Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
10 Benda yang Sebaiknya Tidak Dibeli karena Bikin Pengeluaran Bengkak
ilustrasi uang (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
  • Artikel menyoroti kebiasaan belanja kecil seperti minuman kekinian, langganan digital, dan makan siang di luar yang tanpa disadari bisa menguras jutaan rupiah setiap tahun.
  • Ditekankan pentingnya frugal living, yaitu menggunakan uang secara sadar hanya untuk kebutuhan yang memberi nilai nyata agar keuangan tetap stabil dan sehat.
  • Dengan menghindari pembelian impulsif pada barang tidak esensial seperti gadget baru, skincare berlebih, atau pakaian murah, seseorang dapat menghemat signifikan dan mengalokasikan dana untuk tabungan atau investasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengatur keuangan pribadi sering terasa sulit bukan karena penghasilan kecil, melainkan karena kebiasaan belanja yang tidak disadari. Banyak pengeluaran tampak sepele, seperti membeli minuman kekinian atau berlangganan layanan digital, tetapi jika dilakukan secara rutin dapat menghabiskan jutaan rupiah dalam setahun. Tanpa perencanaan yang baik, uang yang seharusnya bisa ditabung justru habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Konsep frugal living menekankan pentingnya menggunakan uang secara sadar dan hanya untuk kebutuhan yang benar-benar memberi nilai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kebiasaan yang lebih bijak, kamu tetap bisa hidup nyaman tanpa harus boros. Nah, berikut beberapa benda yang sebaiknya tidak dibeli lagi jika kamu ingin kondisi keuangan lebih stabil dan sehat.

1. Mengganti ponsel baru setiap tahun hanya karena tren

ilustrasi hp smartphone flagship (freepik.com/freepik)

Banyak orang tergoda mengganti ponsel setiap kali produsen merilis model terbaru dengan fitur yang sedikit lebih canggih. Padahal, ponsel yang sudah dimiliki biasanya masih berfungsi dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti komunikasi, bekerja, hingga hiburan. Kebiasaan mengikuti tren teknologi tanpa pertimbangan yang matang justru membuat pengeluaran untuk gadget menjadi sangat besar.

Selain mahal, nilai ponsel juga mengalami penurunan harga yang sangat cepat seiring perkembangan teknologi. Dalam satu tahun saja, harga jual ponsel bisa turun hingga 30—40 persen dari harga awalnya. Artinya, jika kamu terlalu sering mengganti ponsel, uang yang dikeluarkan tidak memberikan nilai jangka panjang karena perangkat tersebut cepat kehilangan nilai.

2. Membeli air mineral botol setiap hari

ilustrasi minum air (pexels.com/Thomas Chauke.)

Harga satu botol air mineral memang terlihat murah dan sering dianggap pengeluaran kecil yang tidak perlu dipikirkan. Namun, jika kamu membelinya setiap hari saat bekerja atau beraktivitas di luar rumah, total pengeluaran tersebut bisa terus bertambah tanpa disadari. Kebiasaan kecil seperti ini sering menjadi penyebab kebocoran keuangan yang tidak terasa.

Jika satu botol air mineral seharga Rp5 ribu dibeli setiap hari, pengeluaran bulanan bisa mencapai sekitar Rp150 ribu. Dalam satu tahun, jumlahnya bahkan bisa mencapai sekitar Rp1,8 juta hanya untuk air minum kemasan. Padahal, kamu bisa membawa botol minum sendiri dari rumah yang jauh lebih hemat sekaligus membantu mengurangi sampah plastik.

3. Makan siang di luar setiap hari kerja

ilustrasi makan siang (freepik.com/freepik)

Bagi banyak pekerja, membeli makan siang di luar sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Selain lebih praktis, pilihan makanan yang beragam sering membuat orang lebih memilih makan di luar dibanding membawa bekal dari rumah. Namun, kebiasaan ini sebenarnya bisa menjadi salah satu sumber pengeluaran terbesar setiap bulan.

Jika rata-rata biaya makan siang sekitar Rp50 ribu dan dilakukan selama sekitar 22 hari kerja dalam sebulan, total pengeluaran bisa mencapai lebih dari Rp1 juta. Dalam satu tahun, angka tersebut bahkan bisa menyentuh sekitar Rp13 juta hanya untuk makan siang. Menyiapkan bekal atau melakukan meal prep beberapa hari sekali bisa menjadi solusi yang jauh lebih hemat.

4. Berlangganan terlalu banyak layanan hiburan digital

ilustrasi nonton (pexels.com/cottonbro studio)

Di era digital, banyak layanan hiburan menawarkan sistem langganan bulanan yang terlihat murah dan praktis. Mulai dari layanan streaming film, musik, hingga aplikasi premium lainnya sering kali ditawarkan dengan harga yang tampak terjangkau. Namun, ketika jumlah langganan semakin banyak, total pengeluarannya bisa menjadi cukup besar.

Sebagian orang bahkan memiliki empat hingga lima layanan langganan sekaligus tanpa benar-benar memanfaatkannya secara maksimal. Jika setiap layanan berharga sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, total biaya bulanan bisa mencapai Rp300 ribu sampai Rp500 ribu. Oleh karena itu, sebaiknya kamu memilih satu atau dua layanan yang benar-benar sering digunakan agar pengeluaran tetap terkendali.

