1 dari 5 Anak di AS Hidup dalam Kemiskinan, Tertinggi Keempat di OECD

- Data OECD 2023 mencatat 21,1 persen anak usia 0-17 tahun di AS hidup dalam kemiskinan relatif, menempatkan AS di urutan keempat tertinggi dari 32 negara.
- OECD menetapkan kemiskinan relatif bagi rumah tangga berpendapatan di bawah setengah median nasional; angka antarnegara menunjukkan posisi dalam distribusi pendapatan, bukan nominal pendapatan yang sama.
- Costa Rica mencatat tingkat tertinggi 29,6 persen, disusul Israel 23,2 persen dan Spanyol 21,5 persen; Finlandia terendah 4,6 persen, jauh di bawah AS.
Jakarta, IDN Times - Kemiskinan anak masih menjadi persoalan serius di sejumlah negara maju, termasuk Amerika Serikat (AS). Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar satu dari lima anak di AS hidup dalam kemiskinan. Angka tersebut bahkan menempatkan AS di posisi keempat tertinggi di antara negara-negara OECD dalam hal tingkat kemiskinan anak.
Kondisi ini cukup menarik perhatian karena AS sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kekayaan nasional yang tinggi. Lantas, bagaimana sebenarnya kondisi kemiskinan anak di AS jika dibandingkan dengan negara OECD lainnya? Berikut beberapa fakta yang perlu kamu ketahui.
1. AS berada di posisi keempat

ilustrasi anak kecil bermain dengan teman, bendera Amerika Serikat (pexels.com/RDNE Stock project) Berdasarkan data OECD Income Distribution Database, tingkat kemiskinan anak di AS mencapai 21,1 persen pada 2023. Artinya, sekitar satu dari lima anak berusia 0-17 tahun di AS tinggal dalam rumah tangga dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan. Angka tersebut membuat AS berada di posisi keempat dari 32 negara yang masuk dalam daftar. Posisi AS hanya sedikit lebih rendah dibandingkan Spanyol yang mencatat angka 21,5 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya kekayaan sebuah negara gak otomatis membuat seluruh anak terbebas dari kemiskinan. Dalam pengukuran OECD, kemiskinan dihitung berdasarkan posisi pendapatan rumah tangga dibandingkan dengan standar pendapatan di negara masing-masing. Jadi, sebuah keluarga bisa dikategorikan miskin apabila pendapatannya berada di bawah setengah median pendapatan rumah tangga nasional. Kamu perlu memahami hal ini supaya angka kemiskinan tersebut gak langsung disamakan dengan tingkat pendapatan absolut di negara lain.
2. Garis kemiskinan memakai ukuran relatif

ilustrasi anak kecil, anak perempuan, anak murung, unhappy, tidak bahagia, memandang, sedih, anak kecil sendirian (pexels.com/Jordane Maldaner) OECD menggunakan ukuran kemiskinan relatif untuk melihat kondisi anak di berbagai negara. Garis kemiskinan ditetapkan pada pendapatan di bawah setengah median pendapatan rumah tangga dari seluruh populasi. Dengan metode ini, ukuran kemiskinan menggambarkan seberapa jauh kondisi ekonomi sebuah rumah tangga dibandingkan dengan standar kehidupan umum di negara tersebut. Jadi, dua negara bisa memiliki persentase kemiskinan yang sama, tapi tingkat pendapatan keluarga yang masuk kategori miskin belum tentu sama.
Cara pengukuran ini juga membuat perbandingan antarnegara perlu dibaca secara hati-hati. Angka 21,1 persen di AS gak berarti semua anak tersebut hidup dengan jumlah uang yang sama seperti anak-anak miskin di negara lain. Data ini lebih menunjukkan posisi anak-anak dalam distribusi pendapatan di negaranya masing-masing. Dengan kata lain, kamu bisa melihatnya sebagai gambaran mengenai seberapa banyak anak yang berada di bagian bawah distribusi pendapatan nasional.
3. Negara dengan angka tertinggi mencapai 29,6 persen

