ilustrasi bermain saham (pexels.com/Liza Summer)
Setelah seluruh arus kas masa depan dan terminal value didiskontokan ke nilai sekarang, hasilnya dapat digunakan untuk memperkirakan enterprise value. Jika menggunakan free cash flow to firm, investor kemudian perlu menyesuaikan nilai tersebut dengan posisi kas dan utang untuk memperoleh perkiraan equity value.
Nilai ekuitas selanjutnya dapat dibagi dengan jumlah saham yang beredar untuk memperoleh estimasi nilai intrinsik per saham. Misalnya, jika nilai ekuitas diperkirakan Rp10 triliun dan jumlah saham beredar 10 miliar lembar, nilai intrinsiknya menjadi Rp1.000 per saham. Hasil tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan harga saham di pasar sebagai bagian dari analisis.
Metode DCF memberikan kerangka untuk memperkirakan nilai intrinsik saham berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas pada masa depan. Prosesnya dimulai dari menentukan free cash flow, membuat proyeksi, memilih tingkat diskonto, menghitung terminal value, lalu mengubah nilai perusahaan menjadi estimasi nilai per saham. Karena sebagian besar inputnya merupakan asumsi, hasil DCF bukan angka pasti.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya menggunakan satu skenario dalam menghitung DCF. Perubahan kecil pada pertumbuhan, margin, WACC, atau terminal growth dapat menghasilkan nilai intrinsik yang berbeda. Membuat skenario konservatif, moderat, dan optimistis dapat membantu melihat seberapa sensitif hasil valuasi terhadap perubahan asumsi.