Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Menghitung Valuasi Nilai Saham dengan Metode DCF

4 min read
Cara Menghitung Valuasi Nilai Saham dengan Metode DCF
Ilustrasi Pria Sedang Mencatat Valuasi Saham (pixabay)
  • Metode DCF memperkirakan nilai intrinsik saham dari arus kas bebas masa depan yang diproyeksikan berdasarkan data historis, pertumbuhan pendapatan, margin, belanja modal, dan kondisi industri.
  • Arus kas proyeksi didiskontokan ke nilai saat ini memakai tingkat diskonto, umumnya WACC; terminal value menghitung nilai bisnis setelah periode proyeksi dengan asumsi pertumbuhan jangka panjang.
  • Nilai kini arus kas dan terminal value menghasilkan enterprise value, lalu disesuaikan dengan kas serta utang menjadi equity value per saham; hasilnya sensitif terhadap asumsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menentukan apakah harga sebuah saham tergolong mahal atau murah tidak cukup hanya dengan melihat harga di layar perdagangan. Investor perlu memahami berapa kira-kira nilai bisnis yang berada di balik saham tersebut. Salah satu metode yang sering digunakan untuk memperkirakan nilai intrinsik perusahaan adalah Discounted Cash Flow atau DCF.

Metode DCF mencoba menghitung nilai perusahaan berdasarkan perkiraan arus kas yang dapat dihasilkan pada masa depan. Arus kas tersebut kemudian dikonversi ke nilai saat ini menggunakan tingkat diskonto tertentu. Lantas, bagaimana cara menghitung valuasi saham menggunakan metode DCF?

  1. 1. Mulai dari menghitung arus kas bebas

    ilustrasi analisis arus kas keuangan
    ilustrasi analisis arus kas keuangan (pexels.com/ Tima Miroshnichenko)

    Langkah pertama dalam DCF adalah menentukan free cash flow atau arus kas bebas yang menjadi dasar perhitungan. Secara sederhana, arus kas bebas menunjukkan uang yang tersedia bagi penyedia modal setelah kebutuhan operasional dan investasi tertentu diperhitungkan. Data historis perusahaan biasanya digunakan sebagai titik awal sebelum membuat proyeksi.

    Investor kemudian perlu memperkirakan bagaimana arus kas tersebut akan berkembang pada beberapa tahun mendatang. Asumsi pertumbuhan sebaiknya tidak dibuat terlalu optimistis tanpa dasar. Pertumbuhan pendapatan, margin, kebutuhan belanja modal, serta kondisi industri dapat digunakan untuk menyusun proyeksi yang lebih masuk akal.

  2. 2. Proyeksikan arus kas beberapa tahun ke depan

    Mengelola arus kas agar paham operasional bisnis kecil.
    ilustrasi mengelola arus kas (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Setelah mendapatkan angka dasar, langkah berikutnya adalah membuat proyeksi free cash flow. Misalnya, investor membuat proyeksi untuk lima tahun dengan asumsi pertumbuhan tertentu setiap tahunnya. Setiap tahun akan menghasilkan angka arus kas yang berbeda sesuai dengan asumsi yang digunakan.

    Contohnya, jika free cash flow tahun pertama diperkirakan Rp100 miliar dan tumbuh 8 persen per tahun, maka tahun berikutnya dapat diproyeksikan menjadi sekitar Rp108 miliar. Perhitungan kemudian dilanjutkan hingga periode proyeksi selesai. Angka tersebut masih berupa estimasi sehingga hasil valuasi sangat bergantung pada kualitas asumsi yang digunakan.

  3. 3. Tentukan tingkat diskonto

    ilustrasi working capital bisnis
    ilustrasi working capital bisnis (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Arus kas yang diterima perusahaan pada masa depan tidak dianggap memiliki nilai yang sama dengan uang yang tersedia saat ini. Karena itu, DCF menggunakan tingkat diskonto untuk mengubah nilai arus kas masa depan menjadi nilai sekarang. Tingkat diskonto ini biasanya berkaitan dengan risiko dan biaya modal perusahaan.

    Salah satu pendekatan yang sering digunakan untuk perusahaan adalah Weighted Average Cost of Capital atau WACC. Semakin tinggi tingkat diskonto, semakin rendah nilai sekarang dari arus kas masa depan. Sebaliknya, tingkat diskonto yang lebih rendah dapat menghasilkan nilai perusahaan yang lebih tinggi.

  4. 4. Hitung terminal value

    ilustrasi laporan keuangan, finance report, financial report, investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif, analisis
    ilustrasi laporan keuangan, finance report, financial report, investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif, analisis (vecteezy.com/Tatyana Makarova)

    Proyeksi DCF biasanya hanya dibuat untuk periode tertentu, misalnya lima tahun. Padahal perusahaan diasumsikan masih dapat menghasilkan arus kas setelah periode tersebut berakhir. Karena itu, diperlukan terminal value untuk memperkirakan nilai bisnis setelah periode proyeksi.

    Salah satu metode yang sering digunakan adalah perpetuity growth method. Dalam metode ini, arus kas setelah tahun proyeksi diasumsikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan jangka panjang tertentu. Asumsi pertumbuhan terminal sebaiknya dibuat konservatif karena perubahan kecil pada angka tersebut dapat memberikan pengaruh cukup besar terhadap hasil valuasi.

  5. 5. Ubah nilai perusahaan menjadi nilai per saham

    ilustrasi bermain saham
    ilustrasi bermain saham (pexels.com/Liza Summer)

    Setelah seluruh arus kas masa depan dan terminal value didiskontokan ke nilai sekarang, hasilnya dapat digunakan untuk memperkirakan enterprise value. Jika menggunakan free cash flow to firm, investor kemudian perlu menyesuaikan nilai tersebut dengan posisi kas dan utang untuk memperoleh perkiraan equity value.

    Nilai ekuitas selanjutnya dapat dibagi dengan jumlah saham yang beredar untuk memperoleh estimasi nilai intrinsik per saham. Misalnya, jika nilai ekuitas diperkirakan Rp10 triliun dan jumlah saham beredar 10 miliar lembar, nilai intrinsiknya menjadi Rp1.000 per saham. Hasil tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan harga saham di pasar sebagai bagian dari analisis.

    Metode DCF memberikan kerangka untuk memperkirakan nilai intrinsik saham berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas pada masa depan. Prosesnya dimulai dari menentukan free cash flow, membuat proyeksi, memilih tingkat diskonto, menghitung terminal value, lalu mengubah nilai perusahaan menjadi estimasi nilai per saham. Karena sebagian besar inputnya merupakan asumsi, hasil DCF bukan angka pasti.

    Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya menggunakan satu skenario dalam menghitung DCF. Perubahan kecil pada pertumbuhan, margin, WACC, atau terminal growth dapat menghasilkan nilai intrinsik yang berbeda. Membuat skenario konservatif, moderat, dan optimistis dapat membantu melihat seberapa sensitif hasil valuasi terhadap perubahan asumsi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More