ilustrasi Costa Rica, Kosta Rika (unsplash.com/Filiz Elaerts) AS memang berada di posisi atas, tapi bukan negara dengan tingkat kemiskinan anak tertinggi dalam daftar tersebut. Posisi pertama ditempati Costa Rica dengan tingkat kemiskinan anak mencapai 29,6 persen. Angka tersebut terpaut 8,5 poin persentase dari AS yang berada di angka 21,1 persen. Israel berada di posisi kedua dengan 23,2 persen, sedangkan Spanyol menempati posisi ketiga dengan 21,5 persen.
Di sisi lain, terdapat sejumlah negara OECD dengan tingkat kemiskinan anak yang jauh lebih rendah. Finlandia mencatat angka terendah, yakni hanya 4,6 persen, disusul Slovenia sebesar 6,2 persen, Irlandia 6,8 persen, dan Norwegia 6,9 persen. Perbedaan antara Costa Rica dan Finlandia bahkan lebih dari enam kali lipat. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengalaman anak dalam menghadapi kemiskinan bisa sangat berbeda tergantung pada kondisi ekonomi dan distribusi pendapatan di masing-masing negara.
4. Kekayaan negara gak selalu merata

ilustrasi Chicago, Amerika Serikat (unsplash.com/Documerica) Salah satu hal yang menarik dari data tersebut adalah posisi AS sebagai negara dengan kekayaan tinggi, tapi masih memiliki tingkat kemiskinan anak yang cukup besar. Sekitar 21,1 persen anak berada di rumah tangga dengan pendapatan di bawah setengah median nasional. Situasi ini menunjukkan bahwa ukuran kekayaan secara keseluruhan belum tentu menggambarkan kondisi ekonomi yang dirasakan setiap keluarga. Kamu bisa melihat adanya perbedaan antara seberapa kaya sebuah negara secara nasional dan bagaimana pendapatan tersebut tersebar di antara rumah tangga.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa kondisi kemiskinan rumah tangga gak seragam di seluruh AS. Tingkat kemiskinan dapat berbeda secara signifikan antara satu negara bagian dengan negara bagian lainnya. Artinya, pengalaman sebuah keluarga dalam menghadapi tekanan ekonomi bisa sangat bergantung pada lokasi tempat mereka tinggal. Karena itu, angka nasional 21,1 persen sebaiknya dipahami sebagai gambaran umum, bukan kondisi yang dialami seluruh anak AS dengan tingkat yang sama.
5. Finlandia jadi gambaran yang sangat berbeda

ilustrasi Finlandia, Eropa (pexels.com/Margo Evardson) Finlandia berada di posisi terbawah dalam daftar dengan tingkat kemiskinan anak hanya 4,6 persen. Angka ini menjadi yang paling rendah dibandingkan seluruh negara dalam pemeringkatan tersebut. Slovenia berada di angka 6,2 persen, sementara Irlandia dan Norwegia masing-masing mencatat 6,8 persen dan 6,9 persen. Bahkan, hanya 10 negara dalam daftar yang memiliki tingkat kemiskinan anak di bawah 9 persen.
Perbedaan tersebut membuat posisi AS terlihat cukup mencolok. Tingkat kemiskinan anak AS sebesar 21,1 persen lebih dari empat kali lipat angka Finlandia sebesar 4,6 persen. Namun, sekali lagi, perbandingan tersebut menggunakan ukuran kemiskinan relatif berdasarkan median pendapatan masing-masing negara. Jadi, angka tersebut terutama bisa membantumu memahami seberapa banyak anak yang berada dalam kelompok berpendapatan rendah di negaranya, bukan membandingkan nominal pendapatan keluarga miskin secara langsung.
Data OECD menunjukkan bahwa kemiskinan anak masih menjadi tantangan besar bahkan di negara dengan perekonomian kuat seperti AS. Dengan angka 21,1 persen, sekitar satu dari lima anak AS hidup dalam rumah tangga yang berada di bawah garis kemiskinan relatif. Posisi tersebut membuat AS menjadi negara dengan tingkat kemiskinan anak tertinggi keempat dalam daftar OECD, hanya sedikit di bawah Spanyol.
Di sisi lain, Finlandia dan beberapa negara Eropa Utara menunjukkan angka yang jauh lebih rendah. Buat kamu, data ini menjadi pengingat bahwa melihat kekayaan sebuah negara saja belum cukup untuk memahami kondisi kehidupan anak-anak di dalamnya.





















