Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Naik 3 Persen
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)
  • Harga Brent naik 3,58 persen menjadi 91,25 dolar AS per barel dan WTI menguat 3,55 persen menjadi 86,36 dolar AS, setelah konflik militer AS-Iran kembali memanas.
  • Serangan AS di Pulau Larak dan balasan Iran ke pangkalan udara AS di Yordania memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi, terutama di Selat Hormuz.
  • Potensi sanksi sekunder AS terhadap Iran serta turunnya lalu lintas Selat Hormuz menambah premi risiko minyak, sementara potensi pasokan Venezuela belum menjadi fokus utama pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 3 persen pada Senin (31/8/2026) setelah konflik militer Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Data Reuters menunjukkan minyak mentah Brent naik 3,15 dolar AS (setara Rp56,6 ribu) atau 3,58 persen menjadi 91,25 dolar AS (setara Rp1,64 juta) per barel pada pukul 09.03 GMT, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,96 dolar AS (setara Rp53,2 ribu) atau 3,55 persen ke 86,36 dolar AS (setara Rp1,55 juta) per barel.

Kenaikan tersebut berkaitan dengan ketegangan militer pertama dalam sebulan yang membuat konflik kedua negara memasuki bulan keenam, setelah pasukan AS menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz, pada Minggu (30/8/2026). Pihak Iran disebut membalas dengan menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, meski militer Yordania menyatakan delapan rudal berhasil dicegat.

1. Serangan militer memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global

Pulau Kharg (Unknown author, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Konflik yang kembali memanas meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan terganggunya pasokan energi dunia, sedangkan analis UBS Giovanni Staunovo menyebut serangan militer baru di Timur Tengah dan risiko gangguan pasokan minyak sebagai faktor yang mendorong kenaikan harga.

“Serangan militer yang diperbarui di Timur Tengah dan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak lebih lanjut telah menaikkan harga minyak,” kata Staunovo, dikutip CNA.

Staunovo menyebut perhatian pasar kini mengarah pada peluang deeskalasi situasi di kawasan tersebut. Kepanikan pasar juga muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengunggah video berbasis kecerdasan buatan (AI) di media sosial yang mengklaim pusat energi Iran di Pulau Kharg telah dihancurkan tanpa bukti independen.

Pihak Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan fasilitas itu tetap beroperasi normal. Pulau Kharg memiliki peran penting dalam ekspor minyak Iran karena menangani sekitar 90 persen ekspor minyak negara tersebut, dengan kapasitas pemuatan mencapai 7 juta barel per hari dan kemampuan penyimpanan hingga 30 juta barel.

2. Sanksi AS menambah tekanan terhadap jalur distribusi energi dunia

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Eskalasi keamanan berpotensi diikuti pengetatan sanksi ekonomi Washington. Ekonom Senior Emirates NBD Daniel Richards memperkirakan sanksi sekunder baru dari AS akan membuat risiko geopolitik terus membebani harga energi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan Washington kemungkinan menjatuhkan sanksi sekunder baru terhadap Iran setiap pekan, dimulai dari sektor perbankan yang dilarang memfasilitasi dana maupun rezim Tehran.

Benturan fisik dan sanksi ekonomi turut menekan jalur distribusi vital dunia yang belum kembali pulih, sementara kebuntuan perundingan damai membuat lalu lintas Selat Hormuz turun drastis dari seperlima pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah pada akhir Februari menjadi hanya lima kapal per hari. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengonfirmasi sebuah kapal tanker dihantam proyektil saat memasuki selat tersebut.

3. Dinamika perdagangan memengaruhi pergerakan harga minyak dunia

ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

Lompatan harga pada awal pekan turut dipengaruhi kondisi teknis perdagangan dan perkembangan politik global. Analis Saxo Bank Ole Hansen menyebut volume perdagangan yang tipis akibat libur umum di Inggris ikut memperkuat respons pasar. Chief Investment Officer Zaye Capital Markets Naeem Aslam menyebut ketegangan AS-Iran telah meningkatkan premi risiko pada minyak dari kawasan Teluk karena Selat Hormuz tetap menjadi salah satu koridor energi terpenting di dunia.

Aslam juga menyebut kesepakatan minyak Venezuela yang digagas Trump memberikan arah berbeda untuk jangka panjang. Trump mengklaim kesepakatan baru dengan Venezuela memberi AS kendali atas 65 miliar barel minyak mentah untuk mengisi Cadangan Minyak Strategis AS yang mendekati level terendah dalam 44 tahun.

Produksi Venezuela yang meningkat dan masuk ke pasar AS dinilai dapat menambah pasokan sehingga tekanan harga berpotensi mereda, tetapi Aslam mencatat pasar saat ini lebih merespons risiko pasokan di Selat Hormuz daripada potensi pasokan Venezuela yang masih membutuhkan investasi, infrastruktur, dan waktu. Harga Brent dan WTI sendiri masih mencatat penurunan tipis sepanjang Agustus setelah harga minyak anjlok lebih dari 4 persen pada pekan sebelumnya, sementara selama enam bulan konflik harga minyak mentah bergerak sangat fluktuatif dan sempat menyentuh sekitar 126 dolar AS (setara Rp2,26 juta) per barel pada April sebelum mereda seiring upaya diplomasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article