Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Riset Sejarah 300 Tahun: Obligasi Selalu Tumbang di Masa Perang

Riset Sejarah 300 Tahun: Obligasi Selalu Tumbang di Masa Perang
ilustrasi investasi (freepik.com/jannoon028)
Intinya Sih
  • Riset 300 tahun menunjukkan obligasi sering merugi saat perang, dengan kerugian riil rata-rata 14% akibat daya beli yang menurun.
  • Inflasi tinggi selama konflik, sekitar 20% dalam empat tahun pertama, membuat imbal hasil obligasi tak mampu menjaga nilai investasinya.
  • Dalam masa perang, saham dan properti justru unggul hingga 20% dibanding obligasi, membuktikan status 'safe haven' tidak selalu berlaku.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah dengar kalau obligasi itu aset paling aman? Banyak investor percaya hal ini, apalagi saat kondisi ekonomi lagi gak pasti. Instrumen seperti obligasi pemerintah sering dianggap “pelindung” saat pasar saham bergejolak.

Tapi ternyata, sejarah panjang justru menunjukkan cerita yang berbeda, lho. Riset selama 300 tahun membuktikan bahwa masa perang jadi mimpi buruk bagi pemegang obligasi.

Kalau kamu sedang atau berencana investasi di obligasi, penting banget untuk memahami fakta ini. Yuk, lanjut baca biar kamu gak salah langkah!

1. Perang bikin obligasi merugi secara nyata

ilustrasi tentara militer AS
ilustrasi tentara militer AS (pexels.com/Matthew Hintz)

Riset dari lembaga Center for Economic Policy Research menunjukkan pola yang cukup mengejutkan. Dalam periode konflik besar seperti perang atau krisis global, obligasi justru memberikan kerugian nyata bagi investornya. Bahkan dalam empat tahun pertama konflik, rata-rata kerugian riil mencapai sekitar 14%.

Menurut para peneliti seperti Zhengyang Jiang dan timnya, obligasi berkali-kali gagal mempertahankan nilai ketika situasi ekstrem terjadi. Nilai uang yang kamu terima dari obligasi jadi lebih kecil daya belinya. Artinya, meskipun terlihat “aman”, sebenarnya kamu tetap kehilangan nilai kekayaan.

2. Inflasi jadi musuh utama obligasi

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Thomas Eder)
ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Thomas Eder)

Masalah terbesar dari obligasi saat perang bukan sekadar ketidakpastian, tapi inflasi yang melonjak tajam. Dalam riset yang sama, inflasi selama empat tahun pertama perang rata-rata mencapai sekitar 20%. Angka ini cukup besar untuk menggerus nilai investasi kamu.

Saat inflasi naik, imbal hasil obligasi sering kali gak bisa mengejar kenaikan harga. Akibatnya, nilai riil dari return yang kamu dapat jadi turun. Situasi ini bikin obligasi kalah dibandingkan aset lain yang lebih fleksibel terhadap inflasi.

3. Obligasi kalah dari saham dan properti

ilustrasi investasi saham
ilustrasi investasi saham (freepik.com/freepik)

Banyak orang menganggap saham dan properti lebih berisiko dibanding obligasi. Tapi fakta sejarah justru menunjukkan kebalikannya saat perang terjadi. Dalam kondisi ekstrem, obligasi malah tertinggal jauh dari kedua aset tersebut.

Penelitian tersebut menemukan bahwa return obligasi bisa tertinggal lebih dari 20% dibandingkan saham dan real estate. Artinya, aset yang dianggap “berisiko” justru bisa memberikan perlindungan lebih baik. Kondisi ini jadi pengingat bahwa persepsi risiko gak selalu sesuai dengan realita.

4. Beban perang bikin utang membengkak

ilustrasi korban perang (pexels.com/Ahmed akacha)
ilustrasi korban perang (pexels.com/Ahmed akacha)

Perang membutuhkan biaya yang sangat besar. Pemerintah biasanya harus meningkatkan pengeluaran secara signifikan, bahkan rata-rata mencapai sekitar 7% dari GDP setiap tahun di awal konflik. Sayangnya, kenaikan pajak saja gak cukup untuk menutup kebutuhan ini.

Akhirnya, pemerintah cenderung mencari cara lain untuk mengelola utang. Salah satunya dengan membiarkan inflasi naik atau menggunakan kebijakan tertentu yang berdampak ke obligasi. Dampak akhirnya tetap sama: investor obligasi harus menanggung sebagian beban tersebut.

5. Kebijakan pemerintah bisa menekan keuntungan obligasi

ilustrasi suku bunga
ilustrasi suku bunga (freepik.com/freepik)

Selain inflasi, ada faktor lain yang bikin obligasi makin tertekan, yaitu kebijakan yang dikenal sebagai financial repression. Dalam kondisi ini, pemerintah sengaja menahan suku bunga tetap rendah agar biaya utang gak melonjak. Contohnya pernah dilakukan oleh Federal Reserve saat Perang Dunia II. Bank sentral membatasi imbal hasil obligasi dan melakukan pembelian besar-besaran. Dampaknya, investor gak bisa mendapatkan return yang sebanding dengan inflasi yang terjadi.

6. Status “safe haven” ternyata gak selalu berlaku

ilustrasi investasi (unsplash.com/Austin Distel)
ilustrasi investasi (unsplash.com/Austin Distel)

Selama ini obligasi, terutama obligasi pemerintah, sering disebut sebagai safe haven. Artinya, aset ini dianggap aman saat kondisi ekonomi memburuk. Tapi riset sejarah menunjukkan bahwa label ini gak selalu akurat, terutama saat perang besar terjadi.

Dalam kondisi ekstrem seperti konflik global atau pandemi besar, obligasi justru kehilangan daya tahannya. Bahkan dalam “perang melawan pandemi”, investor obligasi juga mengalami kerugian besar. Fakta ini penting buat kamu pahami sebelum mengandalkan obligasi sebagai pelindung utama portofolio.

Melihat data selama 300 tahun, jelas bahwa obligasi bukan selalu pilihan aman seperti yang sering dipercaya. Perang, inflasi, dan kebijakan pemerintah bisa jadi kombinasi yang merugikan bagi investor. Kalau kamu ingin membangun portofolio yang kuat, penting untuk gak hanya bergantung pada satu jenis aset saja, ya.

Diversifikasi jadi kunci agar risiko bisa tersebar dengan lebih baik. Memahami sejarah juga bisa bantu kamu mengambil keputusan investasi yang lebih bijak. Jadi, sebelum merasa “aman” dengan obligasi, pastikan kamu sudah melihat gambaran besarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More