Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Bisnis Tanaman Cocok Dijalankan ketika Nganggur?
ilustrasi bisnis tanaman (unsplash.com/Vitaly Gariev)
  • Bisnis tanaman fleksibel dan tidak butuh pengawasan terus-menerus.

  • Modalnya kecil karena bisa mulai dari tanaman yang sudah ada di rumah.

  • Potensi untung tinggi karena tanaman bisa diperbanyak berkali-kali.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bisnis tanaman tidak butuh kantor, karyawan, dan modal besar untuk mulai. Banyak orang menjadikannya penghasilan tambahan yang dijalankan dari rumah pada sela-sela waktu nganggur. Ternyata hasilnya tidak main-main, lho.

Justru karena sifatnya yang fleksibel, bisnis ini cocok untuk siapa saja yang belum punya banyak waktu atau modal, tapi ingin tetap produktif. Berikut alasan kenapa bisnis tanaman masuk akal untuk dicoba. Simak, ya!

1. Tanaman tidak butuh diawasi setiap saat seperti bisnis lain

ilustrasi bisnis tanaman (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Berbeda dengan jualan makanan atau jasa yang butuh kehadiran aktif, tanaman tumbuh sendiri meski kamu tidak sedang memperhatikannya. Kamu bisa menyiram pagi hari, pergi beraktivitas, dan kembali sore tanpa ada yang berantakan. Tidak ada pesanan yang hangus, bahan baku yang basi, atau pelanggan yang menunggu terlalu lama.

Ini yang membuat bisnis tanaman sangat ramah untuk orang dengan jadwal tidak menentu. Mahasiswa, ibu rumah tangga, atau orang yang sedang di antara dua pekerjaan bisa menjalankannya tanpa harus mengorbankan agenda utama. Waktu senggang yang biasanya terbuang justru jadi sesi merawat stok yang nilainya terus bertambah seiring tanaman tumbuh.

2. Modal awal bisnis tanaman bisa dimulai dari yang sudah ada di rumah

ilustrasi tanaman (unsplash.com/Lasma Balode)

Banyak orang tidak menyadari bahwa tanaman yang sudah ada di rumah bisa jadi sumber bibit gratis. Pothos, sirih gading, lidah mertua, dan berbagai tanaman hias populer bisa diperbanyak hanya dari stek batang yang direndam air selama beberapa hari. Kamu tidak perlu beli bibit atau pot mahal. Media tanam seperti sekam atau serbuk sabut kelapa (cocopeat) harganya sangat terjangkau di toko pertanian.

Modal awal yang realistis untuk memulai bisnis tanaman skala kecil berkisar Rp50 ribu–Rp200 ribu, tergantung jenis tanaman yang dipilih. Dengan jumlah itu, kamu sudah bisa menghasilkan puluhan bibit siap jual dalam hitungan minggu. Keuntungannya pun langsung bisa diputar untuk memperluas variasi tanaman yang dijual.

3. Pasar tanaman hias di Indonesia tumbuh dan tidak pernah benar-benar sepi

ilustrasi tanaman hias (unsplash.com/snake v.)

Tren tanaman hias di Indonesia meledak sejak beberapa tahun terakhir dan sampai sekarang pasarnya masih aktif bergerak. Monstera, Aglaonema, Philodendron, dan kaktus mini terus dicari orang baik untuk dekorasi rumah maupun sebagai kado. Pembeli tanaman bukan hanya kalangan tertentu. Anak muda, ibu rumah tangga, sampai pelaku bisnis properti pun rutin membeli tanaman untuk berbagai kebutuhan.

Platform seperti Tokopedia, Shopee, dan TikTok Shop pun membuat jangkauan penjualan tidak terbatas pada lingkungan sekitar. Satu foto tanaman yang bagus bisa menarik pembeli dari kota lain tanpa kamu harus ke mana-mana. Pengiriman tanaman pun sudah semakin mudah karena banyak ekspedisi yang melayani paket tanaman dengan pengemasan khusus.

4. Merawat tanaman setiap hari tidak terasa seperti kerja

ilustrasi merawat tanaman (unsplash.com/Annie Spratt)

Salah satu keunggulan bisnis tanaman yang jarang disebut ialah aspek mentalnya. Merawat tanaman bisa menurunkan level stres dan memberikan rasa kepuasan tersendiri saat melihat pertumbuhan yang terjadi pelan-pelan. Ini membuat aktivitas bisnisnya tidak terasa seperti beban meski dilakukan setiap hari.

Berbeda dengan bisnis lain yang bisa memicu kecemasan soal target dan tenggat, bisnis tanaman punya ritme yang lebih tenang serta manusiawi. Kamu tidak bisa memaksa tanaman tumbuh lebih cepat dan justru penerimaan itu yang membuat banyak pelakunya bertahan lama. Bisnis yang menyenangkan untuk dijalankan ialah bisnis yang paling mudah untuk konsisten.

5. Satu indukan tanaman bisa menghasilkan puluhan anakan tanpa biaya tambahan

ilustrasi propagasi tanaman (unsplash.com/Zoe Richardson)

Konsep propagasi atau perbanyakan tanaman jadi alasan inti mengapa bisnis ini punya margin keuntungan yang tinggi. Satu tanaman sirih gading dewasa, misalnya, bisa menghasilkan 20–30 stek dalam sekali pangkas. Setiap stek itu dijual seharga Rp5 ribu hingga Rp15 ribu, tergantung ukuran dan kondisi. Artinya, satu indukan bisa menghasilkan ratusan ribu rupiah dalam sekali siklus.

Semakin banyak indukan yang kamu punya, semakin besar kapasitas produksinya tanpa harus menambah biaya yang signifikan. Beberapa penjual tanaman rumahan bahkan berhasil meraup jutaan rupiah per bulan hanya dari halaman belakang rumah mereka. Kuncinya konsisten memperbanyak stok sejak awal meski belum ada pembeli. Lantas, saat permintaan datang, kamu sudah punya stok yang siap.

Bisnis tanaman bukan bisnis yang glamor, tapi justru di situlah kelebihannya. Modalnya kecil, risikonya rendah, dan bisa dijalankan tanpa mengganggu aktivitas utama apa pun yang sedang kamu jalani. Kalau selama ini waktu nganggur hanya habis untuk main media sosial, mungkin sudah waktunya sebagian dari waktu itu dialihkan ke sesuatu yang tumbuh dan menghasilkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