Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Biaya Sosial Hidup di Desa Tidak Murah?
ilustrasi hidup di desa (pexels.com/Dio Alif Utomo)
  • Biaya sosial di desa muncul dari iuran, tradisi, dan kegiatan bersama.

  • Pengeluaran sering tidak terduga karena frekuensi acara dan kewajiban sosial.

  • Tekanan lingkungan membuat pengeluaran sulit ditekan meski ingin hemat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gambaran slow living sering dikaitkan dengan suasana desa yang tenang, udara bersih, dan ritme hidup yang terasa lebih santai. Namun, di balik kesan sederhana itu, ada realitas lain yang jarang dibahas secara terbuka. Hidup di desa bukan hanya soal biaya kebutuhan pokok yang lebih rendah, melainkan juga tentang keterlibatan dalam kehidupan sekitar yang punya konsekuensi pengeluaran tersendiri.

Banyak pengeluaran kecil yang muncul bukan dari kebutuhan pribadi, melainkan dari kebiasaan bersama yang sudah berlangsung lama. Di titik ini, konsep slow living di desa terasa tidak sesederhana yang dibayangkan. Di sinilah menariknya untuk dilihat lebih dekat. Berikut penjelasannya!

1. Warga desa menjaga kebersamaan lewat iuran rutin

ilustrasi iuran (pexels.com/Ahsanjaya)

Kehidupan desa berjalan dengan banyak kesepakatan bersama, termasuk urusan iuran yang sifatnya rutin. Iuran RT, kas lingkungan, hingga sumbangan kegiatan warga menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan. Nominalnya memang terlihat kecil jika dilihat satu per satu. Namun, jika dikumpulkan dalam 1 bulan, jumlahnya bisa cukup terasa.

Dalam 1 bulan, misalnya, bisa ada iuran kebersihan, keamanan, hingga dana cadangan untuk acara mendadak. Belum lagi kadang ada program tambahan, seperti perbaikan jalan atau pembangunan fasilitas umum yang sifatnya gotong royong. Semua ini tidak wajib secara tertulis, tetapi secara sosial sulit untuk dihindari karena menyangkut nama baik di lingkungan sekitar.

2. Tradisi kondangan membuat pengeluaran tidak terhindarkan

ilustrasi kondangan (pexels.com/Hendi ht23)

Undangan hajatan di desa bisa datang lebih sering dibandingkan di kota, terutama saat musim pernikahan atau khitanan. Setiap undangan biasanya diikuti dengan pemberian amplop atau bentuk kontribusi lain yang nilainya disesuaikan dengan kedekatan. Dalam 1 minggu, bisa saja ada lebih dari satu acara yang harus dihadiri.

Situasi ini membuat pengeluaran menjadi tidak bisa diprediksi, apalagi jika berada di lingkungan yang cukup aktif secara sosial. Selain soal uang, ada juga tuntutan kehadiran yang dianggap sebagai bentuk menghargai. Jika terlalu sering absen, hal ini bisa menjadi bahan pembicaraan yang kurang nyaman pada kemudian hari.

3. Budaya menjenguk jadi kewajiban tidak tertulis

ilustrasi menjenguk (pexels.com/Kampus Production)

Ketika ada warga sakit, melahirkan, atau mengalami musibah, kebiasaan menjenguk menjadi hal yang dianggap wajar. Dalam praktiknya, kunjungan ini sering disertai dengan membawa buah tangan atau uang sebagai bentuk empati. Nilainya tidak harus besar, tetapi frekuensinya bisa cukup sering.

Hal seperti ini jarang dihitung sebagai pengeluaran tetap, padahal dalam jangka panjang bisa menambah beban. Apalagi, dalam satu waktu, ada beberapa warga yang mengalami kondisi serupa. Di sisi lain, tidak ikut menjenguk sering dianggap kurang peduli sehingga pilihan untuk tidak ikut hampir tidak ada.

4. Perayaan lokal menambah daftar pengeluaran tahunan

ilustrasi perayaan (pexels.com/Heru Dharma)

Kegiatan seperti perayaan 17 Agustus, acara keagamaan, hingga tradisi tertentu membutuhkan partisipasi dana dari warga. Biasanya, ada iuran khusus yang dikumpulkan menjelang acara berlangsung. Selain itu, ada juga kebutuhan tambahan, seperti konsumsi, dekorasi, atau hadiah lomba yang melibatkan kontribusi bersama.

Walau hanya berlangsung beberapa kali dalam setahun, pengeluaran ini tetap perlu disiapkan. Bahkan, dalam beberapa kasus, jumlahnya bisa lebih besar dibandingkan iuran rutin. Di sinilah, terlihat bahwa hidup di desa tetap memiliki siklus pengeluaran yang tidak selalu kecil.

5. Tekanan sosial membuat pengeluaran sulit ditekan

ilustrasi hidup di desa (pexels.com/Dio Alif Utomo)

Lingkungan yang saling mengenal membuat setiap tindakan mudah terlihat, termasuk dalam hal kontribusi. Memberi terlalu sedikit atau jarang terlibat bisa memunculkan penilaian tertentu meski tidak disampaikan secara langsung. Akhirnya, banyak orang memilih mengikuti standar umum agar tetap diterima.

Kondisi ini membuat pengeluaran tidak sepenuhnya berdasarkan kemampuan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan situasi sekitar. Dalam jangka panjang, hal seperti ini bisa terasa lebih berat dibandingkan pengeluaran individual. Bukan karena nominalnya selalu besar, melainkan karena sifatnya terus berulang dan sulit dihindari.

Biaya sosial di desa menunjukkan bahwa hidup sederhana tidak selalu berarti pengeluaran lebih ringan. Slow living memang menawarkan ketenangan, tetapi tetap datang bersama tanggung jawab sosial yang tak bisa dihindari. Lalu, jika harus memilih, apakah slow living di desa masih terasa sepadan dengan konsekuensi yang ikut menyertainya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