ilustrasi saham (pexels.com/AlphaTradeZone)
Dividend yield yang terlihat di aplikasi investasi biasanya dapat menggunakan harga saham pasar saat ini sebagai dasar perhitungan. Sementara itu, investor yang sudah memiliki saham sebenarnya dapat menghitung yield berdasarkan harga belinya sendiri. Hasilnya bisa berbeda karena setiap investor mungkin membeli saham pada harga yang tidak sama.
Sebagai contoh, investor A membeli saham pada harga Rp1.000 dan menerima dividen Rp50 per saham sehingga yield berdasarkan harga belinya sebesar 5 persen. Jika harga saham kemudian naik menjadi Rp1.500, yield berdasarkan harga pasar menjadi sekitar 3,33 persen, tetapi dividen Rp50 yang diterima investor A tetap menghasilkan 5 persen dibandingkan modal awalnya. Perbedaan ini menunjukkan pentingnya memahami harga yang digunakan ketika membaca dividend yield.
Harga saham memiliki hubungan langsung dengan dividend yield karena harga menjadi salah satu komponen dalam perhitungannya. Ketika harga naik dan dividen tetap, yield cenderung turun, sedangkan penurunan harga dapat membuat yield meningkat secara matematis. Namun, perubahan tersebut tidak selalu menggambarkan perubahan kualitas bisnis atau kemampuan perusahaan membayar dividen.
Karena itu, dividend yield sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai sebuah saham. Investor juga perlu melihat riwayat pembagian dividen, laba perusahaan, arus kas, kebijakan dividen, utang, serta prospek bisnis. Dengan memahami hubungan antara harga saham dan dividend yield, investor dapat membaca angka yield dengan konteks yang lebih tepat.