justru memilih membeli produk mewah yang lebih kecil dan lebih terjangkau. Fenomena ini sudah diamati sejak lama dan masih terlihat hingga sekarang, terutama di kalangan generasi muda yang menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan.

1. Kemewahan kecil terasa lebih mudah dijangkau

ilustrasi lipstik YSL, barang branded (unsplash.com/Taylor R)

Saat kondisi keuangan sedang ketat, membeli tas atau pakaian desainer mungkin terasa mustahil. Akan tetapi, membeli lipstik, parfum mini, lilin aromaterapi, atau gantungan tas dari merek yang sama masih dianggap masuk akal. Cara ini membuat banyak orang tetap bisa menikmati pengalaman menggunakan produk premium tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar.

Melihat perubahan perilaku tersebut, banyak merek mewah ikut beradaptasi. Kini semakin banyak produk berukuran mini atau aksesori dengan harga yang lebih ramah di kantong. Strategi ini membuat konsumen tetap bisa merasakan sentuhan kemewahan sekaligus menjaga citra eksklusif merek tersebut.

2. Membeli barang kecil bisa membantu memperbaiki suasana hati

ilustrasi makanan gourmet, restoran mewah (unsplash.com/Jay Wennington)

Tekanan ekonomi sering kali memengaruhi kondisi emosional seseorang. Saat merasa lelah atau stres karena berbagai beban finansial, membeli sesuatu yang disukai dapat menjadi bentuk penghargaan sederhana untuk diri sendiri. Meskipun nilainya gak besar, barang tersebut mampu memberikan rasa senang yang sulit diperoleh dari kebutuhan sehari-hari.

Fenomena ini kemudian dikenal sebagai small treat economy, yaitu kebiasaan membeli kemewahan dalam skala kecil ketika kondisi ekonomi sedang sulit. Bagi banyak orang, pengeluaran kecil tersebut terasa lebih realistis dibandingkan menghabiskan uang untuk barang mewah bernilai tinggi. Itulah sebabnya kopi premium, kosmetik, makanan gourmet, hingga aksesori kecil tetap memiliki banyak peminat meski daya beli sedang melemah.

3. Keinginan tampil menarik tetap ada di tengah krisis

ilustrasi lipstik Dior, barang branded, makeup (unsplash.com/Hitesh Dewasi)

Kondisi ekonomi yang kurang baik ternyata juga bisa memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Menurut penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology, situasi resesi justru meningkatkan minat perempuan terhadap produk kecantikan dibandingkan berbagai jenis barang konsumsi lainnya. Para peneliti menilai kondisi tersebut berkaitan dengan dorongan psikologis untuk meningkatkan daya tarik diri ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Meski begitu, penjelasan tersebut bukan berarti semua orang membeli kosmetik semata-mata untuk menarik perhatian orang lain, ya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perilaku konsumen dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis yang muncul saat kondisi ekonomi berubah. Dengan kata lain, produk kecantikan sering kali dianggap sebagai cara yang relatif terjangkau untuk meningkatkan rasa percaya diri dibandingkan membeli barang mewah lainnya.

4. Orang lebih memilih mengganti bentuk kemewahan

ilustrasi lipstik dan parfum YSL, barang branded, makeup (pexels.com/Harper Sunday)

Menariknya, penelitian lain memberikan sudut pandang yang sedikit berbeda. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Behavioral and Experimental Economics menunjukkan bahwa selama Great Recession di Amerika Serikat, pengeluaran untuk kosmetik justru meningkat. Menariknya, peningkatan tersebut gak dipengaruhi oleh status pernikahan maupun pekerjaan. Para peneliti menemukan bahwa banyak konsumen mengalihkan anggaran dari pembelian pakaian ke kosmetik sebagai bentuk kemewahan yang lebih terjangkau.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa saat ekonomi memburuk, orang sebenarnya gak berhenti menikmati barang premium. Mereka hanya mengubah prioritas pengeluaran ke produk yang memberikan kepuasan serupa dengan biaya yang lebih rendah. Pola konsumsi inilah yang membuat penjualan beberapa kategori barang mewah berukuran kecil tetap bertahan di tengah perlambatan ekonomi.

5. Generasi muda memiliki cara pandang baru terhadap kemewahan

ilustrasi aksesoris, gesper merek Gucci, belt, barang branded (pexels.com/Katelyn Whitson)

Saat ini, banyak generasi muda menghadapi tantangan ekonomi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Harga rumah, biaya hidup, hingga berbagai kebutuhan lain terus meningkat sehingga membeli barang mewah bernilai besar menjadi semakin sulit. Akibatnya, definisi kemewahan pun ikut berubah menjadi sesuatu yang lebih realistis dan mudah dicapai.

Menurut Batamirova dan Thrassou, dalam buku The Evolution of Luxury Brands, Volume II, generasi Z dan milenial kini lebih banyak mengonsumsi produk mewah berukuran kecil yang tetap mampu memberikan pengalaman premium. Mulai dari kosmetik, makanan berkualitas, aksesori, hingga alat tulis premium menjadi pilihan yang semakin populer. Dibandingkan menunggu bertahun-tahun untuk membeli satu barang mahal, banyak orang memilih menikmati kemewahan kecil yang bisa langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Keinginan menikmati barang mewah ternyata gak hilang hanya karena kondisi ekonomi sedang sulit. Banyak orang justru mengubah cara mereka berbelanja dengan memilih produk yang lebih kecil, lebih terjangkau, tapi tetap memberikan rasa puas.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa keputusan tersebut dipengaruhi oleh faktor psikologis sekaligus perubahan pola konsumsi selama masa krisis. Selama dilakukan sesuai kemampuan finansial, menikmati kemewahan kecil sesekali bukanlah masalah. Hal paling penting, kamu tetap mampu menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan utama dan memanjakan diri secara bijak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article