5. Membeli suplemen tanpa kebutuhan jelas

ilustrasi obat (pexels.com/Pixabay)

Produk suplemen kesehatan seperti vitamin tambahan, kolagen, atau minuman detoks sering dipromosikan sebagai cara cepat untuk menjaga kesehatan tubuh. Iklan yang menarik dan klaim manfaat yang besar membuat banyak orang tergoda untuk membeli berbagai produk tersebut. Padahal, tidak semua orang benar-benar membutuhkan suplemen tambahan.

Sebagian besar kebutuhan nutrisi sebenarnya dapat dipenuhi dari pola makan yang seimbang dan gaya hidup sehat. Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, dan rutin berolahraga sudah cukup membantu menjaga kondisi tubuh tetap optimal. Oleh karena itu, suplemen sebaiknya dikonsumsi hanya jika memang direkomendasikan oleh dokter atau ahli gizi.

6. Membeli aksesori hewan peliharaan secara berlebihan

ilustrasi hewan peliharaan (pexels.com/Yuliya Strizhkina)

Banyak pemilik hewan peliharaan senang membeli berbagai aksesori lucu untuk hewan kesayangannya. Mulai dari pakaian khusus, mainan mahal, hingga stroller untuk kucing atau anjing sering dijual dengan tampilan yang menarik. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa membuat pengeluaran meningkat cukup signifikan.

Padahal kebutuhan utama hewan peliharaan sebenarnya tidak terlalu banyak. Hewan hanya membutuhkan makanan yang bergizi, tempat tinggal yang bersih, serta perawatan kesehatan secara rutin. Membeli aksesori tambahan memang boleh saja, tetapi sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak menjadi pengeluaran yang berlebihan.

7. Membeli buku yang akhirnya hanya menumpuk di rak

ilustrasi rak buku (pexels.com/hello aesthe)

Diskon besar dan tampilan sampul yang menarik sering membuat seseorang membeli buku secara impulsif. Banyak orang membeli buku dengan niat ingin membaca suatu hari nanti, tetapi akhirnya buku tersebut hanya tersimpan di rak tanpa pernah dibuka. Kebiasaan seperti ini membuat uang yang dikeluarkan menjadi kurang bermanfaat.

Jika satu buku rata-rata seharga Rp100 ribu dan kamu membeli banyak buku tanpa benar-benar membacanya, total pengeluaran bisa mencapai jutaan rupiah. Uang tersebut sebenarnya bisa digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Sebaiknya beli buku ketika kamu benar-benar ingin membacanya atau memanfaatkan perpustakaan serta e-book.

8. Membeli terlalu banyak produk skincare dengan fungsi sama

ilustrasi skincare (pexels.com/Polina)

Industri kecantikan terus menghadirkan berbagai produk skincare dengan klaim manfaat yang berbeda-beda. Hal ini membuat banyak orang tergoda mencoba berbagai produk sekaligus dalam rutinitas perawatan kulit mereka. Akibatnya, pengeluaran untuk skincare bisa meningkat cukup besar setiap bulan.

Padahal rutinitas perawatan kulit dasar sebenarnya cukup sederhana. Biasanya hanya membutuhkan tiga produk utama, yaitu pembersih wajah, pelembap, dan tabir surya. Produk tambahan memang bisa digunakan jika diperlukan, tetapi sebaiknya tidak membeli terlalu banyak produk dengan fungsi yang sama.

9. Membeli pakaian murah yang cepat rusak

ilustrasi belanja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Pakaian murah sering terlihat menarik karena harganya terjangkau dan mengikuti tren terbaru. Banyak orang akhirnya membeli pakaian tersebut tanpa mempertimbangkan kualitas bahan dan daya tahannya. Akibatnya, pakaian tersebut cepat rusak atau tidak nyaman dipakai setelah beberapa kali digunakan.

Sebaliknya, pakaian dengan kualitas lebih baik biasanya dapat digunakan dalam waktu yang jauh lebih lama. Meskipun harganya sedikit lebih mahal, pakaian tersebut justru memberikan nilai yang lebih baik dalam jangka panjang. Dengan memilih kualitas yang baik, kamu tidak perlu terus-menerus membeli pakaian baru.

10. Membeli kopi atau minuman kekinian terlalu sering

ilustrasi minum kopi (pexels.com/MART PRODUCTION)

Minuman kopi kekinian atau boba sering menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang, terutama bagi pekerja muda di kota besar. Harga satu gelas yang berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp30 ribu memang terlihat kecil jika dibeli sesekali. Namun, jika kebiasaan ini dilakukan hampir setiap hari, total pengeluaran bisa menjadi cukup besar.

Jika kamu membeli minuman tersebut setiap hari kerja, pengeluaran bulanan bisa mencapai sekitar Rp500 ribu. Dalam satu tahun, jumlahnya bahkan bisa mencapai sekitar Rp6 juta hanya untuk minuman. Padahal membuat kopi sendiri di rumah bisa jauh lebih hemat tanpa mengurangi kenikmatan.

Mengurangi pengeluaran kecil yang tidak penting dapat memberikan dampak besar bagi kondisi keuanganmu. Dengan menghindari beberapa kebiasaan belanja di atas, kamu berpotensi menghemat jutaan rupiah setiap tahun tanpa harus mengubah gaya hidup secara drastis. Uang tersebut bisa dialihkan untuk tabungan, dana darurat, atau investasi yang lebih bermanfaat bagi masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team