Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Yield SBN Dinilai Jadi Ujian Awal Koordinasi Fiskal-Moneter

3 min read
Yield SBN Dinilai Jadi Ujian Awal Koordinasi Fiskal-Moneter
Konferensi Pers Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti. (IDN Times/Triyan).
  • Kenaikan yield SBN menjadi ujian koordinasi fiskal-moneter pemerintah dan BI di tengah naiknya yield obligasi global serta biaya modal internasional.
  • Kenaikan yield domestik tidak selalu mencerminkan risiko Indonesia, karena dapat dipicu penyesuaian suku bunga bebas risiko global dan term premium.
  • Yield SBN perlu mencapai level yang menarik investor melalui price discovery; yield terlalu rendah berisiko menekan permintaan asing, rupiah, lelang SBN, dan saham.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) akan menghadapi ujian di tengah kenaikan yield obligasi global dan meningkatnya biaya modal internasional.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, kondisi tersebut akan terlihat dari bagaimana pasar Surat Berharga Negara (SBN) menemukan tingkat imbal hasil atau yield yang dapat menarik minat investor.

"Pertanyaannya bukan lagi bagaimana menjaga yield SBN serendah mungkin. Pertanyaannya adalah di mana market-clearing yield Indonesia. Pada level berapa investor bersedia menyerap obligasi pemerintah secara natural, tanpa harus terlalu bergantung pada dukungan kebijakan atau likuiditas tambahan," ujar Fakhrul, Jumat (25/9/2026).

  1. 1. Tak selalu kenaikan yield menunjukkan naikknya risiko

    Ilustrasi yield dividen. (Pexels/Markus Winkler)
    Ilustrasi yield dividen. (Pexels/Markus Winkler)

    Menurut dia, kenaikan yield obligasi domestik tidak selalu menunjukkan meningkatnya risiko Indonesia. Sebagian kenaikan dapat terjadi karena penyesuaian terhadap kenaikan tingkat bebas risiko atau risk-free rate global dan term premium.

    "Kita harus membedakan antara kenaikan yield karena repricing global dengan kenaikan Indonesia-specific risk premium. Yang kedua harus dicegah. Tetapi yang pertama tidak selalu bisa ditahan," katanya.

  2. 2. Jika yield domestik terlalu rendah maka investor akan berpindah ke aset lain

    pengertian dividen yield.png
    Ilustrasi dividen yield (Freepik)

    Fakhrul mengatakan, apabila yield domestik dipertahankan terlalu rendah dibandingkan tingkat yang dibutuhkan investor, tekanan penyesuaian justru dapat berpindah ke pasar lain.

    Tekanan tersebut, lanjut dia, dapat muncul melalui penurunan minat investor asing, penyerapan lelang SBN, nilai tukar rupiah, hingga pasar saham.

    "Kalau harga obligasi tidak cukup menyesuaikan, adjustment bisa berpindah ke foreign demand, auction absorption, ke rupiah, bahkan ke aset berisiko lain seperti pasar saham," ujarnya.

  3. 3. Hubungan price discovery pasar oblogasi jadi bagian penting

    ilustrasi perbedaan SBN dan deposito, mana investasi yang menguntungkan? (pixabay.com/u_6af2f287zu)
    ilustrasi perbedaan SBN dan deposito, mana investasi yang menguntungkan? (pixabay.com/u_6af2f287zu)

    Dengan demikian, Fakhrul menilai proses pembentukan harga atau price discovery di pasar obligasi menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas eksternal.

    "Kalau yield tidak mencerminkan harga modal global, investor asing tidak mendapat kompensasi yang cukup. Pada akhirnya tekanan bisa muncul di rupiah dan pasar saham," katanya.

    Menurut Fakhrul, kerangka koordinasi antara Kementerian Keuangan dan BI yang mencakup lima pilar, yakni pertumbuhan, ketahanan eksternal, pengelolaan likuiditas, pengendalian inflasi, serta pendalaman pasar keuangan, dapat digunakan untuk mengelola kondisi tersebut.

    Namun, ia menekankan koordinasi kebijakan tidak seharusnya menggantikan mekanisme pembentukan harga di pasar.

    "Koordinasi tidak boleh menggantikan price discovery. Koordinasi justru harus memastikan price discovery bisa terjadi tanpa membuat sistem menjadi tidak stabil," ujar Fakhrul.

    Ia menilai, sasaran kebijakan bukan sekadar mencari yield terendah, melainkan tingkat yield yang tetap menarik bagi investor dan dapat dipertahankan.

    "Yield yang terlalu rendah tetapi tidak menarik investor bukan yield yang murah. Pada akhirnya biaya penyesuaiannya bisa muncul di rupiah, di foreign flow, atau di pasar saham," katanya.

    Fakhrul menambahkan, kemampuan pemerintah dan BI dalam memberikan ruang bagi pasar untuk menemukan tingkat yield tersebut akan menjadi salah satu ujian awal bagi koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More