Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Perbedaan Utang Produktif dan Utang Konsumtif, Pahami!
ilustrasi menyerahkan kartu debit (pexels.com/Pixabay)
  • Utang terbagi dua jenis: produktif untuk menghasilkan pendapatan dan membangun kekayaan, sedangkan konsumtif digunakan demi gaya hidup tanpa menambah nilai ekonomi.
  • Utang produktif memberi output berupa keuntungan atau aset yang nilainya naik, sementara utang konsumtif justru menurun nilainya seiring waktu.
  • Rasio utang sehat disarankan maksimal 30% dari penghasilan; utang produktif lebih dianjurkan asal dikelola baik, sedangkan utang konsumtif sebaiknya dihindari kecuali benar-benar mendesak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang pinjam uang buat dua hal, ada yang buat kerja dan ada yang buat beli barang. Kalau pinjam uang buat kerja atau sekolah, itu bisa bikin dapat uang lagi, namanya utang produktif. Tapi kalau pinjam uang cuma buat beli baju atau hape, itu nggak bikin uang balik, namanya utang konsumtif. Katanya lebih baik pakai utang yang bisa bantu hidup jadi lebih baik dan jangan kebanyakan biar nggak susah bayar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tak bisa dipungkiri, utang menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan ataupun impian seseorang. Memang tidak ada yang salah dengan berhutang, hanya saja perlu pertimbangan matang agar tidak terjebak ke dalam utang yang tidak sehat.

Tahukah kamu jika utang ternyata memiliki dua jenis yaitu utang produktif dan utang konsumtif. Keduanya memang sama-sama utang, namun memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Nah, berikut ulasannya.

1. Tujuan berhutang

Ilustrasi belanja (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dilansir Investopedia, utang dikatakan produktif jika diambil untuk membantu kita menghasilkan pendapatan dan membangun kekayaan bersih. Dengan kata lain, meminjam uang untuk menghasilkan uang. Dengan begitu utang tersebut dianggap produktif.

Sedangkan utang yang konsumtif ini hanya semata-mata untuk tujuan gengsi atau gaya hidup belaka. Umumnya dianggap utang macet karena digunakan untuk membeli aset yang terdepresiasi. Dengan kata lain nilainya tidak naik serta tidak menghasilkan pendapatan apa-apa.

2. Output yang dihasilkan

ilustrasi memegang uang (pexels.com/Alexander Mils)

Perbedaan selanjutnya bisa kita lihat dari output yang dihasilkan. Utang produktif akan menghasilkan uang serta keuntungan. Hal ini karena utang produktif cenderung digunakan untuk membeli aset yang nilainya terus bertumbuh atau membiayai aktivitas yang menghasilkan keuntungan .

Sebaliknya, utang konsumtif ini tidak menghasilkan output lebih selayaknya utang produktif, karena digunakan untuk membeli sesuatu yang nilainya semakin berkurang seiring bertambahnya waktu.

3. Contoh utang produktif vs konsumtif

ilustrasi pasangan memandang rumahnya (pexels.com/Kindel Media)

Contoh dari utang produktif adalah kredit untuk usaha atau modal kerja, kredit perumahan rakyat (KPR), dan cicilan pendidikan. Menggunakan utang untuk usaha atau modal kerja berpotensi menghasilkan profit. Begitu juga dengan KPR, karena nilai properti ini cenderung meningkat tiap tahunnya. Pendidikan yang lebih tinggi juga berpotensi menaikkan penghasilan kalian juga, lho.

Sedangkan contoh dari utang konsumtif adalah membeli kendaraan, gadget, pakaian, sepatu, dan barang-barang lain yang cenderung terus terdepresiasi. Nah, beda cerita jika barang ini kamu gunakan untuk mendapatkan penghasilan. Maka tergolong utang produktif ya.

4. Sehat secara finansial atau tidak?

ilustrasi wanita memegang uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

Memang berhutang bukanlah hal yang salah. Namun, jangan sampai utang ini membuat finansialmu tidak sehat ya.  Rasio utang yang sehat itu sebesar 30% dari total penghasilan. Perhatikan baik-baik rasio ini.

Diantara kedua jenis utang tersebut, utang produktiflah yang lebih disarankan. Tapi perlu perencanaan dan strategi yang matang juga agar terkelola dengan baik.  Sedangkan untuk utang konsumtif sebaiknya kamu lakukan hanya jika urgensi saja. Jangan sampai utang konsumtif ini membuat cash flow-mu berantakan.

5. Risiko utang yang ditimbulkan

ilustrasi menghitung keuangan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Walaupun utang produktif bertujuan untuk menghasilkan uang, namun dalam praktiknya belum tentu menghasilkan output seperti yang diharapkan. Jika tidak dikelola dengan baik maka akan memunculkan risiko gagal bayar, lho. Misalkan kamu berutang untuk aktivitas bisnis, tapi penghasilan bisnis ini tidak stabil bahkan berpotensi untuk bangkrut. Nah, kamu tetap harus siap melunasi apapun keadaannya.

Begitu juga dengan utang konsumtif, jika tidak bisa mengontrol diri dengan baik maka lama-lama akan memberatkan cash flow-mu. Jangan sampai kamu terlilit utang untuk hal-hal yang tidak penting ini. Apalagi barang dari utang konsumtif tidak bisa menghasilkan apa-apa. Jika dijual kembali nilainya juga menurun.

Itulah beberapa ulasan mengenai perbedaan utang produktif dan utang konsumtif. Ternyata keduanya  memiliki perbedaan yang mencolok ya. Nah, sebaiknya kamu lebih bijak lagi dalam mengelola utang ini, sehingga finansialmu tetap sehat.

FAQ seputar Perbedaan Utang Produktif dan Utang Konsumtif

Apa perbedaan utama utang produktif dan utang konsumtif?

Utang produktif digunakan untuk tujuan yang berpotensi menghasilkan pendapatan atau meningkatkan nilai aset, sedangkan utang konsumtif dipakai untuk kebutuhan atau keinginan yang tidak memberi tambahan nilai finansial.

Mengapa utang produktif dianggap lebih sehat secara finansial?

Karena utang produktif memiliki potensi memberi pengembalian, baik dalam bentuk keuntungan usaha, peningkatan aset, maupun peluang kenaikan penghasilan, asalkan dikelola dengan baik.

Apakah KPR termasuk utang produktif atau konsumtif?

KPR sering dikategorikan sebagai utang produktif, terutama jika properti berpotensi meningkat nilainya atau menghasilkan pendapatan, misalnya disewakan. Namun konteks penggunaannya tetap perlu dilihat.

Apakah membeli kendaraan dengan cicilan termasuk utang konsumtif?

Bisa termasuk utang konsumtif jika kendaraan dipakai untuk kebutuhan pribadi dan nilainya terus menurun. Namun jika digunakan untuk menghasilkan pendapatan, misalnya untuk usaha, bisa memiliki unsur produktif.

Bagaimana cara agar tidak terjebak utang konsumtif?

Caranya dengan memastikan tujuan berutang jelas, membatasi cicilan sesuai kemampuan bayar, menghindari pinjaman untuk kebutuhan impulsif, dan menjaga rasio utang tetap sehat terhadap penghasilan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team