Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

LPS: 15 Juta Orang Usia Produktif Masih Belum Punya Rekening Bank

LPS: 15 Juta Orang Usia Produktif Masih Belum Punya Rekening Bank
Nasabah BPR Jepara Artha, Achmad Chusairi (kiri) mengurus pembayaran klaim simpanan di bank pembayar (Bank BRI) yang ditunjuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jepara, Jawa Tengah, Rabu (5/6/2024). (IDN Times/Dhana Kencana)
Intinya Sih
  • LPS mencatat masih ada 15 juta penduduk usia produktif belum memiliki rekening bank, meski jumlahnya turun sekitar 3 juta dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Simpanan di atas Rp5 miliar tumbuh 21,6 persen per Maret 2026, sementara simpanan kecil di bawah Rp100 juta hanya naik 1,84 persen.
  • LPS bersama anggota KSSK memperkuat kerja sama untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan melalui perluasan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, mengungkapkan masih ada 15 juta penduduk usia produktif di Indonesia yang belum memiliki rekening bank. Angka ini turun sekitar 3 juta orang dibandingkan 2025.

“Sampai saat ini masih terdapat 15 juta penduduk usia produktif yang belum memiliki rekening bank, menurun 3 juta pada 2025,” ujar Anggito saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Gedung BI, Jakarta, Kamis (7/5/2026).

1. Tabungan di atas Rp5 miliar capai 57 persen

buku tabungan dan uang
Ilustrasi buku tabungan (freepik.com/Flat lay of earning money concept rawpixel.com)

LPS juga mencatat pertumbuhan simpanan jumbo di atas Rp5 miliar masih tinggi. Hingga Maret 2026, kelompok ini tumbuh 21,6 persen secara tahunan. Sementara itu, simpanan masyarakat kecil di bawah Rp100 juta tetap tumbuh positif meski lebih rendah, yakni 1,84 persen per Mei 2026.

Pertumbuhan ini dipengaruhi penempatan dana pemerintah di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

“Kalau saya berandai-andai tanpa menghitung dana pemerintah, simpanan tetap tumbuh sekitar 9,6 persen, jadi secara natural memang tumbuh,” kata Anggito.

2. Tantangan stabilitas perbankan meningkat

Nasabah BPR Jepara Artha, Abdul Muthalib (kiri) mengurus pembayaran klaim simpanan di bank pembayar (Bank BRI) yang ditunjuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jepara, Jawa Tengah, Rabu (5/6/2024). (IDN Times/Dhana Kencana)
Nasabah BPR Jepara Artha, Abdul Muthalib (kiri) mengurus pembayaran klaim simpanan di bank pembayar (Bank BRI) yang ditunjuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jepara, Jawa Tengah, Rabu (5/6/2024). (IDN Times/Dhana Kencana)

LPS menilai bahwa tantangan stabilitas di sektor perbankan akan semakin meningkat tidak hanya dipengaruhi ketidakpastian faktor eksternal, namun juga sisi operasional.

Penguatan infrastruktur dan kapasitas teknologi informasi perlu dilakukan, terutama di bank dan lembaga jasa keuangan skala kecil yang selama ini belum secara optimal dalam mengelola aspek keamanan siber

3. Intensif memperkuat program kerja sama dalam rangka peningkatan literasi dan inklusi keuangan

Nasabah BPR Jepara Artha, Abdul Muthalib (kiri) mengurus pembayaran klaim simpanan di bank pembayar (Bank BRI) yang ditunjuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jepara, Jawa Tengah, Rabu (5/6/2024). (IDN Times/Dhana Kencana)
Nasabah BPR Jepara Artha, Abdul Muthalib (kiri) mengurus pembayaran klaim simpanan di bank pembayar (Bank BRI) yang ditunjuk Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jepara, Jawa Tengah, Rabu (5/6/2024). (IDN Times/Dhana Kencana)

LPS bersama lembaga anggota KSSK lainnya akan semakin intensif memperkuat program kerja sama dalam rangka peningkatan literasi dan inklusi keuangan, khususnya di sektor perbankan dan asuransi dengan penekanan pada penguatan perlindungan nasabah serta peningkatan kepercayaan masyarakat.

"Sejalan dengan hal tersebut, LPS bersama OJK dan BPS telah memperluas skala dan ruang lingkup Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) sejak tahun ini, sehingga diharapkan dapat diperoleh hasil pemetaan yang komprehensif sebagai dasar pengembangan program inklusi dan edukasi lintas kelompok dan wilayah," tegasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More