Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sikapi Investasi saat IHSG Lesu-Suku Bunga Naik, Pilih Instrumen Apa?
Ilustrasi investasi (IDN Times/Aditya Pratama)
  • IHSG tertekan aksi jual asing sejak awal 2026 dengan nilai jual bersih Rp71,7 triliun, diperparah sentimen negatif dari laporan MSCI dan kenaikan suku bunga BI sebesar 100 bps.
  • Perencana keuangan Andy Nugroho menyarankan deposito dan obligasi ritel sebagai pilihan aman di tengah kenaikan suku bunga, terutama bagi investor konservatif hingga moderat.
  • Untuk jangka panjang, Andy menilai strategi buy on weakness di pasar saham serta mempertahankan investasi emas tetap relevan karena potensi pemulihan harga dalam setahun ke depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih ditekan oleh aksi jual investor asing sejak awal 2026 hingga pekan lalu, terhitung Jumat, (26/6/2026). Sentimen negatif yang salah satunya dipicu laporan-laporan MSCI Inc. terkait asesmen atas pasar modal Indonesia membawa tekanan pada IHSG.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Senin, (29/6/2026), nilai jual bersih asing sejak awal 2026 atau secara year-to-date (YTD) mencapai Rp71,7 triliun.

Di sisi lain, bulan ini, Bank Indonesia (BI) melakukan langkah agresif, dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebanyak tiga kali, dengan total kenaikan 100 basis poin (bps). Di kondisi seperti ini, menurut Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho, instrumen investasi seperti deposito perbankan bisa menjadi pilihan.

“Contohnya deposito gitu kan karena suku bunganya lebih tinggi. Tapi memang ini lebih cocok buat orang-orang yang profil risikonya itu konservatif atau moderat lah gitu ya,” kata Andy kepada IDN Times, Senin (29/6/2026).

1. Surat utang pemerintah bisa jadi pilihan

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)

Andy juga menyarankan bagi investor dengan profil risiko agresif, melihat pelemahan di pasar modal, dia menyarankan alokasi investasinya ‘diparkir’ di deposito.

Di sisi lain, Andy juga menyarankan instrumen investasi obligasi ritel (ORI). Dia mengatakan, dengan suku bunga acuan naik, kupon atau imbal hasil yang diberikan ke investor akan naik.

“Walaupun (ORI) yang baru belum rilis, namun juga kemungkinan berikutnya rilis dengan imbal hasil yang menyesuaikan dengan suku bunga, dan itu menguntungkan dan aman dibandingkan instrumen yang risikonya lebih tinggi,” ucap Andy.

2. Tetap ke pasar modal bagi investasi jangka panjang

ilustrasi IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)

Andy mengatakan, bagi investor yang ingin tetap masuk ke pasar modal, dia menyarankan lakukan pembelian saat harga saham turun (buy on weakness)

“Untuk jangka panjang kemungkinan mereka bisa dapatkan sekarang dengan harga diskon, kan gitu. Diharapkan paling tidak balik setahun ke depan lah, itu harga kembali rilis,” kata Andy.

3. Investasi emas masih bisa dijadikan andalan

Ilustrasi Emas. (IDN Times/Aditya Pratama)

Andy juga menyoroti pelemahan harga emas belakangan ini. Menurutnya, emas merupakan instrumen investasi berisiko rendah (safe haven) yang baik untuk dipertahankan.

“Sekarang harganya turun, sudah beli emas, dan harganya turun ya. Mending ditahan saja, karena secara natural pergerakan harga emas itu kan kita baru dapat return untuk jangka menengah ke panjang. Misalnya paling cepat setahun ke depan kayak,” tutur Andy.

Editorial Team

Related Article