Purbaya Ungkap Sumber Dana Bond Stabilization Fund

- Purbaya Yudhi Sadewa menyebut Bond Stabilization Fund (BSF) bisa didanai dari Saldo Anggaran Lebih dan melibatkan lembaga di bawah Kementerian Keuangan.
- BSF disiapkan untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara agar tidak terguncang oleh aksi jual investor asing, dengan koordinasi bersama Bank Indonesia.
- Kenaikan yield SBN hingga 6,32 persen dipicu risiko global dan kebijakan suku bunga dunia, berpotensi menambah beban bunga utang dalam APBN.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang sumber pendanaan Bond Stabilization Fund (BSF) berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL). Selain itu, pendanaan juga dapat melibatkan sejumlah lembaga di bawah Kementerian Keuangan.
Purbaya mengatakan, skema BSF disiapkan untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) agar tidak mudah terguncang akibat aksi jual investor asing.
“Kalau fund betulan, desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh
Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers KSSK, Kamis (7/5/2026).
Menurut dia, pembentukan BSF akan dilakukan melalui koordinasi dengan Bank Indonesia. Namun, pemerintah menilai kebutuhan dana untuk menjaga stabilitas pasar obligasi sejauh ini masih relatif terkendali.
“Kalau melihat volumenya yang keluar selama ini kelihatannya tidak besar-besar amat. Harusnya dana kita cukup,” katanya.
Purbaya menegaskan, tujuan utama pembentukan BSF adalah menjaga stabilitas harga obligasi pemerintah agar tidak memicu gejolak di pasar keuangan domestik.
“Urgensinya cuma itu, menjaga harga bond kita supaya stabil supaya tidak menimbulkan kegaduhan di pasar modal kita,” imbuhnya.
Adapun langkah stabilisasi pasar obligasi dilakukan untuk meredam kenaikan tingkat imbal hasil (yield) surat utang pemerintah tenor 10 tahun yang telah menyentuh level 6,32 persen, dari sebelumnya sekitar 5,9 persen.
Kenaikan yield SBN dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya persepsi risiko global, volatilitas pasar keuangan, hingga arah kebijakan suku bunga dunia. Yield yang semakin tinggi juga berpotensi menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena pemerintah harus menanggung biaya bunga utang yang lebih besar.

















