Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tanpa Disadari, Ini 5 Kesalahan Umum dalam Mengelola Uang Keluarga

ilustrasi membuat anggaran finansial
ilustrasi membuat anggaran finansial (pexels.com/olia danilevich)
Intinya sih...
  • Kurangnya komunikasi dan pembagian peran keuangan sering memicu konflik serta keputusan finansial yang keliru.
  • Pengeluaran impulsif dan utang konsumtif dapat perlahan menggerus kestabilan keuangan keluarga.
  • Minimnya tabungan jangka panjang, terutama dana pensiun, membuat keluarga rentan pada masa depan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Masih banyak yang beranggapan bahwa mengelola keuangan keluarga hanya perihal mencukupi pengeluaran hingga akhir bulan. Namun, di balik rutinitas membayar tagihan, belanja kebutuhan rumah tangga, dan menabung, masih ada banyak keputusan kecil yang tanpa disadari memengaruhi kestabilan finansial jangka panjang. Sayangnya, banyak keluarga baru menyadari adanya masalah keuangan saat kondisi sudah terlanjur sulit, misalnya ketika tabungan terkuras atau utang mulai menumpuk.

Padahal, sebagian besar masalah keuangan keluarga bukan disebabkan oleh penghasilan yang terlalu kecil, melainkan karena kesalahan pengelolaan uang yang dilakukan berulang. Kesalahan ini kerap terlihat sepele dan dianggap wajar, padahal jika dibiarkan terus-menerus, dampaknya bisa besar. Berikut beberapa kesalahan umum dalam mengelola uang keluarga yang penting untuk dikenali sejak dini.

1. Gagal membagi tanggung jawab keuangan antara suami dan istri

ilustrasi suami istri berbagi pengeluaran
ilustrasi suami istri berbagi pengeluaran (pexels.com/Karolina Grabowska)

Setelah resmi menjadi suami istri, kamu dan pasangan wajib berdiskusi dan menentukan dengan jelas tanggung jawab keuangan masing-masing. Sebagai contoh, sewa rumah dan kendaraan menjadi tanggung jawab suami, sementara istri bertugas berbelanja kebutuhan sehari-hari dan tabungan. Jika tanggung jawab keuangan tidak dibagi sejak awal, kamu dan pasangan akan sepenuhnya pasif dan tidak tahu harus berbuat apa ketika dibutuhkan sejumlah besar uang. Namun ingat, pembagian ini idealnya sesuai pendapatan masing-masing dan kesepakatan bersama.

2. Selalu mengiyakan semua keinginan anak

ilustrasi ibu dan anak sedang berbelanja
ilustrasi ibu dan anak sedang berbelanja (pexels.com/Kamaji Ogino)

Sebagai orangtua, wajar kalau kamu selalu merasa ingin mengabulkan semua keinginan anak-anak. Namun, menjadi panutan yang baik berarti mengajarkan anak-anak bahwa mereka tidak dapat memiliki semua yang mereka inginkan. Menjelaskan mengapa kamu tidak bisa menyanggupi semua yang mereka inginkan akan membantu mereka mengidentifikasi keinginan versus kebutuhan. Inilah cara anak-anak melangkah menuju kemandirian finansial mereka sendiri. Poin plusnya, dengan belajar mengatakan "tidak", ini akan mengurangi beban finansialmu!

3. Tidak melibatkan pasangan dalam keputusan keuangan

ilustrasi suami memberikan uang pada istri
ilustrasi suami memberikan uang pada istri (pexels.com/Lukas)

Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah kurangnya transparansi antar pasangan dalam mengelola keuangan. Saat satu pihak memegang kendali penuh tanpa komunikasi terbuka, potensi konflik keuangan akan semakin besar. Jadi, pastikan kamu dan pasangan mengalokasikan waktu untuk diskusi rutin tentang keuangan keluarga. Cara ini akan  membantu menyamakan tujuan, mengurangi kesalahpahaman, dan membangun rasa tanggung jawab bersama dalam mengatur keuangan.

4. Terlalu bergantung pada utang konsumtif

ilustrasi mencatat utang
ilustrasi mencatat utang (freepik.com/rawpixel.com)

Penggunaan kartu kredit atau paylater untuk kebutuhan konsumtif sering dianggap solusi praktis. Apalagi untuk keluarga baru yang seringkali masih harus beradaptasi dalam mengatur keuangan. Namun, jika tidak dikendalikan, utang jenis ini bisa menjadi jebakan finansial. Cicilan kecil yang terlihat ringan bisa menumpuk dan membebani arus kas bulanan. Jika kamu memang benar-benar membutuhkan kartu kredit atau paylater, pastikan kamu menggunakannya secara sadar dan hanya untuk kebutuhan yang benar-benar produktif atau mendesak.

5. Memiliki sedikit atau tidak memiliki tabungan pensiun

ilustrasi dana pensiun
ilustrasi dana pensiun (freepik.com/freepik)

Percayalah, usia pensiun akan datang lebih cepat dari yang kamu sadari. Dan, seringkali pensiun bukan hanya tentang menikmati hidup di masa tua, tapi juga kenyataan bahwa di usia tua kamu membutuhkan lebih banyak biaya kesehatan. Jadi, pastikan kamu sudah menabung biaya pensiun sejak dini.

Tabungan pensiun tidak harus langsung besar, yang penting kamu konsisten menyisihkan sedikit pendapatan setiap bulannya. Selain itu, semakin cepat kamu menabung, semakin ringan bebanmu di kemudian hari. Tak kalah penting, pertimbangkan untuk memiliki asuransi kesehatan. Minimal sekali kamu memiliki BPJS yang aktif dan rutin dibayar setiap bulannya.

Mengelola uang keluarga memang membutuhkan proses dan penyesuaian. Dengan mengenali kesalahan-kesalahan umum di atas, keluarga dapat mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa dampak besar bagi keamanan dan kenyamanan hidup keluarga di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Business

See More

CEK FAKTA: Benarkah Bali Sepi Wisatawan saat Momen Libur Nataru?

01 Jan 2026, 10:00 WIBBusiness