Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hal yang Jangan Kamu Lakukan saat Cemas dengan Kondisi Keuangan
ilustrasi cemas, khawatir, berita, medsos (vecteezy.com/Ginanjar Hutomo Bangun)

Rasa cemas soal keuangan bisa muncul kapan saja, apalagi ketika muncul berita tentang gejolak ekonomi, pasar saham yang berfluktuasi, atau kebijakan pemerintah yang memengaruhi kondisi finansial. Dalam situasi seperti ini, banyak orang terdorong mengambil keputusan secara cepat karena takut mengalami kerugian yang lebih besar.

Padahal, keputusan yang dibuat saat emosi sedang gak stabil sering kali justru membawa dampak buruk dalam jangka panjang, lho. Para pakar keuangan pun mengingatkan bahwa kepanikan bukanlah dasar yang baik untuk mengatur uang.

Daripada bereaksi secara impulsif, lebih baik kamu menenangkan diri terlebih dahulu agar bisa melihat situasi dengan lebih jernih. Berikut lima hal yang sebaiknya jangan kamu lakukan saat rasa cemas terhadap kondisi keuangan mulai muncul.

1. Langsung memindahkan semua uang atau investasi

ilustrasi investasi (magnific.com/drobotdean)

Saat mendengar kabar ekonomi sedang tak menentu, mungkin muncul keinginan untuk segera menarik tabungan, menjual investasi, atau memindahkan seluruh uang ke tempat yang dianggap lebih aman. Sekilas keputusan ini memang terasa bisa mengurangi rasa khawatir. Namun, tindakan yang dilakukan karena panik justru berisiko membuatmu kehilangan peluang keuntungan di masa depan, lho.

Aja Evans, seorang financial therapist, menjelaskan bahwa ketika seseorang sedang sangat cemas, sebaiknya jangan mengambil keputusan untuk memindahkan uang terlebih dahulu. Menurutnya, penting untuk menunggu hingga kondisi emosi lebih tenang sehingga setiap keputusan finansial dibuat berdasarkan pertimbangan yang rasional, bukan rasa takut sesaat. Dengan cara itu, kamu bisa melihat situasi secara lebih objektif dan mengurangi risiko mengambil keputusan yang nantinya justru disesali.

2. Membuat keputusan keuangan secara terburu-buru

ilustrasi investasi (pexels.com/Artem Podrez)

Kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian sering membuat orang merasa harus segera bertindak. Akibatnya, banyak keputusan diambil tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Padahal, keputusan finansial yang terburu-buru sering kali hanya memberikan rasa lega sementara, tapi bisa memunculkan masalah baru di kemudian hari.

Brent Schutte, Chief Investment Officer di Northwestern Mutual, menyampaikan bahwa ketidakpastian memang bisa membuat banyak orang meragukan keputusan keuangan mereka. Namun, ia mengingatkan bahwa bereaksi karena rasa takut sering kali lebih merugikan daripada kondisi pasar itu sendiri. Ia juga menilai bahwa investor sebaiknya menghindari keputusan spontan dan tetap fokus pada tujuan keuangan jangka panjang.

3. Belanja hanya untuk menghilangkan rasa cemas

ilustrasi belanja (pexels.com/Ron Lach)

Saat stres, membeli barang baru memang bisa memberikan perasaan senang dalam waktu singkat. Gak heran jika sebagian orang memilih berbelanja sebagai pelarian ketika sedang khawatir dengan kondisi keuangan. Sayangnya, kebiasaan ini justru bisa memperburuk keadaan karena pengeluaran bertambah tanpa benar-benar menyelesaikan sumber masalahnya.

Aja Evans menyarankan agar seseorang mencari cara mengatasi stres yang gak membutuhkan biaya. Misalnya berjalan-jalan di luar rumah, mengobrol dengan keluarga atau teman, menonton tayangan yang menghibur, atau sekadar mandi air hangat. Aktivitas sederhana seperti itu dapat membantu menenangkan pikiran sehingga kamu gak terdorong mengambil keputusan finansial hanya demi meredakan kecemasan sesaat.

4. Terlalu sering mengecek nilai investasi

ilustrasi investasi (pexels.com/RDNE Stock project)

Ketika pasar sedang bergejolak, banyak orang terus-menerus membuka aplikasi investasi untuk melihat apakah nilainya naik atau turun. Kebiasaan ini justru bisa membuat rasa cemas semakin besar karena setiap penurunan kecil terasa seperti ancaman serius. Akibatnya, kamu lebih mudah tergoda untuk menjual aset hanya karena melihat penurunan sementara.

Banyak pakar investasi menyarankan agar investor gak terlalu sering memantau portofolionya ketika pasar sedang berfluktuasi. Pergerakan harga dalam jangka pendek merupakan hal yang wajar, sedangkan tujuan investasi umumnya bersifat jangka panjang. Dengan mengurangi frekuensi mengecek investasi, kamu juga bisa menjaga kondisi emosimu tetap lebih stabil.

5. Menghadapi semuanya sendirian tanpa meminta bantuan

ilustrasi cemas, takut, stres (magnific.com/DC Studio)

Gak sedikit orang merasa harus menyelesaikan seluruh persoalan keuangan seorang diri. Padahal, ketika kecemasan sudah memengaruhi cara berpikir, sudut pandang orang lain sering kali dibutuhkan agar keputusan yang diambil lebih objektif. Memaksakan diri menentukan langkah sendirian justru bisa membuatmu semakin bingung, lho.

Jika memang merasa perlu mengubah strategi keuangan, jangan ragu berkonsultasi dengan penasihat keuangan atau ahli yang kompeten. Brent Schutte menjelaskan bahwa seorang financial advisor dapat membantu menyesuaikan rencana keuangan sesuai kondisi saat ini tanpa mengorbankan tujuan jangka panjang. Dengan begitu, keputusan yang diambil lebih terarah dan bukan didorong oleh rasa panik.

Merasa cemas terhadap kondisi keuangan adalah hal yang wajar, terutama ketika situasi ekonomi sedang dipenuhi ketidakpastian. Namun, rasa takut sebaiknya jangan dijadikan dasar untuk mengambil keputusan penting terkait uang atau investasi.

Menenangkan diri terlebih dahulu, menghindari tindakan impulsif, serta meminta masukan dari orang yang tepat akan membantumu melihat situasi secara lebih objektif. Ingat, keputusan finansial terbaik biasanya lahir dari pikiran yang tenang, bukan dari kepanikan sesaat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article