Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Saham yang Dihindari Warren Buffet, padahal Performanya Bikin Kaget
Warren Buffett (commons.wikimedia.org/USA International Trade Administration)
  • Warren Buffett membeli saham Alphabet sekitar US$4,3 miliar, tetapi Berkshire Hathaway tidak memiliki sejumlah saham berperforma kuat seperti Nvidia, Meta, Microsoft, Broadcom, dan AMD.
  • Tujuh saham yang tidak dimiliki Buffett mencakup Nvidia, Meta, Microsoft, SoFi, Walmart, PepsiCo, dan McDonald's; Walmart bahkan mengungguli Amazon dalam lima tahun terakhir.
  • Artikel menekankan investor perlu memahami fundamental, prospek pertumbuhan, valuasi, dan risiko perusahaan, alih-alih sekadar meniru atau menghindari saham berdasarkan portofolio Buffett.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Warren Buffett berhasil membangun kekayaan sekitar 153 miliar dolar AS melalui strategi investasi yang disiplin dan berorientasi jangka panjang. Karena itu, setiap langkah investasinya selalu menjadi perhatian investor di seluruh dunia.

Baru-baru ini, Buffett mengejutkan pasar setelah membeli saham Alphabet senilai sekitar 4,3 miliar dolar AS . Keputusan tersebut bahkan ikut mendorong saham induk Google naik lebih dari 10 persen dalam waktu kurang dari dua minggu.

Namun, ada hal menarik lainnya. Sejumlah saham dengan performa luar biasa justru tidak berada dalam portofolio Buffett. Ini menunjukkan bahwa investor tetap memiliki peluang untuk mengungguli Buffett jika mampu menemukan saham yang tepat—meski tentu saja hal tersebut tidak mudah.

1. Saham teknologi yang tidak dimiliki Buffett

Logo NVIDIA (nvidia.com)

Dikutip dari GoBankingRates, Nvidia, Meta Platforms, dan Microsoft menjadi beberapa contoh perusahaan teknologi besar yang tidak dimiliki Berkshire Hathaway.

Buffett dikenal sangat berhati-hati terhadap bisnis yang menurutnya belum benar-benar ia pahami. Prinsip tersebut membuatnya melewatkan sejumlah perusahaan teknologi yang kemudian mengalami pertumbuhan luar biasa, termasuk Nvidia, Broadcom, dan AMD.

Meta juga menjadi pengecualian yang menarik. Facebook dan Instagram terus menghasilkan pendapatan besar dari iklan digital dan menjadikan Meta salah satu pemain dominan di industri media sosial.

Sementara itu, Microsoft juga tidak masuk dalam portofolio Buffett. Hal ini cukup menarik mengingat hubungan persahabatan Buffett dengan pendiri Microsoft, Bill Gates. Namun, kedekatan tersebut ternyata tidak membuat Berkshire Hathaway berinvestasi di saham Microsoft.

2. Tujuh saham yang dihindari Warren Buffet

Logo McDonalds (mcdonalds.co.id)

Berikut beberapa saham yang justru mencatat performa menarik meskipun tidak berada dalam portofolio Buffett:

  • Nvidia (NVDA) — Pemimpin industri chip AI yang mengalami pertumbuhan pesat dan memiliki posisi kompetitif yang kuat.

  • Meta Platforms (META) — Pemilik Facebook dan Instagram yang terus menghasilkan pendapatan besar dari bisnis iklan digital.

  • Microsoft (MSFT) — Raksasa teknologi dengan bisnis cloud, software, dan AI yang terus berkembang.

  • SoFi Technologies (SOFI) — Perusahaan fintech dengan model bisnis yang menyerupai perbankan dan pertumbuhan saham yang signifikan.

  • Walmart (WMT) — Pernah menjadi bagian dari portofolio Buffett, tetapi Berkshire keluar sepenuhnya pada 2018. Menariknya, saham Walmart justru mengungguli Amazon dalam lima tahun terakhir.

  • PepsiCo (PEP) — Tidak dimiliki Buffett, kemungkinan karena Berkshire sudah memiliki posisi besar di Coca-Cola.

  • McDonald's (MCD) — Memiliki merek kuat, jaringan luas, margin tinggi, dan competitive moat, tetapi tetap tidak masuk portofolio Berkshire Hathaway.

3. Beberapa saham justru sesuai dengan gaya Buffett

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

Menariknya, tidak semua saham dalam daftar tersebut benar-benar jauh dari karakteristik investasi Buffett. SoFi Technologies, misalnya, merupakan perusahaan fintech yang menyediakan layanan pinjaman, investasi, dan perbankan digital. Model bisnisnya memiliki kemiripan dengan perbankan, sektor yang sudah sangat dikenal Buffett melalui investasinya di perusahaan seperti Bank of America dan Capital One.

Sementara itu, Walmart pernah menjadi salah satu saham Berkshire Hathaway. Buffett kemudian menjual seluruh kepemilikannya pada 2018, salah satunya karena semakin kuatnya dominasi Amazon di bisnis e-commerce.

Namun, keputusan tersebut ternyata tidak sepenuhnya menguntungkan jika melihat performa lima tahun terakhir. Saham Walmart justru mencatat kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan Amazon dalam periode tersebut.

PepsiCo juga menarik untuk diperhatikan. Buffett memiliki posisi besar di Coca-Cola sehingga kemungkinan tidak ingin terlalu banyak berinvestasi pada perusahaan yang berada di sektor serupa. Meski demikian, Berkshire tetap memiliki beberapa perusahaan keuangan yang saling bersaing, seperti Visa, Mastercard, dan American Express.

Sedangkan McDonald's memiliki sejumlah karakteristik yang biasanya disukai investor jangka panjang, seperti merek yang kuat, jaringan restoran yang luas, margin tinggi, dan competitive moat. Sahamnya telah naik lebih dari 40% dalam lima tahun terakhir, meskipun performanya masih kalah dibandingkan beberapa saham unggulan Buffett.

4. Pelajaran untuk investor

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Daftar ini menunjukkan bahwa bahkan investor legendaris seperti Warren Buffett pun tidak selalu berhasil menangkap setiap peluang besar di pasar saham.

Karena itu, investor tidak seharusnya sekadar meniru saham yang dibeli Buffett atau menganggap saham yang tidak dimilikinya sebagai investasi yang buruk. Buffett memiliki modal, strategi, toleransi risiko, dan horizon investasi yang berbeda dari kebanyakan investor ritel.

Pelajaran yang lebih penting adalah memahami bisnis di balik sebuah saham. Sebelum membeli, investor perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan, prospek pertumbuhan, valuasi, serta risiko yang mungkin dihadapi.

Pada akhirnya, tidak ada investor yang selalu benar. Bahkan Warren Buffett pun pernah melewatkan sejumlah perusahaan yang kemudian menghasilkan keuntungan besar. Bagi investor, kemampuan untuk melakukan riset sendiri dan mengambil keputusan berdasarkan alasan yang kuat jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti portofolio seorang investor terkenal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article